Bahasa Pilihan

Nyatanya, Pengemis Itu adalah Kita Sendiri

9 Oktober 2018   21:06 Diperbarui: 9 Oktober 2018   21:17 542 0 0
Nyatanya, Pengemis Itu adalah Kita Sendiri
(jansatta.com)

Pengemis adalah profesi yang kerap dianggap rendah, memalukan bahkan hina oleh sebagian orang. Pengemis/peng.e.mis/ n adalah orang yang meminta-minta (Sumber: KBBI). 

Namun pernahkah kita berpikir bahwa mengemis adalah suatu tindakan yang hampir tiap hari kita semua lakukan. Mulai dari minta uang di orangtua, minta perbaikan nilai di dosen, minta kebijakan kampus saat telat bayar spp, minta pacar untuk tidak putus, minta diterima oleh calon pacar sampai minta agar hanya chat dibalas oleh teman dekat (gebetan,red). 

Simsalabim, ternyata pengemis yang selama ini kita nilai rendah dan hina itu nyatanya ada di diri kita sendiri. menghilangkan malu hanya untuk memenuhi hasrat, tapu anehnya, seakan kita tidak peka dengan hal tersebut, malah makin hari, makin menjadi-jadi pula kemampuan kita menghakimi orang. 

Fokus ke pengemis, ada yang bilang 'ah, diakan memang pantas dihina, masih muda kok sudah minta-minta', tidak usah kasi uang, paling untuk main game', atau 'tidak usah kasi uang, nanti tambah malas'. Yang ingin saya katakan adalah mereka mengemis pasti bukan tanpa sebab, mana mungkin ada orang yang rela dihina, diejek, dan capek tanpa sebab?  

Nyatanya, mereka yang kalian hina itu memang ternyata harus membuang jauh-jauh rasa malunya untuk minta-minta, mereka yang kalian anggap rendah itu ternyata memang harus berjalan jauh dari satu tempat ke tempat lain demi mendapatkan receh (persis seperti diri kita). Semuanya dilakukan demi bisa bertahan hidup. 

Pun jika memang benar bahwa memang mereka menggunakan uang hasilnya untuk main game, diberikan ke bosnya, apa hak kita untuk menghakiminya, bukankah dia mendapatkannya dengan usahanya? 

Malah yang bahaya adalah karena kita tidak tahu uang tersebut untuk apa jangan sampai dibelakang, ternyata dia dipukuli oleh bosnya jika tidak sanggup memenuhi target, atau yang lebih parah dia mati kelaparan karena tidak punya uang membeli makanan. Apa salahnya jika kita berhenti menghakimi lalu kemudian memberinya? 

Seribu, dua ribu, lima ribu saya rasa masih jauh dari kata banyak demi untuk mempertahankan senyum sesosok makhluk yang juga ciptaan Tuhan. Mari sudahilah saling merendahkan, dan marilah saling membantu, bukankah manusia yang paling dicintai Allah adalah yang senantiasa membuat orang lain bahagia? 

Lagipula, kondisi negara yang saat ini belum mampu maksimal dalam menciptakan lapangan pekerjaan dan memenuhi kebutuhan hidup masyarakatnya kadang memang mengharuskan kita menghalalkan segala cara agar bisa bertahan hidup. 

Hidup Pengemis! Kalian lebih punya nilai dibanding mereka yang tidak punya malu dan bisanya cuma menghakimi lalu kembali sembunyi di ketiak mama papa.