Mohon tunggu...
Rd.
Rd. Mohon Tunggu... Lainnya - .

tentang buku, sepeda, debian, motor tua, musik, makanan, bubin LantanG dan bang Rhoma

Selanjutnya

Tutup

Book Pilihan

Obsesi Memiliki "Kaebu", Gara-Gara Bubin

27 Oktober 2022   17:51 Diperbarui: 29 Oktober 2022   21:27 121
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Selain akhirnya berhasil menjejakkan kaki di bumi Bandar Lampung, tempat kelahiran dan kota bermainnya bubin LantanG penulis favorit saya itu, ada lagi satu hal yang dinginkan sejak lama.  Tepatnya saat membaca salah satu bagian dari Kisah Langit Merah yang terbit pada tahun 2009 silam.  

Pada halaman 194, adalah kisah tentang Matahari adiknya Langit yang bisa main gitar dengan 'bener', dan ditawarin gitar oleh Hendry sahabatnya.  Merknya Kaebu, lokal bikinan Solo.  Tentu saja saat itu tak bisa terbeli karena hidupnya yang susah, padahal Hendry cuma ingin memberikan gitar itu, ditukar dengan harga berapapun, karena tahu Matahari tak bakal mau menerima dengan cuma-cuma.

Sampai akhirnya Matahari menemukan uang secara tak sengaja di bawah pohon Akasia di luar stadion Pahoman, jumlahnya sebenarnya cukup untuk menebus Kaebu, tapi uang itu malah dibelikannya mesin tik untuk kakaknya Langit yang sedang senang menulis cerita fiksi untuk dimuat di majalah.

Kaebu itu sendiri akhirnya malah dibeli oleh Shorean, kawannya yang lain.

Gara-gara satu bab kisah di novel itulah, akhirnya bertahun-tahun memendam keinginan untuk memiliki Kaebu, mengalahkan keinginan untuk membeli APX 500 II, gitar modern yang sudah memiliki equalizer di tubuhnya.

Akhir Mei kemarin, akhirnya menuntaskan keinginan lama itu.  Saat ada yang menjual Kaebu lama di market place.  Harganya cukup murah karena ada sedikit masalah di sambungan antara neck dan bagian belakang body yang terbuat dari bahan fiber.  Walaupun demikian, secara keseluruhan kondisinya masih cukup bagus, bahkan neck gitar masih lurus dan hasil suaranya pun masih bulat.

Hebat sekali ya penulis novel memaparkan ceritanya, hingga bisa bikin pembacanya mengidamkan sebuah gitar dan menyambangi sebuah tempat hanya karena imajinasi akan adegan yang tergambar di dalamnya.

Gitar bersenar nilon itu sesekali masih saya mainkan, begitu juga akan koleksi novel-novel karya bubin LantanG, masih juga kadang saya baca, saat rindu akan suasana masa lalu dan lelah akan keadaan masa sekarang.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Book Selengkapnya
Lihat Book Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun