Mohon tunggu...
Alvian Fachrurrozi Ar Rumi
Alvian Fachrurrozi Ar Rumi Mohon Tunggu... Nietzschean! 🔥☠️🔥

Peziarah waktu yang terkutuk mencintai senja, sastra, dan kebenaran yang maha luas!

Selanjutnya

Tutup

Hobi

Power Magis Membaca dan Menulis!

22 November 2020   18:13 Diperbarui: 22 November 2020   18:15 14 1 0 Mohon Tunggu...

Menyadari bukan sebagai anak pejabat bukan pula sebagai putra kyai dan hanya sebagai keturunan kawula sudra, maka tentu agar bisa lebih pede dan biasa-biasa saja ketika srawung dengan anak-anak elit seperti mereka, saya memompa semangat diri ini untuk bisa terus bertekad banyak membaca dan selanjutnya belajar step by step untuk bisa menulis dan menyampaikan lesatan-lesatan pemikiran secara apik.
Sejenak flashback, dahulu almarhum bapak saya hanyalah seorang guru SD di pelosok lereng gunung Lawu sana dan ibu saya hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa dan tamatan SD.
Tetapi setidak-tidaknya bapak saya yang hanya seorang guru 'ndeso' pelosok ini, rupa-rupanya banyak membaca juga tentang buku-buku sejarah Eropa, sampai-sampai beliau sebegitu mengidolakan Napoleon Bonaparte, seorang kaisar dan pemimpin militer Prancis pada abad pertengahan. Ketika setiap ada kesempatan dan waktu yang senggang bapak seringkali bercerita tentang kiprah dan perjuangan Napoleon Bonaparte, sehingga saya yang waktu itu masih kecil seakan-akan menjadi tidak asing lagi dengan nama salah satu tokoh penting dalam sejarah Eropa itu.
Lalu sebaliknya dari ibu saya yang lebih 'Jawa' dan agamis, tentu sudah dapat ditebak, saya pada waktu kecil jelas mendapat cerita-cerita hikmah tentang para nabi dan wali-wali tanah Jawa.
Ibu saya yang meski hanya seorang tamatan SD ini, tetapi nyata-nyatanya beliau pada waktu kecil adalah seorang anak yang cerdas, dibuktikan beliau waktu sekolah di SD itu seringkali mendapatkan rangking unggul dan seringkali diikutkan dalam perlombaan cerdas cermat sekecamatan.
Sekarang jika saya pikir-pikir ada benarnya juga, ketika salah satu teman saya nyeletuk mengatakan jika kesukaan saya pada dunia buku dan meracik aksara ada kaitannya dengan sanad DNA dari orangtua saya.
Tetapi toh meski demikian jika dibandingan dengan anak-anak pejabat yang bisa kuliah di kampus-kampus elit di kota-kota besar atau para gus-gus putra kyai yang bisa berkesempatan nyantri di pesantren-pesantren besar yang bersejarah, tentu saja fasilitas dan kesempatan saya dalam menimba ilmu itu sangat-sangat kalah jauh.
Tetapi lantas apakah saya langsung menyerah dan meratapi takdir begitu saja?
Tidak kisanak, tidak!
Saya mungkin kalah total dalam berguru secara institusi formal, tetapi yang jelas semesta kehidupan ini menyediakan banyak jalan-jalan berguru via nonformal yang terbuka lebar.
Jika dahulu Karna Suryaputra, karena alasan berkasta sudra ditolak mentah-mentah oleh Drona untuk bisa berguru secara formal, maka seorang pemuda badas seperti Karna Suryaputra tentu tak akan menyerah begitu saja, lantas ia pergi mencari guru nonformal yang bernama Pashurama, malah ia ternyata guru yang lebih baik dan mumpuni daripada si dungu Drona.
Begitulah, jika Pashurama adalah guru nonformal bagi Karna Suryaputra, lalu guru-guru nonformal bagiku tidak lain adalah lukisan-lukisan aksara penuh makna dalam lembaran buku-buku itu.
Para guruku yang bernama "buku" itu pun juga tidak pilih kasih sebagaimana si dungu Drona yang membeda-bedakan kita atas kasta-kasta untuk bisa menyerap ilmunya.
Tidak! sebuah buku sungguh sangat jauh dari watak jahiliyah seperti itu.
Kembali ke peran buku, setidaknya seringkali aku menyaksikan, anak-anak yang meski hanya lulusan SD atau SMP tetapi jika ia sudi tekun menggauli buku, ia bisa tertransformasi menjadi pribadi yang cerdas, kritis, dan penuh daya cipta (kreatifitas) yang tinggi.
Bang Bonet Less dari band punk Superiots yang hanya lulusan SMP itu salah satu contoh yang dapat aku katakan. Jadi engkau wahai mahasiswa-mahasiswi yang necis-necis  dan  rada-rada kimcil, jangan sekali-kali pernah berfikir,  jika anak-anak yang menyukai musik punk itu tidak pernah membaca, liar tanpa nalar, dan buta literasi, ya.
Sesekali kalau punya persepsi disesuaikan dengan kenyataan ya cuk!
Anak-anak yang telinganya cocok dengan godam musik punk itu bisa jadi kemelekan literasi dan bahan bacaan mereka jauh melampaui dari kalian-kalian yang sok-sokan mengaku aktivis pergerakan intelektual mahasiswa tapi 'blas' tidak pernah membaca buku, atau kalau membaca buku ya paling satu dua buku receh novel percintaan atau novel-novel bertema hijrah keagamaan yang sangat kekanak-kanakan untuk seusia kalian.
Orang-orang yang kalian pandang bertampang kriminal seperti Jrx, Bonet Less, serta Booby dan Mike dari Marjinal itu jelas-jelas punya sederet daftar bacaan yang sangat berkelas. Tetapi kenapa mereka juga tidak tampak sok elit bak aktivis mahasiswa pergerakan seperti ente-ente sekalian?
Ya sederhana saja, kualitas dan substansi dari pribadi mereka sangat berkebalikan daripada kalian-kalian, wahai mahasiswa pergerakan yang tolol tapi songongnya Audzubillah!
Eiittss, kenapa aku malah menjadi emosi dan ngamuk-ngamuk begini karena mengomentari kekimcilan kalian?
Sudahlah, balik kembali ke pembahasan perihal membaca dan menulis.
Bagi saya, seperti apapun kasta sosial seseorang namun ketika ia menggemari dunia baca, ia semacam memiliki "Ajian Kewibawaan" yang permanen atau setidaknya daya power magis kepercayaan diri yang tidak bisa dikangkangi oleh siapapun.
Saya mengambil contoh dari tokoh Nyai Ontosoroh dalam novel Bumi Manusia itu.
Nyai Ontosoroh meski ia secara lahiriah hanyalah nyai gundik simpanan londo (yang tentunya juga tidak pernah mengecap pendidikan formal), tetapi berkat ia gigih belajar dan banyak membaca, akhirnya secara wibawa beliau bisa sejajar bahkan mengalahkan banyak orang londo yang malas belajar, tolol, dan tidak gemar membaca itu.
Sampai-sampai pemuda berpendidikan Belanda seterpelajar Minke benar-benar terkesima dan bertekuk lutut menasbihkannya sebagai guru.
Lalu selanjutnya perihal menulis itu juga tidak kalah penting,kisanak.
Dengan menulis selain kita dapat meng-arca-kan pikiran dan memonumenkan pengetahuan, juga dengan menulis kita akan dapat mengenang orangtua dan keluarga kita dengan sangat apik, mengenang para guru kita dengan sangat apik, mengenang teman-teman kita dengan sangat apik, mengenang kekasih atau bahkan mantan kekasih dengan sangat apik, dan berbagai macam kenangan-kenangan lainnya tentu akan dapat terpotret dengan sangat apik jika kita bisa lihai menggunakan lensa aksara ini.
Bahkan kenangan tentang musuh dan orang-orang yang menyebalkan pun dapat kita potret dengan sangat elegan nan apik, yang membuat orang-orang yang membacanya pun ikut-ikutan mengutuk para bedebah yang kita aksarakan itu
Maka berhati-hati lah jika engkau memusuhi atau bahkan mematahkan hati seseorang yang bisa menulis, jejak kejahatanmu bisa-bisa akan seabadi kisah fir'aun, Yudas, dan Devadatta.
Dari tulisan panjang lebar ini, intinya aku hanya ingin mewartakan, jika dahulu para leluhur Jawa mengasah kewibawaan dengan mempelajari aji jaya kawijayan semacam AJian Gelap Ngampar atau Ajian Gelap Sayuto, maka sekiranya di era perang pemikiran dan ideologi ini, dengan kita belajar banyak membaca dan menulis itu juga semacam mengasah "kewibawaan dan kepercayaan" diri untuk berani "fight" di ring kehidupan modern ini.
Sudah ya? tulisan ini aku akhiri sampai di sini saja.
"Membaca dan memahat aksara adalah jalan ninja bagi pribadi-pribadi yang berwibawa."
----------
-Alvian Fachrurrozi-
Ngawi, 22112020

VIDEO PILIHAN