Mohon tunggu...
Setiawan Priatmoko
Setiawan Priatmoko Mohon Tunggu...

Tourism activist, citizen reporter, futurist. Peneliti di Inspect.id email:eraynesance@yahoo.co.id

Selanjutnya

Tutup

Wisata Pilihan

RTH dan Sindrom Kurang Piknik

8 Maret 2017   11:25 Diperbarui: 8 Maret 2017   11:42 331 1 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
RTH dan Sindrom Kurang Piknik
Aneka Wahana permainan berbayar di Denggung, Sleman (Foto; http://jogja.tribunnews.com)

Maraknya pembangunan kawasan pariwisata dan pusat-pusat perbelanjaan/ mall di Jogjakarta nampaknya harus sudah mulai memerlukan perimbangan. Jogjakarta memang sudah menjadi tujuan wisata utama setelah Pulau Bali. Jutaan orang dari luar Jogja berduyun-duyun untuk berwisata dan berlibur di sini. Efek paling terasa adalah secara bisnis terdapat pertumbuhan investasi dan secara budaya terjadi kesadaran akan bernilainya citra dan gaya hidup khas Jogja yang otentik.

Tapi bagaimanakah dengan warga asli Jogja? Apakah mereka mempunyai kekuatan ekonomi juga untuk bisa mengakses objek-objek wisata dan pusat-pusat perbelanjaan dengan mudah? Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) DIY menunjukkan bahwa rasio kesenjangan ekonomi (Rasio Gini) di Jogjakarta cenderung meningkat. Bahkan secara nasional menduduki peringkat pertama sampai dengan September 2016 (Kompas/ 24 Februari 2017).  Artinya secara umum ialah kelas menengah ke atas yang jumlahnya tidak terlalu banyak lah yang mampu dengan mudah mengaksesnya. 

Salah satu penyebabnya karena masih banyaknya warga berpenghasilan rendah sehingga tidak mampu mengakses tempat-tempat wisata dan hiburan dikarenakan keterbatasan dana. Secara kasat mata, tempat-tempat wisata yang populer di Jogja lebih banyak dikunjungi oleh kalangan mahasiswa dan keluarga-keluarga kecil mapan. Hal ini antara lain karena jaraknya yang relatif membutuhkan ongkos atau tiket masuk dan pernik-pernik biaya lain yang biasanya terdapat di berbagai objek wisata sehingga kalangan ekonomi menengah ke bawah enggan mengunjunginya.

Ironis jadinya apabila Jogja yang penuh aneka warna tempat wisata justru tidak bisa terakses oleh warganya tapi itulah kapitalisme, ia tidak peduli akan ada orang-orang yang akhirnya mengalami sindrom kurang piknik gara-gara tidak ada dana piknik. Sindrom kurang piknik ialah istilah kekinian yang artinya kurang lebih ialah stres atau tekanan mental yang dialami seseorang karena tidak bisa menyegarkan jiwa raganya dengan aktifitas berwisata. Berbagai studi juga mengungkapkan bahwa kesehatan psikis mempengaruhi lingkungan sosial, maka demikian pula stress akibat kurang piknik ini bisa mempengaruhi kehidupan bahkan gangguan sosial. Diperlukan perimbangan tindakan agar semua aktifitas wisata di Jogjakarta dapat beriringan harmonis untuk semua kelas sosial.

Lalu bagaimana solusinya? Memanfaatkan dan mengoptimalkan RTH (Ruang Terbuka Hijau) adalah solusi paling sederhana. Beberapa peraturan perundangan mengartikan Ruang Terbuka Hijau Publik yang selanjutnya disingkat RTHP adalah ruang terbuka hijau dalam bentuk bidang tanah terbuka milik Pemerintah. Bahasa harfiahnya adalah taman-taman yang bisa digunakan warga. Fungsi utamanya adalah pengendali pencemaran dan kerusakan tanah, air dan udara,tempat perlindungan plasma nutfah dan keanekaragaman hayati,pengendali tata air,sarana estetika kota,dan sarana interaksi sosial.

Kota-kota seperti Malang dan Bandung sudah memulainya dengan cukup baik dengan aneka tamannya. Penting sekali untuk mulai mengelola dan mendesain ulang RTH secara profesional sebagai salah satu alternatif utama warga Jogja untuk berwisata gratis dengan nyaman dan terjangkau. Termasuk aneka paket pemasarannya. Cukuplah hanya biaya parkir yang dikeluarkan oleh warga apabila mereka membutuhkan datang ke taman-taman kota sebagai pengejawantahan dari RTHP.

Hal penting yang perlu diperhatikan dalam pemanfaatan RTHP adalah tidak mengijinkan aktivitas hiburan berbayar di area tersebut. Jangan menambah penderitaan warga yang memang tidak bisa mengakses aneka pusat hiburan di tempat lain karena tidak mampu secara finansial dengan malah mengijinkannya di area RTHP. Bayangkan saja misalnya ada sebuah keluarga kurang mampu dengan dua atau tiga anak harus mengeluarkan uang lagi di area RTHP karena anak-anaknya ingin naik wahana odong-odong. Belum lagi nanti ada wahana kereta mini, bianglala mini, dsb. Akhirnya RTHP akan dihindari lagi oleh warga miskin dan sindrom kurang piknik pun berlanjut. Biarlah mereka yang ingin berpiknik di RTHP membawa bekal makanan masing-masing dari rumah. Mari mulai kita rencanakan bersama keberadaan RTH/ RTHP ini mumpung segalanya belum terlambat dan kesenjangan sosial & ekonomi menjadi masalah lanjutan dalam suasana Jogja yang terkenal berhati nyaman.

VIDEO PILIHAN