Mohon tunggu...
Anjar Anastasia
Anjar Anastasia Mohon Tunggu... ...karena menulis adalah berbagi hidup...

Akun ini pengganti sementara dari akun lama di https://www.kompasiana.com/berajasenja# Kalau akun lama berhasil dibetulkan maka saya akan kembali ke akun lama tersebut

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Berapa Luas Area Bermainmu Nanti, Nak?

23 Juli 2019   16:58 Diperbarui: 27 Juli 2019   18:50 0 8 8 Mohon Tunggu...
Berapa Luas Area Bermainmu Nanti, Nak?
Dokumen pribadi


Halaman sebelah rumah kami terkenal luas sekali. Pohon yang ditanam pun beragam dan kebanyakan adalah pohon tinggi besar, baik yang bisa menghasilkan buah atau pun hanya sebagai tanaman hias. Kami, anak-anak tetangga dari yang punya rumah sangat senang jika bisa bermain di sana. 

Kebetulan yang punya rumah juga tidak masalah halamannya bisa mendadak terisi anak-anak kecil yang bermain di sana. Malah seringnya, anak yang punya rumah ikutan main. Paling ketika jelang magrib atau memang saatnya kami harus pulang, pasti Tante dan Om yang punya rumah akan mengingatkan.

Di halaman yang luas itu, kami bisa bermain macam-macam selain berlarian ke mana-mana sampai keringetan. Kami bisa main petak umpet, lompat tali dari karet gelang, kelereng, pasar-pasaran, naga-nagaan (ular naga), cublak-cublak suweng, orang kaya orang miskin, gobak sodor, taplak dan lain-lain.

Khusus taplak, ini adalah permainan favorit saya. Selain sehat, sebab melompat-lompat dengan satu kaki, juga harus punya strategi agar bisa sampai ke puncak kotak dan naik tingkat dengan tetap. Kadangkala main permainan ini harus mengukur juga kesanggupan langkah kaki meloncat sebab di zaman saya membuat kotaknya tidak memakai ukuran. Kira-kira saja.

Ilustrasi dari teras.id 
Ilustrasi dari teras.id 
Di tempat lain, permainan taplak punya nama lain, seperti tapak gunung atau engklek. Cara mainnya sama. Media dan alatnya juga sama. Seiring waktu, bidang mainnya pun berkembang dengan menggunakan "sayap". Tidak hanya kotak lurus berjumlah tertentu.

Batu genteng yang semula dilempar ke kotak demi kotak sampai kotak terakhir pun bisa divariasikan dengan ditaruh di tapak tangan sambal digoyang-goyangkan lalu kita melompati kotak-kotak itu lagi. Jika genting jatuh atau tanpa sengaja satu kaki turun, harus mengulang lagi lagi awal.

Hanya dengan bermain begini saja, rasanya menyenangkan sekali. Persaingan yang ada bukan sekadar buat mengalahkan, tetapi juga menjadikan kita bisa berpikir lebih buat menjalankan strategi.

Main adalah Dunia Masa Kecilku

Permainan sederhana seperti taplak itu memang permainan yang bisa dibilang mudah didapat dan dimainkan. Semua anak bisa bermain kapan dan di mana saja. Anak-anak di masa itu rasanya sangat kenal dengan permainan sederhana, kebanyakan di luar ruangan tersebut. Generasi kami, anak-anak yang senang dengan segala permainan sederhana tadi, adalah generasi yang membiarkan masa kecil dengan tawa dan canda di setiap permainan yang sedang kami mainkan.

Bisa saja, dalam permainan itu tidak sekali dua kami selalu senang gembira. Ada kalanya persaingan membuat kami jadi tanpa sengaja menjadi ada yang tersakiti. Bahkan ada juga yang bertitel si troublemaker sebab selalu saja senangnya rusuh menggangu permainan asyik kami hinga mungkin jadi ada tangis di antara tawa canda itu. Tetapi, itu tak lama. Persahabatan dan kedekatan kami menjadikan kami bisa saling memaafkan dan mau bermain lagi.

Bila melihat kondisi ini, boleh lah jika kami disebut generasi yang saat kecil bisa bebas tertawa bersama di tempat nan luas. Ada banyak hal yang menjadikan hari-hari kami bisa tertawa lepas. Tawa yang mungkin di saat dewasa amat terbatas sebab kepadatan waktu dan segala hal seiring masa.

Lalu, bagaimana dengan anak sekarang? Apakah mereka juga bisa tertawa bebas?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2