Mohon tunggu...
Alvian Fachrurrozi Ar Rumi
Alvian Fachrurrozi Ar Rumi Mohon Tunggu... Nietzschean! 🔥☠️🔥

Peziarah waktu yang terkutuk mencintai senja, sastra, dan kebenaran yang maha luas!

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Santri Setia-Hati

22 Oktober 2020   03:03 Diperbarui: 22 Oktober 2020   03:15 10 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Santri Setia-Hati
Joyo Gendilo (FB Info PSHW Tunas Muda)

Terkadang, temurunnya 'keberkahan' sebuah ilmu bukan karena kecerdasan otakmu atau kegigihan semangatmu, melainkan ia lebih sering menyusup lewat ketakdziman dan baktimu pada guru serta saudara tua seperguruanmu.

Itulah kenapa di sumpah pencak silat Setia-Hati selalu lebih ditekankan ketakdziman seperti itu, daripada sumpah receh melarang-larang menambah ilmu di perguruan lain.

Semua itu tidak dimaksudkan untuk menjunjung tinggi dan membangkitkan budaya feodal, tidak! sama sekali tidak!

Dan dalam lingkup tradisi persaudaraan Setia-Hati, sumpah seperti itu benar-benar diugemi secara nyata dan sudah mendarah daging.
Maka jangan pernah ditanyakan, kenapa di tradisi pencak silat Setia-Hati, setiap guru dan saudara tua layaknya Kyai, yang akan selalu dimintai nasehat untuk hal-hal yang sangat penting, serta sampai kapan pun akan selalu ditakdzimi bahkan hingga istri dan anak-anaknya, sekalipun mereka tidak resmi masuk menjadi warga/saudara Setia-Hati.

Maka kiranya tidak akan berlebihan jika dikatakan bahwa spirit pesilat Setia-Hati adalah spirit santri.nKarena jika menenggok sistem pendidikan formal dari jenjang SD sampai bangku kuliah, apalagi yang begitu fanatik berkiblat pada sistem filsafat pendidikan barat, tak akan pernah kita jumpai spirit ketakdziman yang semacam ini.

Spirit tradisi yang lebih mengutamakan ketakdziman tingkah laku atau adab ini dibandingkan kecakapan intelektual dalam memahami ilmu adalah khas milik kita, sebuah akar tradisi luhur bangsa timur.

Sudah banyak cerita yang  dituturkan oleh bangsa timur mengenai bukti nyata keberkahan sebuah ilmu hanya karena semata takdzim tulus pada seseorang yang dianggap guru.

Mungkin yang paling terkenal adalah kisah Ekalawya dari epos Mahabharata. Ia dengan Keinginan yang kuat untuk menimba ilmu panah, datang ke Hastinapura untuk berguru langsung pada Drona, guru para Pandawa dan Korawa. Tetapi karena suatu hal permohonannya ditolak oleh guru Drona.

Namun penolakan guru Drona tidak menghalangi niatnya untuk memperdalam ilmu keprajuritan. Ia kemudian kembali masuk kehutan dan mulai belajar sendiri. Sebagai motivasi dan inspirasi, ia membuat patung berbentuk Drona dari tanah dan lumpur bekas pijakan kaki Drona, serta memuja secara takdzim patung tersebut setiap akan memulai latihan, seakan-akan itu adalah perwujudan guru Drona yang asli.

Lalu berkat kegigihannya dalam berlatih otodidak, Ekalawya pun akhirnya menjadi seorang prajurit dengan kecakapan dalam ilmu memanah, yang sejajar bahkan lebih pandai daripada Arjuna.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN