Mohon tunggu...
Christopher Reinhart
Christopher Reinhart Mohon Tunggu... Sejarawan Bidang Kolonial

Christopher Reinhart adalah peneliti bidang sejarah, kini bekerja sebagai asisten Prof. Peter Carey (University of Oxford). Sebelumnya pernah bekerja sebagai asisten peneliti guru besar pada Australian National University, Cardiff University, dan University of New South Wales. Tulisannya berfokus pada bidang sejarah kuno dan sejarah kolonial wilayah Asia Tenggara dan Indonesia.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Cut Nyak Din, Seorang Perempuan yang Mengajaibkan di Hindia Belanda

17 Agustus 2020   06:53 Diperbarui: 18 Agustus 2020   03:13 11659 29 6 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cut Nyak Din, Seorang Perempuan yang Mengajaibkan di Hindia Belanda
Cut Nyak Din setelah ditangkap, diambil dalam posenya yang sedang berdoa (Koleksi Tropenmuseum, 1905)

Perang Aceh (1873--1904) menduduki posisi yang istimewa di dalam sejarah negara kolonial Hindia Belanda dan juga kini di Indonesia.

Konflik dengan Aceh merupakan salah satu dari sedikit konflik berskala besar yang harus dihadapi oleh pemerintah kolonial menjelang masa tenteram pada permulaan abad ke-20. Sebuah faktor penting yang mendorong terciptanya konflik militer yang panjang dan melelahkan bagi Belanda adalah kehadiran pemimpin perang yang keras hati di Aceh. 

Tanpa mengerdilkan peran dari pahlawan lain yang berjuang di Aceh, Cut Nyak Din (sekitar 1850--1908) tentu merupakan pemimpin perang yang sangat prominen. Din merupakan seorang tokoh yang dikenal luas dan dikagumi oleh masyarakat Indonesia.

Namun demikian, rasa kagum yang dirasakan masyarakat pascakolonial tersebut sesungguhnya juga telah dirasakan dengan kuat oleh musuh-musuh Din. 

Salah satu kenyataan yang membuat para perwira Belanda menaruh hormat pada sosok Din adalah kemampuannya untuk mengalahkan banyak pimpinan perang Belanda dalam kondisinya yang sakit dan serba terbatas.

Keberhasilannya ini kemudian membuat jurnalis Hindia Belanda, C. van der Pol, menjuluki Din sebagai "[...] merkwaardigste vrouwen in Nederland-Indie" yang artinya "perempuan yang mengajaibkan di Hindia Belanda". 

Ia juga sempat menulis pada tahun 1918 bahwa setelah kematian Teuku Umar (1899), Din 'bertakhta' di hutan sebagai "[...] ratu hutan, dan menjalankan kekuasaan dari sana---[sesuatu] yang [bahkan] tiada seorang sultan pun yang dapat melakukan selama dua ratus tahun ini [...]".

Teuku Umar Syahid, Din Muncul sebagai Pimpinan Utama

Berbeda dari kesan sederhana yang kita dapat dari masa akhir hidupnya, Din sesungguhnya merupakan putri dari seorang bangsawan Aceh, administrator kesultanan untuk daerah VI Mukim, Teuku Nanta Cek Setia Raja (meninggal sekitar akhir abad ke-19).

Sumber lokal Aceh menyebutkan bahwa Din telah menunjukkan sifat yang cerdik dan tangkas sejak masa mudanya. Semasa mudanya, Aceh sedang menghadapi ancaman masuknya pengaruh Belanda yang mulai agresif pada dekade 1870. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x