Mohon tunggu...
Rendi YopiTrifando
Rendi YopiTrifando Mohon Tunggu... Mahasiswa Perguruan Tinggi di Yogyakarta

Sedang Menempuh S1 Jurusan Biologi

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Masker sebagai Amunisi untuk Menghadapi Era New Normal

14 Juli 2020   13:14 Diperbarui: 14 Juli 2020   13:16 3 1 0 Mohon Tunggu...

Pada dasarnya setiap orang bisa tertular Covid-19. Menurut World Health Organization (2020), Covid-19 merupakan penyakit menular yang menyerang saluran pernapasan, disebabkan oleh virus yang gejalanya mulai dari flu biasa hingga menjadi penyakit yang lebih parah seperti MERS dan SARS. Gejala yang muncul yaitu flu, demam, batuk kering, sesak napas, diare, kesulitan saat bernapas, dan sakit tenggorokan.

Karena penyakit ini bisa menyebar lewat cairan saat seseorang batuk atau bersin. Selain itu virus ini mampu menyebar ketika kita bersalaman dengan orang lain, dan ketika berada di kerumunan banyak orang.

Faktor lainnya adalah tidak mencuci tangan saat berada di luar rumah, kemudian kebiasaan menyentuh area wajah terutama pada mulut, mata, dan hidung. Karena virus ini bisa masuk ke dalam tubuh lewat jaringa mukosa yang berada di ketiga area wajah tersebut.

Kelompok yang beresiko dan lebih rentan terjangkit penyakit ini adalah para tenaga medis baik dokter, perawat, maupun relawan yang bekerja membantu pasien. Hal ini karena setiap hari para tenaga medis bersosialisasi dan berada dekat dengan pasien sehingga tidak menutup kemungkinan para tenaga medis ini juga ikut tertular Covid-19.

Kelompok berikutnya yang berisiko terjangkit Covid-19 adalah orang yang berusia lanjut (lansia) dan orang dengan riwayat medis sebelumnya seperti penyakit kardiovaskular, diabetes, penyakit pernapasan kronis, tekanan darah tinggi, masalah jantung, penyakit hati, gagal ginjal, dan kanker. Selain itu rendahnya sistem imum pada lansia ikut menjadi faktor penting mengapa lansia rentan dan berisiko tertular penyakit Covid-19. 

Sistem imun kita dapat menurun selain karena faktor umur juga bisa disebabkan oleh faktor lain, seperti riwayat penyakit tertentu, merokok, defisiensi imun, transplantasi organ, dan penggunaan kortikosteroid yang berkepanjangan dan obat-obatan penurun kekebalan tubuh lainnya (Centers for Disease Control and Prevention, 2020).

Era "New Normal" merupakan situasi masyarakat di dunia yang mengadaptasi cara baru untuk menjalani kehidupan, pekerjaan, pendidikan, dan interaksi dengan orang lain. Perlu diingat bahwa manusia mungkin harus hidup dalam "New Normal" untuk waktu yang cukup lama.

Banyak penyakit yang disebabkan oleh virus belum memiliki obat hingga saat ini. Sementara vaksin yang ditemukan hanya untuk beberapa penyakit saja. Penyakit HIV dan Ebola merupakan salah contohnya. Ebola yang pertama kali dilaporkan pada tahun 1976 di Sungai Ebola yang berada di Democratic Republic of Congo hingga saat ini belum ditemukan obatnya.

Vaksin untuk Ebola Virus Disease (EVD) dikenal sebagai rVSV-ZEBOV (nama dagang "Ervebo") untuk mencegah EVD. Gejala penyakit EVD diobati saat pertama muncul dan bertujuan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh pasien. Vaksin tidak mengobati penyakit EVD namun berperan untuk meningkatkan sistem kekebalan imun sehingga mampu melawan infeksi virus.

Untuk saat ini kita harus beradaptasi dengan "New Normal" yang akan terus berubah dan berkembang dengan cepat. Beberapa protokol akan diterapkan dan diawasi dengan ketat untuk mencegah penyebaran virus di kehidupan sehari-hari. Kita akan melihat setiap orang menggunakan masker saat berada di luar, sekolah akan mengurangi pertemuan dengan tatap muka untuk mengurangi risiko dengan melakukan pembelajaran secara online sebagai alternatif terbaik.

Kita mungkin lebih sering memasak makanan di rumah atau melakukan pemesanan makanan secara online, bisnis pemesanan makanan online, belanja online akan berkembang dengan pesat, pemeriksaan suhu dan jaga jarak dengan orang lain sekitar 2 meter akan diterapkan di mana-mana, dan lain-lain.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN