Mohon tunggu...
Rizky C. Saragih
Rizky C. Saragih Mohon Tunggu... Administrasi - Public Relations

Lihat, Pikir, Tulis. Communications Enthusiast | @rizkycsaragih

Selanjutnya

Tutup

Digital Artikel Utama

Apa Kabar Dunia Maya dan Public Relations 2021?

3 Juli 2021   16:27 Diperbarui: 16 Agustus 2021   18:37 800 10 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Apa Kabar Dunia Maya dan Public Relations 2021?
Ilustrasi (Freepik)

Sudah lebih dari 1 tahun dari tulisan terakhir pada bulan April 2020 lalu. Ya, ketika mencoba untuk menuliskan sedikit dari banyak perspektif seputar dunia komunikasi yakni "New Normal" dan Humas.

Bersyukur masih banyak nilai positif daripada Whatsapp Group (WAG) di gawai, bagaimana tidak, masih ingat betapa ramainya WAG pada awal pandemi seterusnya sampai pada momen vaksinasi sudah mulai diterapkan di negeri ini. Bak rollercoaster emosi dan perasaan ini, bukan? Terima kasih sebelumnya teruntuk Pak Moko yang sedianya membagikan file laporan ini.

Menarik ketika mengintip isi laporan Digital News Report 2021 edisi ke-10 versi Reuters Institute, Oxford University, teruntuk para pegiat komunikasi dan tentunya tak luput untuk para praktisi serta akademisi Public Relations

Laporan ini menyajikan analisis dan data seputar kondisi jagat maya secara global, membedah lebih dalam fenomena perubahan yang terjadi pada News Media, Media Social, Medium, dan tentunya Users dari masing-masing negara yang diperuncing oleh pandemi virus Covid-19.

Virus Covid-19 menjadi pukulan telak untuk hampir semua industri di dunia. Krisis kesehatan merambat pula beriringan dengan krisis ekonomi di mana salah satunya perubahan besar berdampak pada industri media berita, media sosial, serta kebiasaan warganet. Dari mulai negara-negara di Eropa, Amerika, Asia-Pasifik, sampai Afrika teranalisis pada laporan ini.

Sekilas Global

Urutan detail sampel riset Reuters Institute / dokpri
Urutan detail sampel riset Reuters Institute / dokpri
Mengerucut pada bagian pembahasan negara Indonesia, metodologi yang digunakan menarik 2.007 sampel, diikuti dengan tingkat penetrasi internet sebanyak 71% (sumber: Internet World Stats). Beberapa ringkasan global yang tersampaikan pada riset sampai dengan awal tahun 2021 seperti berikut ini:
  • Kepercayaan pada berita telah tumbuh, rata-rata sebesar enam persen setelah pandemi virus Covid-19 dimana 44% total sampel mengatakan bahwa mereka mempercayai sebagian besar berita hampir sepanjang waktu.
  • Di saat yang sama, mempercayai berita dari mesin pencarian dan media sosial tetap berjalan stabil. Ini berarti trust gap antara berita secara umum dan apa yang ditemukan oleh ragam lapisan masyarakat yang tergabung sebagai warganet telah berkembang pada sumber berita yang akurat dan dapat diandalkan.
  • Di sejumlah negara, terutama negara dengan media layanan publik independen yang kuat, laporan ini telah melihat konsumsi informasi yang lebih besar dari brand kantor berita tepercaya. Polanya kurang jelas untuk Eropa Barat bagian luar, di negara-negara tersebut isu krisis virus Covid-19 kurang mendominasi, masalah politik dan sosial mengambil porsi yang lebih besar.
  • Televisi terus tampil kuat di beberapa negara, akan tetapi surat kabar/koran jauh lebih tajam menurun karena terdampak pada faktor "lockdown" dan menyebabkan akselerasi pergeseran ke masa depan digital.
  • Penggunaan media sosial untuk meraih berita tetap kuat, terutama para kaum muda dan mereka dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah. Aplikasi pesan seperti WhatsApp dan Telegram telah menjadi sangat populer di Global South, menyita perhatiaan yang sangat besar ketika sebaran informasi yang salah tentang virus Covid-19 terjadi.

Proporsi WA dan FB terhadap disinformasi di ragam negara. / dokpri
Proporsi WA dan FB terhadap disinformasi di ragam negara. / dokpri
  • Kekhawatiran global tentang informasi palsu dan menyesatkan telah sedikit lebih tinggi di tahun ini, mulai dari 82% di Brazil hingga hanya 37% di Jerman. Mereka yang menggunakan media sosial lebih banyak cenderung mengatakan bahwa mereka telah terkena informasi yang salah tentang virus Covid-19 daripada non-pengguna media sosial. Facebook dianggap sebagai saluran utama penyebaran informasi palsu, tetapi aplikasi pesan seperti WhatsApp dipandang sebagai masalah yang lebih besar di belahan dunia Selatan seperti Brazil dan Indonesia.

Sekilas Indonesia

Indonesia merupakan pasar terbesar di Asia tenggara dengan ragam sektor media yang aktif. Namun tekanan ekonomi yang disebabkan oleh virus Covid-19, persoalan berita palsu, dan ancaman seputar ketentuan hukum yang berkaitan dengan tindakan kriminal pencemaran nama baik menjadi tantangan untuk bisnis industri media pada tahun 2020 lalu.

Situs media sosial seperti WhatsApp, YouTube, Facebook, dan Instagram sangat populer di kalangan pengguna di Indonesia. TikTok sangat populer di kalangan generasi muda juga di berbagai wilayah Indonesia. Banyak politisi dan partai menggunakan komentator berbayar atau yang dikenal sebagai "buzzer", dan akun otomatis (bot) untuk menghasilkan propaganda politik menjelang pemilihan umum pada bulan April 2019. 

Banyak perhatian telah diarahkan pada penggunaan media sosial untuk menyebarluaskan dis-informasi (hoax) dan narasi kebencian. Krisis virus Covid-19 khususnya telah menyebabkan longsoran informasi yang salah, mulai dari "bahaya" termometer hingga desas-desus bahwa vaksin dicampur dengan daging babi.

Pandemi telah mempengaruhi keseluruhan perekonomian Indonesia, dan media sangat menderita terutama karena kehilangan pendapatan dari sisi periklanan. Perusahaan-perusahaan swasta memotong anggaran pemasaran mereka, pemerintah daerah meningkatkan pengeluaran mereka untuk media terutama di provinsi-provinsi. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN