Mohon tunggu...
Alvian Fachrurrozi Ar Rumi
Alvian Fachrurrozi Ar Rumi Mohon Tunggu... Nietzschean! 🔥☠️🔥

Peziarah waktu yang terkutuk mencintai senja, sastra, dan kebenaran yang maha luas!

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Tiga Kelas Manusia

14 September 2020   19:37 Diperbarui: 14 September 2020   19:44 57 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tiga Kelas Manusia
Semar lukisan Mbah Sujiwo Tejo

Manusia tubuh akan dihormati oleh manusia tubuh, manusia pikiran akan dihormati oleh manusia pikiran, dan manusia spiritual akan dihormati oleh manusia spiritual.

Maka jangan risau, jika engkau sebagai manusia pikiran tidak mendapat penghormatan secuilpun dari manusia tubuh, atau engkau sebagai manusia spiritual tidak mendapat penghormatan semestinya dari manusia pikiran, atau sebaliknya engkau sebagai manusia tubuh selalu dipandang dangkal oleh manusia pikiran dan juga dipandang dengan mata kasihan oleh manusia spiritual.
Semua ada kelasnya masing-masing, yakni kelas kesadaran.

Meski kecenderungan manusia akan 3 tipikal kelas ini tidak saklek, setidaknya saya masih percaya jika sebagian besar manusia tidak bisa tidak untuk berada di bawah bayang-bayang 3 kelas kesadaran ini. 

Berbicara tentang manusia, apapun analisa para psikolog, sosiolog, peneliti, mahzab filsafat apapun, bahkan juga agamawan apapun, pada substansinya sama dan hanya membahas tentang 3 hal ini.

1. Manusia tubuh, ialah sejenis manusia yang kesadarannya hanya bertumpu pada tubuh, wujud, materi. Apa yang selalu menjadi prioritas kebanggaan dan kebahagiannya hanya terletak pada hal-hal bendawi dan inderawi, seperti kendaraan mewah, rumah megah, pakaian yang wah, makanan yang bergengsi, tampilan muka yang menarik, body yang seksi. 

Kesadaran mereka hanya berhenti pada hal-hal semacam itu. Mereka sangat miskin pengalaman dalam mencicipi kenikmatan intelektual/pikiran apalagi kenikmatan spiritual. Dalam cerita pewayangan, sosok manusia sejenis ini adalah gambaran dari "Buto", makhluk berkesadaran paling rendah.

2. Manusia pikiran, ialah sejenis manusia yang begitu getol dalam belajar dan olah intelektual. Apa yang menjadi prioritas kebanggan dan kebahagiannya adalah belajar, belajar, dan belajar. Pikiran mereka selalu menggelisahkan akan banyak hal yang belum mereka ketahui. 

Ambisius dan tak pernah puas adalah watak dasar mereka. Membaca, menulis, mencari lawan untuk berdebat adalah ibadahnya. Mereka kira dengan aktivitas semacam itu sudah mencapai maqom pencerahan terakhir, akibatnya mereka menjadi tidak tahu menahu akan pengalaman spiritual yang di atas segala-galanya. Nalar mereka begitu hijau dan segar,  tapi sisi rohani mereka masih sangat kering.

Dalam cerita pewayangan, sosok dengan kesadaran seperti ini adalah gambaran dari "Kesatrio', makhluk yang sudah mencicipi kemewahan intelektualitas tapi masih primitif dalam olah rohani, karena masih sangat kuat diliputi oleh kobaran ambisi dan konflik.

3. Manusia spiritual, adalah manusia dalam puncak piramida kesadaran, manusia sejenis ini adalah manusia yang sudah selesai akan dirinya, selesai akan pencariannya, selesai akan hasratnya, selesai akan kerakusannya, selesai akan egonya, selesai akan ambisinya, selesai akan kegelisahannya. 

Batinnya sudah sampai pada ritme yang benar-benar stabil. Prioritas kebanggaan dan kebahagiannya sudah "manjing" di dalam batinnya sendiri.

Tidak ada yang dikejar, tidak ada lagi yang dicari, segala pengetahuan dan pengalaman sudah mereka cicipi.

Tidak ada lagi rasa penasaran terlebih lagi rasa ingin bersaing.

Mereka hanya sekadar menjadi ''sang penyaksi" dalam alam jagad raya ini.
Dalam cerita pewayangan, sosok seperti ini adalah gambaran dari "Semar" itu sendiri, sang pemomong dan penuntun rohani manusia.

Di Indonesia ini, melihat manusia tubuh dan menusia pikiran, amat jelas dan bertumpukan sangat banyak sekali, tapi untuk mencari dan bisa menemukan manusia spiritual yang merupakan gambaran dari Semar yang sesungguhnya, sungguh benar-benar terasa asing dan langka.

Dalam pengamatan saya yang terbatas, tokoh nasional kita yang merupakan manusia spiritual sekelas semar, yang bukan rohaniawan kelas teri, baru saya temui mengejawantah dalam sosok Gus Dur dan Mbah Sujiwo Tejo.

Melihat begitu njomplangnya antara jumlah manusia tubuh, manusia pikiran vs manusia  spiritual, saya menjadi agak tidak heran kenapa dinamika sosial dan perpolitikan di Indonesia ini selalu terlihat begitu semrawut dan kacau.
Padahal ini negeri yang begitu indah dengan ragam arus pluralitas yang meriah.
----------
Ngawi, 14092020

VIDEO PILIHAN