Mohon tunggu...
Refael Molina
Refael Molina Mohon Tunggu... Literasi Refael

Menulis, Bekerja untuk Keabadian

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Agnes Mo Bukan Korban Fenomena FOMO!

18 Desember 2019   09:57 Diperbarui: 18 Desember 2019   10:07 146 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Agnes Mo Bukan Korban Fenomena FOMO!
Agnes Mo ketika berbusana budaya Indonesia. Sumber: google.com

Pemilik nama lengkap Agnes Monica Muljoto akhir-akhir ini menuai kontroversi. Betapa tidak, pernyataannya yang menyebut bahwa dirinya bukan berdarah Indonesia ketika diwawancarai Presenter Kevan Kenney dalam video YouTube Build Series NYC by Yahoo!. Saat ditanya mengenai keberagaman di Indonesia, Agnez menjawab Indonesia memiliki 18 ribu pulau yang masing-masing memiliki kultur yang berbeda.

Banyak kalangan, terutama netizen menilai pemilik nama panggung Agnez Mo ibarat "kacang lupa kulit." Meski demikian, banyak yang memujinya karena ia berbicara soal keberagaman di Indonesia. Ia menilai, di tengah keragaman orang Indonesia umumnya masih menerima dia yang notabene berbeda turunan, trasidi hingga keyakinan (agama).

 Bukan Korban FOMO

Belum lama ini saya membaca salah satu artikel yang berjudul "Agnes Mo dan Fenomena FOMO. Artikel itu ditulis Fahmi Irhamsyah yang berjudul di https://geotimes.co.id, Rabu (11/12/2019) lalu. Dalam tulisannya ia memosisikan Agnes Mo sebagai korban dari fenomena FOMO. Sepenggal narasinya seperti ini: "...Agnez Mo melupakan satu hal yang substansial, yaitu dari sisi sosial. Bahwa keberadannya sebagai WNI tidak berdasarkan dari genetika dan keturunannya, namun berdasarkan tempat kelahirannya. Mengapa Agnez Mo bisa seakan tidak memahami fakta ini? Jawabannya adalah karena fenomena FOMO atau Fear Of Missing Out."

Bagi saya, saudara Fahmi salah kaprah. Pertama, saudar Fahmi tidak memahami konsep FOMO atau Fear Of Missing Out secara holistik. Ia mengira secara dangkal bahwa dari segi sosial, Agnes seakan takut kehilangan atau terkucilkan dari kehidupan sosialnya, terutama kehidupan industri hiburan. Dalam tulisannya ia tidak menyertakan sedikit pun pendapat ahli lantas dengan pengertiannya sendiri soal fenomena FOMO, lantas menuduh Agnes Mo seolah-olah Agnes takut kehilangan kesempatan di industri musik dunia. "...jika anda tidak kreatif maka dengan sendirinya anda harus siap terdepak dari industri ini. simaklah kehidupan Norman Kamaru, Veri (AFI) dan sederet artis lainnya yang pernah meramaikan jagat hiburan tanah air..."tulisnya.

Fenomena FOMO di Medsos

Jika mengacu pada pendapat para ahli, maka beberapa ahli, misalnya, Przybylski, Murayama, DeHaan, dan Gladwell (2013) menjelaskan  fenomena FOMO sebagai sebagai adanya rasa perasaan cemas, gelisah, dan takut akan kehilangan momen berharga yang dimiliki teman atau kelompok teman sebaya, sementara ia tidak dapat terlibat di dalamnya. Lebih lajut mereka menyebut FOMO merupakan salah satu bentuk dari kecemasan yang ditandai dengan adanya keinginan untuk selalu mengetahui apa yang orang lain lakukan terutama melalui media sosial dengan tiga indikator FOMO yaitu ketakutan, kekhawatiran, dan kecemasan.

Dari beberapa literatur disiplin ilmu psikologi menurut Baker, dkk (2016) dalam Jurnal Translational Issues in Psychological Science pun menjelaskan bahwa mahasiswa dari universitas-universitas besar dari beragam etnik menunjukkan hasil yang positif dari FOMO terkait dengan waktu yang dihabiskan di media sosial. Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Al-Menayes (2016) menjelaskan individu yang mengalami FOMO akan terus tertarik untuk menggunakan internet sehingga dapat menyebabkan individu tersebut, cenderung mengalami kecanduan media sosial.

Jika mengacu pada beberapa pengertian dari hasil penelitian di atas, maka fenomena FOMO lebih tepat dialamatkan kepada kelompok orang yang suka bermain media sosial kemudian takut kehilangan simpati dan momen berharga yang dimiliki kelompok sebaya melalui media sosial. Jadi, tidak tepat jika Agnes Mo ditempatkan sebagai orang yang takut kehilangan simpati dan momen berharga di dunia industri. Padahal, konteks fenomena FOMO ini jelas-jelas menunjukan orang yang takut kehilangan eksistensi, popularitas dan empati di media sosial. Karena itu, bagi saya dalam tulisan itu, si penulis amat ketakutan terhadap depaknya Agnes Mo di dunia hiburan. Dan itu pemikiran yang amat premature jika dikorelasikan dengan eksistensi Agnes Mo Hari ini.

Agnes Mo ketika diwawancarai di Amerika Serikat. Sumber: google.com
Agnes Mo ketika diwawancarai di Amerika Serikat. Sumber: google.com

Fahmi seakan lupa jika Agnes memiliki prestasi yang didukung dengan kreatifitas tanpa batas. Coba lihat deretan prestasi Agnes Mo: Presenter anak-anak terfavorit (1999); Aktris Terfavorit pada Panasonic Award (2001 dan 2002); Tiga penghargaan AMI Awards  sebagai Artis Pop Solo Terbaik (2004); Karya Produksi Dance/Techno Terbaik, Duo/Group Terbaik (pada duetnya dengan Ahmad Dhani); Most Favorite Female pada MTV Indonesia Awards (2004); Pendatang Baru Terbaik pada Anugerah Planet Muzik di Singapura (2004); Aktris Terfavorit serta SCTV Awards sebagai Aktris Ngetop (2004); Piala AMI Awards sebagai Artis Pop Solo Wanita Terbaik, Produksi R&B Terbaik, dan Desain Sampul Album Terbaik. Bahkan di tingkat Asia dan dunia, kita juga bisa liat prestasi Agnes menjadi The Best Asian Artist dan the Best Performance pada Asia Song Festival 2009 di Seoul, Korea Selatan, Best Singer dalam ajang Shorty Awards 2012, The Shorty Vox Populi Award dari ajang hingga Shorty Award 2012 yang digelar pada hari Senin (26/3) di Times Center, New York City. Lantas, apakah ini bukan prestasi dari hasil dari kreativitas? Jelas, Agnes Mo sangat kreatif sehingga sulit jika kita menilainya akan terdepak dari industri musik tanah air dan dunia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x