Mohon tunggu...
Alvian Fachrurrozi
Alvian Fachrurrozi Mohon Tunggu... ๐Ÿ”ฅโ˜ ๏ธ๐Ÿ”ฅ

Tat Twam Asi

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Jalinan Karma Semesta, Saya Dan China

25 Januari 2020   21:37 Diperbarui: 25 Januari 2020   21:40 26 0 0 Mohon Tunggu...
Jalinan Karma Semesta, Saya Dan China
Dok. Pribadi

Gong Xi Fa Cai!

Selamat tahun baru imlek untuk teman-teman Tionghoa yang hari ini semarak merayakannya.
Semoga di tahun ini kita semua selalu terliputi kesejahteraan, kedamaian, serta limpahan hoki.

Oh ya, ingin sedikit berceloteh tentang hubungan sangkutpaut atau bisa dibilang sebuah ikatan karma kosmis, antara saya yang Non-China dengan banyak hal yang berkaitan dengan China.


Saya yang meski orang Jawa dan terlahir dari bapak ibu yang juga asli orang Jawa.
Meski demikian, jika menyimak beberapa bagian dari lembar kanvas kehidupan saya, dalam benak selamanya serasa punya hutang jasa besar pada orang-orang hebat dari etnis Tionghoa atau China.
Seperti diantaranya, saya yang begitu mengagumi aktor laga China, Jet Li.

Maupun film-film laga China seperti Wong Fei Hung, Ip Man, Sun Go Kong, dll.

Lalu pada suatu waktu akhirnya saya juga mendalami sebuah perguruan beladiri dengan nama "IKSPI Kera Sakti" yang notabene juga beraliran Kung-Fu, kombinasi dari aliran Hokkian (Tinju Selatan) dengan aliran Shantung (Tendangan Utara), yang mana kedua aliran hebat ini juga hasil temuan luar biasa orang-orang cerdas dari dataran China.
Sementara itu, di perguruan IKSPI Kera Sakti ini juga dilengkapi dengan ilmu beladiri rohani/tenaga dalam yang notabene beraliran Al-Hikmah, sebuah aliran tenaga dalam yang diantaranya bersilsilah atau berasal dari warisan spiritual para penyebar Islam di Nusantara seperti para Wali Songo, yang mana berdasarkan bukti-bukti sejarah, mayoritas dari mereka adalah juga ber-etnis China.


Guru besar pendiri IKSPI Kera Sakti, Bapak Raden Totong Kiemdarto yang sangat saya hormati dan begitu berpengaruh dalam ilmu beladiri saya pun, juga punya darah leluhur dari China.

Dan selain itu pula, dalam kembara intelektual dan setapak perjalanan spiritual saya, juga dari orang-orang etnis Tionghoa lah saya lebih mengerti dan mendalami keagungan ajaran dan meditasi dari Sang Buddha.
Para Bhikkhu/Bhiksu yang saya kagumi dan ajarannya yang benar-benar menyentuh kehidupan konkret saya pun kebanyakan juga adalah orang-orang Tionghoa.

Dan juga selain itu semua, Kyai Nahdlatul Ulama dan tokoh kemanusiaan luar biasa yang sangat saya kagumi dan begitu gandrungi yakni KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), beliau pun nyata-nyata juga adalah salah seorang yang punya tetesan darah etnis China.

Jadi selain secara pribadi berangkat dari paradigma kesadaran humanisme, dari kesemua alasan itu juga lah, saya tidak bisa membenci membabi buta kepada orang-orang Tionghoa.

Meski di tengah gencar arus media antek Orba atau ceramah-ceramah oknum agamawan yang gemar mempropaganda kebencian terhadap orang-orang peranakan Tionghoa.


Sebaliknya saya, ketika hanya mendengar kata "Tionghoa" atau "China" saja, seketika dalam batin ini terbetik kekaguman tak berkesudahan akan kejeniusan dan keuletan orangnya serta estetika keindahan seni budaya mereka.


Eh, tentu tak lupa pula, sebagai laki-laki, saya juga punya kekaguman luar biasa akan kecakepan gadis-gadis sipit Tionghoa. Hehe.

VIDEO PILIHAN