Mohon tunggu...
Vian Nietzschean
Vian Nietzschean Mohon Tunggu... Alvian Fachrurrozi 🔥☠️🔥

Peziarah waktu yang terkutuk mencintai senja, sastra, dan kebenaran yang maha luas!

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Religiusme Masa Lalu di Nusantara

29 Mei 2020   21:49 Diperbarui: 29 Mei 2020   22:05 28 2 1 Mohon Tunggu...

Di tempat tinggi yang sunyi itu, tepatnya pada sekitaran abad 11 masehi. Beliau, Sang Prabu Airlangga pernah bertapa dan mewariskan jejak kearifan besar di lereng tinggi gunung Lawu itu.

Ya petilasan itu sekarang disebut dengan Candi Menggung, yang terletak di Karanganyar, Jawa Tengah.

Dan yang unik jika kita menilik dari lensa sejarah.

Meski Sang Prabu Airlangga sendiri dikenal sebagai pengikut sekte Hindu Waisnawa, dan sekte dalam Hinduisme yang terkenal dengan corak pertapaan atau Raja Yoga adalah Syiwaisme, Sedang Waisnawa sendiri lebih terkenal dengan corak devosi atau Bhakti Yoga.

Namun nyatanya berkaitan dengan prabu Airlangga, beliau juga terkenal sangat suka bertapa dan petilasan pertapaannya banyak ditemukan diberbagai tempat di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Dan ini tentu bukan suatu hal yang aneh, mengingat Sang Prabu sendiri adalah seorang raja yang berwawasan sangat terbuka dan punya guru spiritual dari agama lain yakni Mpu Bharadah, sang pertapa dari agama Buddha Mahayana yang terkenal sangat sakti.

Menyimak sepotong sejarah sang leluhur agung Nusantara ini, kesadaran kita sebagai bangsa Nusantara seharusnya tergugah, bahwa cara kita menyikapi keragaman agama saat ini telah kalah jauh dengan kebijaksanaan para leluhur terdahulu dalam menyikapi keragaman agama, para leluhur Nusantara sangat terbuka serta berwawasan luas dalam menerima dan mempelajari ragam agama yang berdatangan.

Di sini di Nusantara ini, bermacam-macam ajaran agama yang ada lebih cenderung dikenal layaknya sebuah Perguruan Terbuka, seperti halnya dalam dunia seni beladiri silat abad 18-an, dimana seorang praktisi aliran silat A untuk menyempurnakan ilmu silatnya diperbolehkan menimba ilmu dari aliran silat B.

Jadi oleh karena itulah, alih-alih para leluhur Nusantara beranggapan agama sebagai keyakinan kultus buta tak senonoh yang dilekati dengan sangat fanatik.

Bagi mereka, agama lebih dianggap sebagai perguruan spiritual yang sangat terbuka dan membebaskan.

Oleh karena itu bukanlah sebuah hal yang tabu dan memalukan jika di Nusantara jaman dulu ada seorang Waisnawa yang mempunyai guru spiritual seorang Buddhisme ataupun Syiwaisme begitupun sebaliknya seorang Buddhisme dan Syiwaisme yang mempunyai guru spiritual seorang Waisnawaisme.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN