Mohon tunggu...
REDEMPTUS UKAT
REDEMPTUS UKAT Mohon Tunggu... Relawan Literasi

Lakukanlah segala pekerjaanmu di dalam kasih (1kor. 16:14)

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Aku Masih Mencintaimu Bapak

20 Februari 2021   23:03 Diperbarui: 20 Februari 2021   23:21 127 2 0 Mohon Tunggu...

Atambua, Pukul 09.00.

Di kamar kecil berdinding bebak[1] aku menangis. Perasaanku berkecamuk. Aku ingin berteriak sekeras mungkin melepaskan beban yang membelengguku. Namun mulutku telah terkunci rapat - rapat. Aku hanya mampu terisak. 

Getir rasanya berada pada situasi semalam. Saat ayah tak henti -- hentinya menghujani aku dengan sumpah serapah dan sebuah tamparan keras di pipi kiriku. Ibu pun hanya bisa menjerit sembari sesekali berusaha membela aku. Tapi dia tak berdaya. Dia hanya seorang perempuan sepertiku. Lemah. Suaranya tak cukup kuat menahan ayah bertindak kasar padaku.  

Kini di pikiranku hanya terlintas satu kata "lari". Aku tak bisa hidup di rumah bagai neraka ini. Aku harus pergi. Aku harus mulai hidupku yang baru, di tempat yang baru. Aku bawa janinku. Anak yang tak berdosa. Sekalipun nanti anak ini lahir tanpa ayah, aku tak peduli. Akan kurawat dia dengan kasih sayang.

"Riiiiniii! Buka pintu. Ini mama sayang. Mama mau bicara". Dengan cepat aku menyimpan kembali pakaian -- pakaian yang sementara kukemas ke dalam lemari. Lalu membuka pintu kamarku, membiarkan ibuku masuk. Ibu menatapku, matanya berkaca -- kaca.  Ibu memelukku erat. Air matanya jatuh membasahi punggungku.

"Rin, semua sudah terjadi, tidak ada yang perlu kau sesali. Kau harus berani tuk hadapi ini semua. Kau sudah dewasa". Kata ibu sambil terisak.

"Iya mama, tapi mama aku harus pergi. Aku sudah mencoreng wajah keluarga kita, aku tidak mau merepotkan mama, bapak dan semuanya. Aku mau hidup sendiri". Jawabku

"Kau mau ke mana Rini? Tolong jangan pergi, Nak. Tetaplah di sini, Mama sangat menyayangimu". Kata mama mencoba menahan niatku. Ia melepaskan pelukannya dan  menatapku dalam. Kulihat matanya berkaca -- kaca oleh air mata. Kelopak matanya membengkak oleh tumpukkan beban yang sukar diungkapkan dengan kata -- kata. Aku tahu bahwa ia mencintaiku, tetapi ia hanya perempuan lemah sepertiku. Kami tak mampu melawan kerasnya laki -- laki dan takdir.

"Mama, aku tahu mama sangat menyayangiku. Tapi Ma, aku sudah memberikan tuba yang sangat pahit bagimu. Mama, sekalipun aku bertahan, aku tak mungkin melawan bapak dan sumpah serapahnya. Aku bukan anak yang pantas baginya lagi. Aku sudah berusaha jadi anak yang baik, tapi aku gagal. Mama, lihatkan bagaimana reaksi papa semalam. Ia amat kecewa padaku. Lihat wajahku Ma, apa masih ada bentuk? Aku sekarat Ma. Bukan hanya tubuhku, tetapi hatiku juga. Mama biarkan aku pergi".

Kulihat mama sangat terpukul dengan kata -- kataku. Ia keluar dari kamar dengan sempoyongan. Isak tangis tertahan pada lehernya. Ia menahan sakit hati yang amat dalam. Entah dengan apa akan diobati. Aku pun mengutuk diriku sendiri karena ini. Tapi dalam hati kecilku yang paling dalam aku masih berharap pada Tuhan untuk membuka satu kesempatan lagi. Kesempatan untuk tetap hidup dan memperbaiki kesalahan -- kesalahanku. Bukan di rumah ini, tetapi di suatu tempat, di tempat yang menjanjikan surga bagiku.

Aku mengambil lagi pakaian -- pakaianku. Aku kemas semuanya secara acak pada tas ransel coklatku dan menunggu waktu yang tepat untuk pergi. Namun sebelum pergi, tak lupa kutuliskan sebuah surat pada ayahku. Seorang pria perkasa yang sangat kuhormati. Aku kenal betul dirinya. Ia sungguh seorang ayah yang kuat, pekerja keras dan terhormat. Sekalipun ia hanyalah seorang tukang bangunan, ia sangat disegani di kota kecil ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x