Mohon tunggu...
Rendra Prihandono
Rendra Prihandono Mohon Tunggu...

Mantan guru Sekolah Ciputra Surabaya, Kepala SMP YPPI 2 dan SD YPPI-1 Surabaya, dan kini menjadi litbang Kurikulum & SDM di Peek A Boo & Vision School Sidoarjo. Rendra juga adalah Pembicara Publik, Motivator dan Konsultan Pendidikan.\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Implementasi Differentiation dengan Strategi Project-Based Learning

27 Februari 2012   03:17 Diperbarui: 25 Juni 2015   08:57 289 0 0 Mohon Tunggu...

Social Studies atau IPS adalah pelajaran yang membosankan bagi sebagian besar murid di sekolah. Imejnya, pelajaran ini penuh dengan hafalan fakta. Padahal, IPS adalah pelajaran yang sangat menarik. Sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari. Dari IPS ini, siswa bisa banyak belajar hal-hal yang terkait langsung dengan kehidupan nyata, sekaligus belajar berpikir kritis dan kreatif. Untuk menghindari kebosanan, serta lebih menghargai proses belajar individu (differentiation), maka saya mengambil strategi belajar berbasis proyek (project-based learning) ketika mengulas topik “House” atau “Rumah”.

Tujuan belajar topik ini adalah memperkenalkan ide fungsi rumah kepada anak-anak kelas 3. Fungsi rumah sangat spesifik terkait dengan budaya masyarakatnya. Bahwa rumah secara struktur sangat berbeda karena fungsi yang diembannya berbeda pula secara kultural. Inilah yang kemudian memberi saya ide memperkenalkan mereka dengan rumah tradisional Indonesia. Tapi saya tidak mau menyuapi mereka dengan jenis-jenis rumah tradisional Indonesia untuk dihafal. Saya ingin mereka secara individual mengenal berbagai ragam rumah tradisional itu. Tidak masalah mereka tidak hafal semua rumah itu. Yang penting mereka kenal dan berusaha menggali sejauh mungkin informasi mengenai rumah tradisional Indonesia, serta percaya diri untuk menceritakannya kembali. Konsep belajar yang memberikan ruang kepada pembelajar untuk mengikat makna sejauh ia mampu ini namanya Differentiation, dan menurut saya, strategi belajar yang memungkinkan itu adalah project-based learning.

Proyek belajar ini diawali dengan Brainstorming tentang apa fungsi rumah dan kegiatan apa yang bisa dilakukan orang di dalam rumah. Dari brainstorming ini saya sebagai guru bisa tahu pengetahuan apa yang sudah anak punya tentang rumah, sekaligus melalui diskusi di kelas anak bisa mendapatkan pengetahuan baru langsung dari teman-temannya (buka dari saya!) tentang rumah.

Setelah itu saya lanjut dengan diskusi tentang jenis-jenis rumah yang mereka tahu di sekitar hidup mereka. Saya mencoba membandingkan jenis-jenis rumah di Surabaya dan Singapura (karena sekolah saya orientasi lulusannya nanti ke Singapura). Setelah itu, dilanjutkan dengan menganalisa secara singkat kelemahan dan kelebihan masing-masing jenis rumah, sesuai konteks kondisinya di Surabaya atau Singapura.

Setelah anak mendapatkan pengetahuan dasar tersebut di atas, mereka mulai membuat proyek tentang rumah tradisional Indonesia. Pengerjaan proyek ini memang dilakukan di rumah, dengan ekspektasi adanya bantuan orang tua, baik dalam pengerjaan produk ataupun pencarian informasi. Anak diharapkan hanya mau belajar mengetahui informasi untuk nantinya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan dalam sebuah interview.

Di sinilah intinya Differensiasi itu terjadi. Dalam hal ini proses differensiasi yang terjadi adalah  Differentiation in Product, ataupembedaan dalam produk penilaian. Para siswa diberikan pilihan rumah tradisional yang akan mereka buat miniaturnya. Mereka bebas memilih dengan tujuan agar mereka lebih termotivasi mengerjakan proyeknya, karena rasa memiliki yang lebih besar. Inilah yang disebut Differentiation by Interest.

Sejak awal memang saya mendesain untuk tidak terlalu menilai bagus-tidaknya produk jadi karena adanya keterlibatan orang lain dalam pembuatan proyek tersebut. Penekanannya lebih kepada mencari tahu seberapa jauh anak berhasil mengetahui informasi terkait rumah miniatur yang menjadi pilihan proyeknya. Jadi, sejak awal memang saya tidak mengharapkan semua anak didik saya keluar dengan isi kepala yang sama, walaupun kerangka interviewnya seragam, yaitu:

a. Apa nama rumah yang mereka pilih?

b.Siapa kaum yang tinggal di rumah itu.

c. Di mana rumah ini secara tradisi berada.

d. Kegiatan apa yang dilakukan orang-orang yang tinggal di dalamnya.

e. Bagaimana rumah itu dibuat (rumah miniatur itu dibuat).

Waktu pengerjaan proyek di rumah adalah seminggu, dengan pemberian dasar serta proses brainstorming sekitar 2 minggu. Pada jadwal yang ditentukan para siswa mengumpulkan rumah miniaturnya, dan menjalani interview secara bergiliran. Dan seperti yang saya duga, interview tersebut memunculkan respons yang beragam dan kadang lucu-lucu. Ada siswa yang protes karena merasa waktu yang saya berikan untuk interview terlalu singkat, karena ia merasa masih bisa memaparkan lebih banyak lagi informasi terkait rumah miniaturnya. Ada juga yang hampir tidak bisa menjelaskan apa-apa dan akhirnya mengaku bahwa mamanya yang 99% merancang serta membuat rumah miniature itu, sedang ia sendiri hampir tidak melakukan apa-apa. Ini membuat spektrum hasil assessment menjadi sangat variatif dan beragam, walaupun rubrik penilaiannya sangat simpel.

Yang menjadi penekanan di sini adalah mindset dan asumsi guru, dalam hal ini saya, sejak awal untuk tidak mengasumsikan ekspektasi yang sama dari para siswa. Sejak awal, saya berharap para siswa itu secara individu merekonstruksi pemahamannya sendiri tentang topik “House” tersebut. Saya hanya berusaha menjaga agar koridor belajar kami masih dalam batasan topik “House”. Saya berusaha membangun kompetensi yang sama, namun tidak secara spesifik seragam. Inilah saya kira pemahaman saya tentang pelaksanaan konsep Differensiasi dalam pembelajaran di sekolah. Berikutnya, saya akan memaparkan apa yang saya lakukan dengan kelas 4 di Merlion Primary, masih dalam mata pelajaran Social Studies.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x