Mohon tunggu...
Rd.
Rd. Mohon Tunggu... Lainnya - .

tentang buku, sepeda, debian, motor tua, musik, makanan, bubin LantanG dan bang Rhoma

Selanjutnya

Tutup

Politik Artikel Utama

Politik Para Pengikut di Daerah

28 Oktober 2022   10:31 Diperbarui: 31 Oktober 2022   10:00 228
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
ilustrasi simpatisan politik. (Foto: KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO)

Sesekali bolehlah menulis tentang politik yang hawanya semakin menghangat menjelang tahun 2024 yang padahal masih dua tahun lagi. 

Ini cuma berdasarkan pengamatan di daerah, tepatnya di daerah kabupaten, yang jauh dari hiruk pikuk ibukota nun jauh di seberang sana.

Di sini gaung pemilihan presiden alias pilpres juga sudah cukup ramai, tapi sebatas cukup saja, soalnya seperti yang sudah-sudah calonnya juga selalu dari luar pulau, walaupun masih satu negara, jadinya ya biasa saja. 

Walaupun sejak pilpres dua periode silam adakalanya masih saja diributkan soal pilihan presidennya, sampai sekarang pun kadang masih begitu, ada saja yang masih belum move on kalau pilihannya kalah dan tak lama bakal ada pemilihan presiden lagi.

Sedangkan terkait pileg alias pemilihan anggota legislatif, biasanya cuma ramai pas sudah mendekati masa pemilihan, saat tiba-tiba jalanan dipenuhi oleh foto-foto entah siapa yang besarnya bervariasi dan juga sebagian besar orang tidak peduli. 

Cara-cara manual seperti itu sepertinya masih dianggap efektif untuk mengenalkan diri ke masyarakat, jarang ada yang menggunakan media sosial sebagai media kampanye secara digital.

Politik paling ramai tentulah perebutan kekuasaan di daerah itu sendiri, pemilihan kepala daerah yang menjadi perhatian publik, baik pemilihan gubernur maupun bupati atau walikota. 

Pergerakan tim sukses selalu mewarnai agenda politik lima tahunan itu, yang walaupun nanti pada tahun 2024 tak genap sampai lima tahun akibat adanya pilkada serentak.

Berbagai cara dan taktik diterapkan untuk memenangkan pilkada, walau tentu saja biasanya cara gerilya langsung ke masyarakat lewat tokoh-tokoh kunci lebih efektif. 

Beberapa kabupaten menarik kepercayaan masyarakat melalui pasangan kepala daerah yang salah satunya orang yang dipercayai memiliki ilmu agama yang lebih baik, itu adalah rumus umum untuk bisa memenangkan hati masyarakat sejak sistem pilkada awal kali digelar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun