Mohon tunggu...
AR Renhoran
AR Renhoran Mohon Tunggu... Kita Belajar Karena Kita Manusia

Penulis, Akademisi dan Pencuri Hati

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Perempuan Perahu | Bagian 1

19 Mei 2020   04:29 Diperbarui: 28 Mei 2020   17:06 280 11 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Perempuan Perahu | Bagian 1
dokumentasi pribadi

PAGI hari saat angin barat baru memasuki Desa Baturaja, Benaya terbangun dari tidurnya setelah mencium aroma yang menyengat dari luar rumah. 

Dengan tergesa-gesa ia turun dari tempat tidur, bergegas keluar tanpa alas kaki, mencari dari mana datangnya bau busuk yang hampir merusak indera penciuman itu. 

Betapa terkejutnya Benaya saat melihat tumpukan sampah serta bangkai ikan menjulang tinggi di depan rumahnya. Seekor anjing kecil berlari menghampiri Benaya sambil menjulurkan lidah dan mengibas-ngibaskan ekornya, mereka kemudian duduk di bawah Pohon Masoya yang rindang. Mata mereka tertuju pada gundukkan sampah itu dengan rasa bercampur aduk. 

Benaya memilih untuk tetap diam sembari menahan amarah yang hampir tiap pagi ia tampakkan.

Yang jelas, pertanyaannya bukanlah siapa pelaku di balik peristiwa terkutuk itu, melainkan bagaimana cara meminta pertolongan, agar mereka bisa mengakhiri nasib buruk yang terus saja dijalani berulang kali setiap hari. Bagi Benaya, orang-orang hanya datang untuk berbagi tawa, sedikit dari mereka yang mau datang untuk menangis bersama. 

Hari ini, tumpukkan sampah itu adalah terbanyak yang pernah dibuang ke rumahnya. Para tetangga berduyun-duyun menuju ke halaman rumah Benaya untuk menyaksikan pemandangan tak biasa itu, setelah seorang anak nelayan mengabarkan kepada mereka. 

Semakin siang, halaman rumah Benaya semakin dipadati warga, seperti sedang menyaksikan pertunjukan sabung ayam di pasar. Seru sekali nampaknya.

Ada yang datang dengan membawa periuk entah untuk apa, ada yang menggendong anak dan bahkan ada yang datang bertelanjang dada, membawa kail sambil menggotong jala. 

Meski terik matahari jatuh menimpa kepala mereka dengan keras, orang-orang itu masih antusias berdiri, melihat sosok Benaya dan anjing kecilnya. 

Tangan mereka direkatkan di hidung dan mulut, mencoba berlindung dari bau sampah, sambil berbisik membicarakan anak perempuan itu. Warga berkumpul dalam kelompok masing-masing. 

Para perempuan paruh baya mengambil bagian paling depan dan tentu saja gadis-gadis remaja berdiri di belakang. Sementara itu, para lelaki, tua dan muda berbaur, mengintip dari balik rerimbun alang-alang dan bunga Begonia. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x