Wisata Pilihan

Napak Tilas Kota Malang dan Gunung Bromo

12 Juni 2018   13:57 Diperbarui: 12 Juni 2018   14:45 455 1 1
Napak Tilas Kota Malang dan Gunung Bromo
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Senang sekali bisa napak tilas ke Kota Malang dan Bromo di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Malang, kota pariwisata dengan banyak objek wisata lama yang tetap bertahan dan dikembangkan. Ditambah  objek wisata yang baru muncul dengan kreatifitas seni.  

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Rabu, 09 Mei 2018, penerbangan pertama dari Bandara Soekarno Hatta di Banten, mendarat di Bandara Abdul Rachman Saleh di Malang. Saya dan Dewi menunggu Farah dan Jimmy yang berbeda pesawat. Perut mulai lapar, tetapi menurut  Noki, sahabat kami di malang, tanggung kalau makan di sekitar komplek bandara, karena acara  kami selanjutnya adalah    "menyerang" beberapa tempat kuliner hahaha. Pak Ninu dan mobil yang kami sewa menjemput kami dan  siap mengantar ke tujuan yang direncanakan.

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Waktu kami terbatas hanya  sehari ini. Malam hari kami akan  ke Bromo. Seharian ini  kami  jalan-jalan santai yang tidak terlalu membuat lelah. Kenyang berwisata kuliner  dan bersyukur bisa sekalian  wisata rohani.

Kampung Warna-warni/Kampung Tridi Jodipan di Kelurahan Jodipan, Kecamatan Blimbing

Lapar harus ditahan karena tujuan terdekat dari bandara adalah Kampung Jodipan. Pemukiman padat penduduk yang dihias dengan cat warna warni, berubah menjadi kampung wisata ceria.  Ide  para mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang ini berhasil mengubah tampilan  kampung, membuatnya dikenal masyarakat sekitar dan dari luar kota Malang. Hasil lainnya mengubah juga kegiatan dan perekonomian  masyarakat.

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Ibu-ibu yang menjaga loket tiket mengisi waktu membuat souvenir dari kain flannel. Harga tiket Rp 3,000 / orang, sudah termasuk mendapat souvenir lucu. 

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Banyak juga penjual jajanan, es krim murah meriah dengan rasa enak dan berkesan sampai sekarang hahaha.

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Lumayan jauh juga kami masuk menyusuri gang demi gang. Farah heboh karena ingin menemukan tempat foto yang pernah dilihat di Instagram. Berpindah kampung dengan menyeberangi  sungai lewat jembatan kaca, walaupun  kacanya tidak lagi bening, tapi tetap seru juga hahaha.

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Orem-orem Pak Syahri

Orem-orem adalah makanan khas Kota Malang. Ketupat besar berukuran 4 -- 6 kali  ketupat biasa. Disiram kuah santan berisi irisan tempe, ayam dan tauge. Harga sepiring tanpa telur Rp 8,000. Mendol  tempe, tempe goreng, dan perkedel kentang   menjadi   lauk pelengkap. 

Tidak jauh dari Kampung Jodipan, kami mampir di warung Orem-orem Pak Syahri  di Jl. Gatot Subroto, Jodipan, Blimbing, Kota Malang. Bapak, Ibu dan mas yang menjual orem-orem melayani kami dengan sangat ramah. Pelanggan lainnya yang sedang makan pun ramah mengajak kami ngobrol.

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Soto Lombok

Masih mengikuti acara kuliner seru   Farah dan Jimmy, kami langsung  menuju ke  Jl. Lombok No.1, Kasin, Klojen, Kota Malang yang menjual Soto Lombok legendaris sejak tahun 1955.  Pukul 11:20 hampir jam makan siang, tapi pengunjung belum terlalu ramai.  Karena perut masih kenyang setelah makan orem-orem, jadi saya makan semangkuk dibagi 2 dengan Farah. Kasihan Dewi karena vegetarian jadi mencium aroma soto sambil minum saja, peace ya Dew.

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Toko Oen

Wisata kuliner  legendaris lainnya yang ada di kota Malang; Toko Oen yang sudah ada sejak tahun 1930. Tempatnya luas dengan kursi-kursi ala jama dulu. Suasana tenang, sepertinya tamu-tamu sedang menikmati menu masing-masing.

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Duduk di sudut sambil sibuk memilih makanan yang tidak terlalu "berat" karena sebenarnya masih kenyang. Pilihan wajib di tempat ini; es krim. Kentang gorengnya enak, rasanya  tidak seperti di restoran cepat saji. Daftar menu ditulis dalam Bahasa Belanda dan Inggris.

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Gereja Katolik Paroki Hati Kudus Yesus

Dikenal juga dengan nama  Gereja Kayutangan karena dulu nama jalan ini adalah Kayoetangan. Berdiri sejak tahun 1905, bangunan  dengan gaya arsitektur Neogothik  membuat kita seolah sedang berada di Eropa. Letaknya  berseberangan dengan Toko Oen.

Kami minta ijin untuk masuk ke dalam gereja  kepada bapak di pos keamanan. Saat  masuk, ruangan gereja terasa sejuk dan membuat nyaman damai berada di tempat ini. Berdoa sebentar lalu menumpang toilet (karena sepertinya ada pemburu kuliner yang kekenyangan hahahaha).

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Hot Cui Mie

Cui mie adalah mie ayam khas Kota Malang. Mie rebus dengan bumbu daging ayam cincang dan daun selada segar. Tetapi yang kami pilih saat menjelang sore ini ternyata cui mie ala kekinian hehehe. Belum kena ke target sasaran kami yang lebih suka makanan antic dan legendaris nih. Tetap semua makanan yang dipesan dimakan habis.

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Gereja Katolik Katedral Ijen

Gereja Katolik St. Perawan Maria dari Gunung Karmel adalah Katedral Malang atau juga dikenal dengan Gereja Ijen. Berada di sekitar jalan Ijen yang adaalah  kawasan elite  Kota Malang.  Rumah-rumah besar dan megah bergaya colonial, walaupun sudah direnovasi tetapi masih  menampilkan kesan kuno dan bersejarah.

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Tampak kemiripan dengan Gereja Katolik Kayutanganyang yang juga  bergaya arsitektur neogothik. Sayangnya kami tidak bisa masuk ke dalam ruang gereja, karena pintu terkunci dan tidak bertemu orang yang bisa kami mintakan ijin untuk masuk.

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Nakamura Holistic Therapy

Perut  kenyang, tenaga dan energy sengaja  di simpan untuk perjalanan malam dan kegiatan besok. Kami  mencari tempat santai  supaya Pak Ninu juga bisa istirahat agak lama. Kami sepakat untuk refleksi dan pijat di Nakamura The Healing Touch Malang yang kebetulan tidak terlalu jauh. Lokasinya di Jalan Raya Dieng Kavling 3, Bareng, Klojen, Kota Malang.

Masing-masing kami mengambil paket dengan durasi 2 jam hahaha. Sangat membantu mengganti lelah menjadi segar kembali. Siap untuk kegiatan selanjutnya.

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Bakso Kota Cak Man

Sebelum menuju rumah Noki, kami makan malam di  Bakso Kota Cak Man.  Karena sebenarnya belum terlalu lapar,  jadi tidak perlu makan nasi. Kami memilih sendiri apa yang disuka; bakso halus, bakso urat,  bakwan, pangsit, tahu, dll, akhirnya makan   banyak juga  hehehe.

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Setelah kenyang,   kami ke rumah Noki. Disambut ramah dan hangat oleh Ratih (istrinya Noki), Al (putranya) dan Ibunya Ratih. Bergantian kami menumpang mandi, ngobrol seru karena sudah lama tidak bertemu.

Ronde Titoni

Sebelum berangkat menuju Bromo, kuliner  tetap  dilanjutkan. Mencicipi Ronde Titoni yang legendaris karena sudah ada sejak tahun 1948. Baru saja turun dari mobil, saya sudah senang  karena melihat ada  jajan pasar; kue lupis, cenil warna-warni dan sawut singkong. Tukang jajan ketemu jajan pasar, yaahh bahagia hahaha.

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Saat masuk ke kedai ronde Titoni, saya  kegirangan karena  "reuni" dengan Angsle kesukaan. Malam ini kami dihangatkan dengan  ronde hangat, angsle, kacang kuah dan jajan pasar.

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Waktu bergerak bertambah malam. Kami berpisah jalan; Noki sekeluarga kembali pulang. Terima kasih Noki dan keluarga yang sudah sangat membantu kami sejak sebelum berangkat sampai malam ini.

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Malang ke Bromo

Pak Ninu pasrah menyupiri kami yang kekenyangan dan sudah mulai mengantuk. Musik dimainkan untuk menemani perjalanan.  Pak Yus yang membantu kami mengurus penginapan dan jeep sudah mulai menelpon dan memantau keberadaan kami.  

Perjalanan kali ini bagi saya tidak terasa lama, mengambil posisi sendirian  di kursi paling belakang,  saya memanfaatkan waktu  untuk tidur.  Pak Yus menunggu kami di Sukapura, kemudian memandu kami sampai di penginapan, waktu itu sekitar pukul 01:00 WIB berarti sudah tanggal 10 Mei 2018.

Sampai di penginapan, langsung siap-siap untuk istirahat sebentar, karena jam 03:00 WIB kami sudah harus Bangun dan bergerak lagi untuk mengejar sunrise dari Gunung Pananjakan.

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Gunung Pananjakan

Bromo kali pertama untuk Farah dan Jimmy,  kedua untuk Dewi. Jimmy bertanya "Enam kali ke Bromo? Ga' bosan?"

Saya tidak pernah bosan kembali ke Bromo." Bila ada kesempatan lagi, saya pasti  tetap semangat kembali lagi ke Bromo.

Pagi masih gelap seperti malam,  dingin berkabut, memaksa tubuh untuk  bergetar. Baju 3 lapis yang saya pakai tetap membuat tubuh menggigil. Saya senang menikmati dingin seperti ini. Dingin yang berbeda dari ruangan kantor, mobil atau kamar tidur ber AC.

Ada  beberapa spot untuk menunggu dan menikmati kehadiran matahari terbit di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Kami telah melewati Bukit Cinta dan Bukit Kingkong, semua penuh oleh jeep.

Di area parkir Pananjakan 1, untungnya masih ada tempat  parkir. Keluar dari jeep, bbbrrrrrrrr adem tenan, rasanya ingin loncat-loncat supaya badan tidak kaku. Kami ditawari naik ojek  ke atas, biaya  Rp 25,000/orang. Satu motor  bisa  angkut 2 penumpang, jadi saya dan Dewi menumpang di 1 ojek. Perjalanan sejauh kira-kira 1 km   ditempuh dengan kemacetan jalur parkir di kiri dan kanan jalan, ditambah jeep yang masih memaksa melintas.

Menanti Mentari

Spot "penantian" sudah dipadati pengunjung. Hanya ada sedikit cela di tiang pagar, hanya  cukup memijakkan 1 kaki, berpegangan dengan 1 tangan di pagar. Saya berdiri disitu  demi bisa mendapat tempat yang lebih tinggi. Perjuangan tidak sia-sia, karena saya bisa menyaksikan kehadiran fajar pagi dengan lebih jelas. 

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Luar biasa indahnya, bersyukur karena bisa menikmati pergantian alami,  mentari yang  segera menyinari dunia dengan sinarnya.

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Memandang panorama luas Gunung Batok, Gunung Bromo dan Gunung Semeru berhias  kabut putih mengelilingi kaldera. Mata  bahagia  menikmati keindahan dramatis "Negeri di awan".

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Setelah "pertunjukan" selesai, kami  beranjak turun menuju spot berikutnya; warung hangat yang menjual mie instan, teh manis panas, dan gorengan. Setelah badan mulai hangat karena perut sudah terisi, kami turun dengan naik ojek lagi (harganya diskon menjadi Rp 20,000 / orang).

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Bukit Cinta

Bukit Cinta sudah berubah dibandingkan kedatangan saya sebelumnya (tahun 2014). Tulisan dalam Bahasa Inggris “Love Hill” terpampang jelas, hehehe pasti  bule-bule yang banyak datang ke TNBTS langsung paham dengan maksud tempatnya.

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Patung Joko Seger dan Roro Anteng menambah suasana  cinta di tempat ini. Konon, nama suku Tengger diambil dari penggabungan nama Joko Seger dan Roro Anteng. Kisah cinta kedua  tokoh ini memang dipercaya sebagai awal lahirnya suku Tengger.

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Diantar Pak Yus senang dan enak juga, karena beliau suka foto-foto. Moment kami berfoto berempat diabadikan oleh Pak Yus. 

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Gunung Batok dan Gunung Bromo

Saat awan dan kabut sudah mulai bergerak, kami turun menuju padang pasir. Kali ini tampak lebih banyak pemandangan  motor-motor  yang kesulitan melintasi padang pasir. Mungkin karena alasan lebih ekonomis dan lebih menantang, membuat jumlah  motor jauh lebih banyak dibanding terakhir saya kesini. Menurut saya  tetap lebih nyaman menggunakan jeep. Tapi untuk yang suka tantangan, mungkin memang lebih seru.

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Farah dan Jimmy naik kuda menuju kawah, harganya Rp 125,000 / kuda / orang. Saya dan Dewi menunggu di sekitar jeep, alasannya karena sebentar lagi kami harus melanjutkan acara untuk mendaki Gunung Semeru.

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Gunung Batok masih menjadi objek foto dan latar belakang foto yang menarik. Dalam satu frame  terlihat jelas bentuk kerucut gunung ini.

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Bersama Pak Yus (Dok. Pribadi)
Bersama Pak Yus (Dok. Pribadi)

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Pasir Berbisik

Rasanya  ingin jalan-jalan santai mengelilingi  padang pasir yang luas  ini hahaha. Walaupun angin menerbangkan debu pasir, panas matahari  membakar kulit dan melelehkan keringat, tetapi saya  suka tempat ini. Berada disini, saya  ingin bisa mendengarkan bisikan pasir seperti tempat ini dinamakan. Berfantasi dan mencoba menterjemahkan apa yang dibisikkannya. Suara gerak pasir yang tertiup angin.

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Senang juga karena bisa bertemu dengan 2 ekor guguk; kopi susu dan coklat susu,  milik ibu warung yang ada di situ.

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Bukit Teletubbies

Berbeda dengan suasana pagi, sampai di bukit Teletubbies hari sudah semakin siang, panas  dan angin kering. Tidak lama kami berada disini, hanya mengambil sedikit foto untuk kenangan. Bila datang lagi, mungkin baik bila mencoba waktu saat setelah musim hujan, saat rumput-rumput tumbuh penuh berwarna hijau.

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Ranu Pani

Perjalanan masih harus dilanjutkan. Pak Yus, Farah dan Jimmy mengantar saya dan dewi sampai ke Ranu Pani untuk bergabung dengan group pendaki @tigadewaadventureindonesia.

Kami berempat makan siang di warung soto yang murah meriah, kenyang. Setelah makan Farah dan Jimmy kembali ke penginapan bersama Pak Yus. Saya dan Dewi menunggu teman-teman dari tigadewa sambil menikmati pemandangan jejeran gerobak bakso bakwan Malang yang bikin ngiler, tapi sudah terlanjur kenyang.

Ceritanya sampai disini dulu. Terima kasih teman-teman menggila seperjalanan; Dewi @lingchendewi, @farah_carolina, Jimmy @3ehave. Terima kasih juga Noki dan  Ratih yang sudah rela direpotkan, jangan  kapok ya hehehe. Sampai bertemu lagi di Semeru. 

Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)
Napak Tilas Kota Malang Dan Gunung Bromo (Dok. Pribadi)

Salam,

Life Is A Great Journey

Helen_s.maria

Informasi / paket / panduan wisata Kota Malang - Batu dan sekitarnya bisa menghubungi Noki 

+6281372443366 atau Instagram @uklam.uklam.

Informasi jeep dan penginapan di Bromo bisa menghubungi Pak Yus +6281358769991 / +6285695569991