Mohon tunggu...
Frater Milenial (ReSuPaG)
Frater Milenial (ReSuPaG) Mohon Tunggu... Lainnya - Seseorang yang suka belajar tentang berbagai hal
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Jika Anda tidak mampu mengerjakan hal-hal besar, kerjakanlah hal-hal kecil dengan cara yang besar (Napoleon Hill)

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud Pilihan

Keselamatan Allah dalam Diri Yesus Kristus Menurut Edwar Schillebeeckx

20 November 2020   10:17 Diperbarui: 20 November 2020   10:33 6642
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Yesus Sang Penyelamat (Sumber gambar: melodyjessop on Pinterest)

Rencana keselamatan Allah bagi manusia sudah dimulai sejak awal penciptaan. Namun rencana tersebut mencapai kepenuhannya dalam diri Yesus Kristus, Putera Allah yang menjadi manusia. Berkat wafat-Nya di salib, Kristus menyelesaikan karya penyelamatan Allah bagi manusia. Wafat Yesus di salib merupakan penebusan bagi semua orang. Dialah Putera Allah dan Pribadi Manusia yang utuh dan sempurna yang hadir secara nyata dalam realitas historis dan pengalaman manusia.

Penebusan Kristus merupakan anugerah Roh Kudus yang menuntut kerja sama dari manusia demi keselamatan manusia sendiri. Peristiwa inkarnasi Kristus merupakan tindakan Allah untuk keselamatan kepada manusia. Keselamatan itu tidak hanya dianugerahkan kepada orang yang secara eksplisit menjadi anggota Gereja, tetapi keselamatan itu ditawarkan kepada semua orang.

1.  Yesus Kristus sebagai Pewahyuan Diri Allah

Agama Kristiani hidup dari keyakinan iman bahwa Allah secara istimewa mewahyukan diri-Nya dalam Yesus Kristus. Isi dan wujud dari puncak pewahyuan diri Allah itu adalah Yesus Kristus merupakan "cerita Allah" bagi manusia. Schillebeeckx merekonstruksi isi dan wujud pewahyuan Allah dalam diri Yesus Kristus dan hal ihwal tentang Dia dalam peristiwa Yesus Kristus, terutama diri pribadi Yesus Kristus, hidup dan karya pewartaan (baik melalui perkataan maupun perbuatan), wafat dan kebangkitan serta kemuliaan-Nya untuk menegaskan bahwa Dia sungguh Allah dan sungguh manusia.

Selama Yesus hidup di dunia dan dalam menjalankan misi pewartaan-Nya tampak makna kasih universal dan tanpa syarat dari Allah sendiri kepada manusia. Kenyataan ini disampaikan dalam bentuk perumpamaan dan sabda bahagia tentang datangnya Kerajaan Allah.

Kabar gembira yang diwartakan ini diwujudkan dalam praktik hidup Yesus sendiri: "Dalam mukjizat-mukjizat yang Ia kerjakan, dalam sikap kasih-Nya kepada para pemungut bea cukai dan pendosa, dalam tawaran-Nya kepada para pengikut-Nya untuk turut serta dalam perjamuan bersama, dalam sikap-Nya terhadap hukum, terhadap Sabat, terhadap Bait Allah, serta dalam hidup bersama dengan murid-murid-Nya". Atas dasar hubungan yang sangat erat dengan Allah Bapa, Yesus menyatakan bahwa terdapat kaitan yang sangat erat dan tidak terpisahkan antara diri dan hidup-Nya. Dengan perwujudan dan kedatangan Kerajaan Allah, dalam diri dan hidup-Nya Allah sendiri bertindak, Allah sendiri hadir.

Berkaitan dengan pengalaman penderitaan dan wafat-Nya, secara teologis penting untuk membedakan: apakah Yesus Kristus menghayati pengalaman tersebut semata-mata sebagai nasib dan kegagalan atau apakah Ia menghayatinya dalam penyerahan diri yang bebas dalam iman akan kesetiaan Allah dan masa depan yang akan dianugerahkan-Nya. "Karena seandainya Yesus menghayati penderitaan dan wafat-Nya sebagai nasib dan kegagalan karya-Nya, maka peristiwa wafat itu mungkin masih menjadi alasan bagi tindakan pewahyuan baru dari Allah dan kekuasaan-Nya. Tetapi peristiwa wafat itu sendiri tidak dapat dipahami lagi sebagai peristiwa keselamatan dan ungkapan kasih Allah kepada manusia".

Dengan membangkitkan Yesus, Allah mengoreksi apa yang diperbuat manusia terhadap Yesus. Yesus Kristus, dalam pewartaan dan praksis hidup-Nya dinyatakan benar oleh Allah. Dengan demikian, Allah menganugerahkan masa depan kepada Yesus Kristus sebagai nabi eskatologis. Dengan kehadiran Yesus di dunia ini, Allah telah mewahyukan diri sebagai "Deus Humanissimus" (Allah adalah Kasih tanpa syarat yang membebaskan).

Peristiwa pewahyuan dalam diri dan hidup Yesus Kristus sekaligus merupakan peristiwa keselamatan bagi manusia. Tanpa mengabaikan peran sentral peristiwa penderitaan dan wafat Yesus Kristus, paham tradisional tentang keselamatan yang hanya membatasi diri pada peristiwa salib ditolak. Peristiwa salib itu harus dilihat dalam kaitannya dengan keseluruhan peristiwa Yesus Kristus. 

"Tanpa pewartaan Yesus maka tidak terwahyukan bagi kita bahwa Allah adalah kasih yang tak bersyarat dan hadir bagi manusia. Tanpa kesediaan Yesus menjalani kematian, tidak terwahyukan bagi kita kesungguhan dan tekad tak terbatalkan dari Kasih itu. Tanpa kebangkitan Yesus, tidak terwahyukan bagi kita kesetiaan unggul Allah dan kuasa-Nya yang mengatasi kematian". Oleh karena itu, makna terpenting dari peristiwa Yesus Kristus adalah pewahyuan Diri Allah sendiri yang adalah Cinta Kasih kepada manusia, demi keselamatan manusia dan seluruh ciptaan. Maka, pewahyuan diri Allah dalam Yesus Kristus berkat Roh Kudus sebagai Kasih merupakan kebenaran dasar iman Kristiani.

1.1  Yesus Kristus sebagai Immanuel

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun