Mohon tunggu...
Rudi I
Rudi I Mohon Tunggu... Mahasiswa - Sedang belajar sastra Inggris 🇬🇧
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Selamat datang di blog yang membahas tentang kebarat-baratan

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Perkembangan Zaman Abad ke-17 dan Para Tokohnya

26 April 2021   07:00 Diperbarui: 26 April 2021   07:14 4099
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Abad ke-17 adalah zaman yang menggantikan renaissance dan dianggap sebagai awal dari filsafat modern dan keberangkatan dari pendekatan abad pertengahan. Abad ke-17 disebut juga dengan zaman modern. Zaman ini bertujuan untuk menemukan kebenaran dari ilmu pengetahuan yang bersifat rasionalisme. Rasionalisme dibedakan dari keyakinan bahwa pada prinsipnya semua ilmu pengetahuan dapat diperoleh secara langsung oleh akal masing-masing individu. Namun, pada waktu itu ada para pendukung empirisme yang menentang bahwa pengetahuan tidak hanya dihasilkan oleh akal tetapi pengalaman-pengalaman terdahulu juga. Sebagai patokannya, rasionalisme mengambil matematika sebagai model pengetahuan dan empirisme mengambil ilmu-ilmu sains. Akan tetapi pada kenyataannya kedua masalah tersebut  saling membutuhkan dan berhubungan timbal balik.

Tahap perkembangan

Rasionalisme 

Rasionalisme muncul di Perancis dengan dipelopori Rene Descartes dengan pemikirannya yang rasional atau akal. Dia menganggap bahwa akal adalah sumber ilmu pengetahuan yang dapat dipercaya dan empiris atau pengalaman hanya dapat dipakai untuk meneguhkan hasil akal, yaitu pengetahuan. Oleh karena itu, akal tidak memerlukan pengalaman karena akal dapat menurunkan kebenaran dari diri seseorang. Kebenaran dapat dicapai dengan pemikirannya sendiri, bukan dari wahyu yang dianggap sebagai sumber kebenaran. Ternyata keberhasilan rasionalisme malah memutuskan hubungan dengan tradisi Kristiani, kekuasaan gereja, dan klerikal tetapi masih memperkuat jiwa liberal yang telah menghidupkan humanisme. Melalui pembuktian aku ada, Tuhan, alam jasmani, dan realitas alam fisik, maka rasionalisme menjadi pernyataan yang paling kuat mengenai pemikiran manusia yang pernah ada.

Empirisme

Empirisme muncul di Inggris dengan dipelopori para penerus jejak Francis Bacon, seperti John Locke, Berkeley, dan David Hume. Mereka menganggap bahwa akal bukanlah sumber pengetahuan, tetapi akal mendapat tugas untuk mengolah bahan-bahan yang diperoleh dari pengalaman dengan menterapkan metode induksi. Pengalaman yang dimaksud adalah pengalaman dunia dan batiniah yang menyangkut pribadi manusia. Empirisme hanyalah suatu teori pengetahuan dimana kita hanya bisa mempercayai dari apa yang diketahui melalui pengalaman indrawi atau  percobaan.

Filsafat Jerman

Filsafat Jerman muncul sejak pertengahan abad 17 yang dipelopori oleh G.W. Leibniz (1646-1716) dengan karya-karyanya yang ditulis dalam bahasa Perancis dan Latin dengan alasan bahwa bahasa Jerman tidak dapat dipakai sebagai bahasa pengantar ilmu pengetahuan. Terdapat dua sisi dalam karya Leibniz, yaitu dialog antara dirinya dengan Descrates dan kaum rasionalis lainnya dengan dialog dirinya dengan Locke dan kaum empiris lainnya. Tujuannya karyanya tersebut adalah untuk menjembatani pertentangan antara kedua paham antara kaum rasionalis dan empiris.

Tokoh-tokoh

Francis Bacon (1561-1625)

  • Menurut Francis Bacon metode induktif adalah proses pemikiran dengan cara mengamati dan meneliti fenomena-fenomena yang terjadi dan kemudian digeneralisasikan sebagai kesimpulan. Dengan kata lain metode induksif adalah cara berpikir dari hal-hal yang bersifat kusus (particular) menuju ke hal-hal yang bersifat umum.

Thomas Hobbes (1588-1679): Thomas Hobbes mengembang tiga sistem ide, yaitu

  • Ilmu alam (De Corpore). Semua filsafat adalah kita meliha, tubuh dan dengan demikian kinematika .
  • Doktrin manusia (De Homine). Manusia bagi Hobbes hanyalah contoh kebenaran hukum fundamentalnya tentang sebab dan akibat yang diperlukan.
  • Doktrin Sistem Pengajaran Negara atau (De cive Leviathan). Hobbes menganggap definisi hukum kodrat dapat dimiliki oleh setiap orang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun