Mohon tunggu...
Reni Soengkunie
Reni Soengkunie Mohon Tunggu... Suka membaca buku sambil gelokeran di kasur

Suka mainan sama kucheng

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Semakin Tua, Semakin Sedikit Pula Teman yang Kita Punya

22 Juli 2019   09:35 Diperbarui: 22 Juli 2019   09:46 0 5 4 Mohon Tunggu...
Semakin Tua, Semakin Sedikit Pula Teman yang Kita Punya
Dokpri

Saat masih anak-anak dulu, kita cenderung memiliki banyak sekali teman. Entah itu di sekolah, tempat ngaji, tempat les, atau lingkungan rumah, kita akan sangat mudah mengikat sebuah pertemanan. 

Pemikiran anak-anak itu sangat sederhana, siapa pun yang mau bermain dengannya maka akan menjadi temannya. Mereka begitu polos dan tak pernah memiliki pikiran buruk pada orang baru.

Ah, betapa menyenangkannya yah menjadi anak-anak. Berteman tanpa perlu takut kalau temannya itu akan melukai atau akan berkhianat padanya. Anak-anak itu tak seperti orang dewasa, mereka sangat mudah memaafkan dan tidak memiliki sifat pendendam.

 Saat mereka menangis dan marah karena ulah temannya, maka hal itu tak akan lama berlangsung. Karena bisa dipastikan, hari berikutnya mereka akan kembali bermain bersama.

Hal itu tentu jauh berbeda jika terjadi saat kita sudah dewasa. Saat kita dibuat menangis dan terluka oleh seseorang, maka bukan hal yang mustahil jika kita kadang masih menyimpan dendam kesumat bahkan hingga ribuan abad lamanya. Sederhananya, orang dewasa itu selalu berpikiran, "Tidak akan mungkin semudah itu aku lupakan semua kesalahannmu!"

Memasuki dunia remaja, pertemanan itu bisa dikatakan sebagai sebuah ajang pencarian jati diri. Dengan siapa kita berteman, itu akan memperlihatkan seperti apa diri kita. 

Jika berteman dengan anak-anak populer di sekolah, jelas kita akan ikut-ikutan populer. Jika kita berteman dengan geng motor, maka otomatis kita juga termasuk dalam komunitas geng motor. 

Oleh karenanya, dimensi masa remaja itu kadang mengharuskan kita membuka koneksi seluas-luasnya dalam pertemanan. Dari satu teman ke teman lainnya kita akan mulai belajar banyak hal dan pengalaman.

 Namun bukan hal yang aneh juga, kalau banyak anak remaja yang salah pergaulan. Mereka cenderung pemberani dalam mengambil keputusan, tapi pernah berpikir masak akan konsekuensinya nanti.

Jiwa muda mereka menuntut untuk bereksplorasi tentang dunia luar. Rasa penasaran mereka kadang membuat mereka ingin mengenal teman yang mampu mengajaknya ke dunia yang baru. 

Mereka cenderung akan bosan jika hanya memiliki teman yang itu-itu saja. Dunia mereka itu sedang berwarna-berwarnanya, sehingga teman-teman yang abu-abu bin membosankan, akan dengan mudah tersingkirkan dalam hidupnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2