Analisis

Al-Fatekah (Presiden) Vs Konferensi Hoaks (Calon Presiden), Siapa Menang?

11 Oktober 2018   03:34 Diperbarui: 11 Oktober 2018   03:49 333 1 0
Al-Fatekah (Presiden) Vs Konferensi Hoaks (Calon Presiden), Siapa Menang?
Olah pribadi

Tahun politik benar-benar telah tiba, segala sesuatu yang bisa digoreng sekecil apapun itu, pasti digoreng habis-habisan demi kepentingan tertentu. Teranyar, ajakan Presiden Joko Widodo di pidatonya pada pembukaan MTQ Nasional di Medan Sumatera Utara untuk mengirim doa kepada korban bencana gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah beberapa waktu lalu menjadi polemik di sosial media akibat penyebutan kata 'Al-Fatekah.'

Sebagian orang yang kontra pemerintahan Presiden Joko Widodo menganggap hal tersebut sebagai suatu kesalahan besar yang tidak pantas dilakukan oleh seorang pemimpin, ini dapat dilihat dari banyaknya komentar 'tidak masuk akal' masyarakat terkait  hal tersebut, salah satunya adalah anggapan beberapa kalangan yang menyebut jika musibah yang terjadi di bumi khatulistiwa beberapa waktu terakhir (Gempa di Nusa Tenggara Barat dan Tsunami di Sulawesi Tengah) adalah akibat dari karakter pemimpin yang kurang fasih dalam pelafalan ayat kitab suci.  

Tentu saja tidak semua masyarakat sepakat dengan pendapat ini, bagi masyarakat yang pro terhadap pemerintahan Presiden Joko Widodo tentu menganggap hal ini adalah sesuatu yang tidak substansial untuk dibahas. Sekilas, memang sangat tidak fair melakukan penilaian terhadap suatu kesalahan yang sebenarnya tiap hari kita lakukan. Tentu harus kita akui, sehari-hari kita masih sering salah dalam pengucapan kata, kadang tidak sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang pada dasarnya adalah bahasa persatuan kita. 

Kebetulan kali ini Presiden Joko Widodo berada dalam posisi seperti ini, seharusnya hal ini bisa dimaklumi mengingat dialek masyarakat Indonesia yang terdiri dari ribuan suku dan budaya dari sabang sampai merauke yang tentu saja berbeda-beda kebiasaan, apalagi hanya sekedar dialek pengucapan kata. Lagipula, kita sebagai masyarakat negara Indonesia seharusnya lebih dewasa dalam menyikapi isu dan sadar bahwa 'Al-Fatekah' yang dilontarkan Presiden joko Widodo bukan pada sebatas pada pengucapan tetapi dibaliknya adanya niat dan tujuan yang baik dari Presiden Joko Widodo dalam hal ini seorang pemimpin negara untuk mendoakan masyarakatnya yang terkena musibah.

Tahun politik benar-benar telah tiba, segala sesuatu yang bisa digoreng sekecil apapun pasti digoreng habis-habisan demi kepentingan tertentu. Tak hanya Presiden Joko Widodo, mundur ke belakang,  sebelum polemik 'Al-Fatekah', Prabowo Subianto selaku Calon Presiden (penantang petahana) juga sempat menjadi perbincangan di sosial media, konferensi persnya bersama tim pemenangan menanggapi isu pengeroyokan salah satu anggota tim pemenangannya, Ratna Sarumpaet yang juga merupakan aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) ternyata hanya hoaks semata.

Tak perlu waktu lama, hal tersebut menjadi santapan empuk bagi sebagian netizen yang tentu saja merupakan bagian dari kontra kubu Prabowo Subianto. Tim pemenangan Prabowo Subianto dicap sebagai penyebar hoaks dan berita bohong. Isu desakan agar Prabowo Subianto mundur dari pencalonan sebagai calon presiden pun tak dapat terelakkan.

Sama seperti sebelumnya, tentu tidak semua juga masyarakat sepakat dengan pendapat ini, bagi masyarakat yang pro terhadap kubu Prabowo Subianto menganggap bahwa kejadian ini bukan akibat dari kesalahan Prabowo Subianto dan tim pemenangannya, namun akibat adanya oknum yang mencoba merusak elektabilitas Prabowo Subianto yang sedang naik. Persis seperti sebelumnya, memang sangat tidak fair melakukan penilaian terhadap suatu hal yang sebenarnya tiap hari kita lakukan sehari-hari.

Tentu harus kita akui, sehari-hari kita masih sering terlibat dalam penyebaran informasi tanpa konfirmasi sebelumnya, dan kebetulan kali ini Calon Presiden Prabowo Subianto berada di dalam posisi seperti ini. Seharusnya kita semua sadar bahwa tidak ada manusia yang sempurna termasuk Prabowo Subianto, Joko Widodo, dan juga kita sebagai netizen. Seharusnya sebagai warga Negara yang cerdas, fokus kita adalah membangun peradaban yang lebih baik dan bijak dalam memandang sesuatu, tidak saling menyalahkan dan menjatuhkan satu sama lain.

Namun di antara semua itu, ada satu hal yang perlu diketahui dan kita sadari bersama, terlepas dari apakah anda pencela atau pendukung mati-matian salah satu calon, sebenarnya tidak ada sedikitpun keuntungan yang kita dapatkan dari kondisi seperti ini, yang ada hanya kepuasan fana setelah memberi makian. Malah secara tidak langsung kita merawat sifat permusuhan dan saling benci antar sesama manusia dan warga negara. Juga akibat dari kebodohan kita memakan mentah-mentah isu --isu yang tersebar nyatanya menjadi pundi-pundi kemenangan bagi mereka yang senang merawat kebencian di bangsa ini, dan juga menjadi ladang uang tentunya bagi media. 

Sekali lagi polemik Al-Fatekah (Presiden) dan Konferensi Hoaks (Calon Presiden) adalah kekalahan kita selaku warga negara yang baik sekaligus kemenangan sebagian orang yang punya kepentingan dan tentu saja media. Di tengah polemik ini, jika ada yang pantas mendapat piala dialah media dan segelintir orang berkepentingan itu. Marilah hentikan semua kebodohan ini.