Mohon tunggu...
Rendi Septian
Rendi Septian Mohon Tunggu... Guru - Founder Bimbel The Simbi

Seorang pengajar yang ingin berbagi ilmu, kisah dan pengalaman

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Prediksi, Antara Ilmu, Pengalaman, dan Mental

25 Juni 2022   08:26 Diperbarui: 25 Juni 2022   08:33 191 1 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Filsafat. Sumber ilustrasi: PEXELS/Wirestock

Ada premis yang menyatakan bahwa pikiran (prasangka) akan menarik semua hal dalam kehidupan nyata. Kita selalu senang memprediksi atau bisa jadi tidak bisa lepas dari memprediksi. Mengapa demikian? Karena ini menjadi ciri bahwa manusia diberikan atau dibekali akal. Salah satu kemampuan akal yang luar biasa adalah memprediksi. 

Apa yang belum terjadi adalah misteri yang akan segera ditemukan jawabannya setelah hal itu benar benar terjadi. Seperti peristiwa awan mendung. Secara umum manusia akan memprediksi bahwa hari itu akan turun hujan. Lalu, apakah kejadian hujan itu pasti terjadi? Belum tentu. Namun, peluang turun hujan akan lebih besar daripada kembali cerah. 

Seperti besok akan melakukan apa, ada agenda kemana saja, bertemu siapa saja yang semuanya itu belum terjadi karena hari masih gelap. Apakah semua yang direncanakan akan terjadi ? Jawabannya belum tentu. Akan tetapi peluang terjadinya semua agenda itu menjadi lebih besar. 

Maka apakah lintasan hati atau pikiran berpengaruh dalam suatu kejadian ? Dalam menyikapi hal ini kita mesti memandang bahwa manusia dengan segala kemampuan berfikir nya mampu mengenali seberapa besar potensi dan kelemahan yang ada pada dirinya. Sehingga secara otomatis otak akan merespons sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya. Seperti seorang olahragawan atau atlet diminta untuk menjadi chef dalam acara memasak, maka sudah pasti akalnya akan berkata "impossible" meski memasak masakan paling sederhana sekalipun. Nah, bagaimana jika yang meminta nya adalah sang pacar, sanggupkah ia mengatakan tidak? Dari sini lah awal mula penghianatan diri terhadap akal. 

Seperti dalam banyak kejadian, meski akal nya berkata tidak, namun ada dorongan lain sehingga memutuskan mengatakan ya. Mampukah dorongan lain itu menyebabkan keberhasilan? 

Terkadang justru itu yang membuat seseorang menemukan bakatnya. Meski prediksinya menyatakan gagal, akan tetapi karena keadaan ia mesti survive, alhasil dikemudian hari ia menemukan kesuksesan. Artinya, prediksi yang dibuat otak terjadi alami dan dalam proses yang singkat atau spontan. 

Kesan pertama ini muncul karena otak menangkap sesuatu yang baru. Maka dari itu sebagai bentuk pertahanan diri, ia mengatakan tidak. Oleh karenanya kita mesti dalam keadaan wajar dalam menerima prasangka dalam pikiran. Karena prasangka akan benar benar terbukti manakala terjadi. Kasus yang umum dijumpai adalah rasa percaya dua tim yang sedang bertanding. Dua duanya memiliki keyakinan menjadi pemenang. Dalam permainan apapun akan selalu ada tiga kondisi. Pertama adalah menjadi pemenang, kedua sama kuat dan yang terakhir menjadi tim yang kalah. Mengapa tim A menang sedang B kalah ? Bukankah dua duanya memiliki prediksi (keyakinan) menang ? 

Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita gunakan lagi kemampuan otak yang lain, yaitu memilih. Apapun fakta yang ada di depan hidung kita, baik itu fakta menyenangkan ataupun fakta menyedihkan, otak punya mekanisme memilih antara mengiyakan atau mentidak kan. Bisa jadi apa yang di depan kita itu suatu kerugian dalam pandangan orang lain, akan tetapi keuntungan bagi kita. Otak merespons alami untuk bersedih, akan tetapi otak itu pula yang menahan kesedihan dengan diganti kesabaran. Artinya memilih bersedih yang sebentar untuk mendapatkan segera kebahagiaan. Nah apa yang dimaksud dengan hati hati terhadap pikiran itu adalah kita segera mengiyakan apapun prediksi akal meskipun ada waktu untuk setidaknya mempersiapkan diri melakukan hal yang benar benar baru. 

Seperti ungkapan kalah sebelum bertanding itu karena melihat rival lebih superior. Belum mencoba mana tahu akan gagal ? Bagaimana cara memastikan bola basket itu masuk dalam keranjang ? Ya lempar ! 

Kita tidak bisa memastikan prediksi kita jika hanya dalam pikiran. Maka dari itu tindakan nyata lah yang memperbesar peluang prediksi kita berhasil. Setiap pertanyaan yang muncul baik itu keberhasilan ataupun  kegagalan, kita tahu persis apa yang menjadi penyebab nya. Namun karena keterbatasan ilmu, pengalaman dan faktor lainnya, kita menemukan keterputus asaan. Poin nya adalah ilmu, pengalaman dan faktor lainnya itu serta aksi lah yang akan membuat kejadian atas prediksi kita terwujud. 

Adakalanya kita hanya mempersiapkan untuk kemenangan, jarang mempersiapkan untuk kegagalan. Padahal dua duanya berpeluang terjadi. Jika untuk mempersiapkan kemenangan diperlukan langkah langkah yang ter struktur hingga mungkin sangat detail, mengapa untuk menyambut peluang satu lagi bahkan kita tidak pernah mempersiapkan ? Lho bukan kah kita dilarang pesimis? Dilarang menyatakan kalah sebelum berperang ? Lalu apa yang dimaksud mempersiapkan kekalahan atau kegagalan? Maksud nya adalah kita mempersiapkan segala kemungkinan ketika kita gagal maka langkah apa yang mesti diambil kemudian. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan