Mohon tunggu...
Setiawan Priatmoko
Setiawan Priatmoko Mohon Tunggu...

Tourism activist, citizen reporter, futurist. Peneliti di Inspect.id email:eraynesance@yahoo.co.id

Selanjutnya

Tutup

Wisata Pilihan

Wisata Prostitusi dan Akibatnya

31 Mei 2016   10:18 Diperbarui: 8 Maret 2017   18:00 630 1 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Wisata Prostitusi dan Akibatnya
Foto: themalayonlin.com

Kemarin saya melihat sebuah tayangan berita kriminal di TV nasional, sebuah rumah kost digerebek aparat karena menjadi lokasi berbuat mesum. Tampak dalam tayangan tv beberapa wanita dan pria menutupi wajahnya supaya tidak tersorot kamera. Petugas kepolisian dan Satpol PP nampak hilir mudik. Lain waktu ada pula berita penggerebekan sebuah hotel melati yang diduga menjadi tempat kumpul pasangan tidak resmi menginap sekamar. Berita-berita demikian kini seolah menjadi hal yang biasa, namun akibat tidak mengenakkan sering menimpa para pekerja maupun pemilik kos harian dan hotel. Minimal mereka terkena stigma negatif.

Beberapa waktu yang lalu saya dan teman-teman dari sebuah lembaga riset melakukan penelitian dan pengkajian sebuah daerah di pantura. Kajian tersebut untuk mencari serta menelaah potensi-potensi pariwisata dan membuatnya menjadi sebagai sebuah rencana pengembangan. Salah satu problem yang kami dapati mirip juga dengan berita-berita di atas. Kos-kosan bertarif harian menjamur dan sering menjadi ajang perbuatan asusila, sementara hotel-hotel besar semakin sepi. Tempat wisatanya penuh rumput liar dan tidak terurus. Padahal dulu daerah tersebut merupakan daerah yang lumayan ramai dikunjungi wisatawan. Pada akhirnya pariwisata dan berbagai bisnis pendukungnya ikut disalahkan sebagai agen pembawa kerusakan moral yang ujung-ujungnya kerusakan ekonomi juga.

                                                                                        

Organisasi Pariwisata dunia dibawah PBB yaitu WTO (World Tourism Organization) menyatakan dengan tegas dalam resolusinya (Resolution A/RES/338 (XI) tahun 1995) menolak semua aktivitas eksploitatif yang bertentangan dengan hak asasi manusia serta mendukung saling pengertian, rasa hormat untuk semua bangsa dan budaya, serta pembangunan berkelanjutan. Cukup jelas bahwa pariwisata sebenarnya sangat menentang hal-hal berunsur “esek-esek” namun sebaliknya sangat mendukung dan menghormati budaya setempat. Kalau sudah demikian, makin jelaslah bahwa pariwisata di Indonesia yang masyarakatnya menjunjung tinggi budaya tidak memberi tempat hal-hal yang bertentangan dengan harkat martabat manusia dan budaya. Apalagi undang-undang di Indonesia juga jelas mengatur dan melarangnya. Kalau ada orang atau pelaku bisnis yang mencibirnya, silahkan saja, semua ada konsekuensinya dan diserahkan kepada kemampuan masing-masing dalam menanggung setiap konsekuensi tersebut. Bagi yang tidak suka, silahkan nyinyir tapi jangan lupa aneka perundangan dan peraturan daerah beserta aparat hukum siap menggilas.

Menarik  juga apa yang menjadi fenomena masyarakat Indonesia saat ini. Usia wisatawan yang semakin muda dan didominasi oleh kalangan anak-anak dan pelajar dari ekonomi menengah ke atas membuat seleksi daerah-daerah tujuan wisata semakin sensitif. Kehati-hatian dari para guru dan pengajar agar anak didik mereka relatif tidak terpapar nilai-nilai yang tidak mereka sukai menjadi poin penting bagi daerah-daerah wisata untuk berhitung dan berbenah.

Belum lama saya bertemu dengan tim manajemen sebuah grup jaringan hotel bintang yang cukup besar di Indonesia yang memiliki cabang hotel di Jogjakarta. Mereka mendapat informasi dari para guru atau pengelola sekolah yang membawa rombongan ke Jogja dan menginap di hotel mereka. Menurut para guru itu, saat ini banyak sekolah dari Jakarta dan sekitarnya memilih berwisata di Jogja dibandingkan ke sebuah tempat di daerah lain karena disini murid-murid tidak beresiko melihat hal-hal yang dianggap vulgar bagi anak-anak. Misalnya melihat bule wanita yang tidak memakai  penutup dada ketika di pantai. Jogja harus benar-benar berusaha keras untuk terus menjaga citra yang sudah sangat baik ini.

Kalau melihat hal-hal yang dianggap vulgar saja menjadi penilaian, apalagi melakukan pembiaran hal-hal yang bertentangan dengan resolusi WTO di atas. Walaupun begitu, semua tetap berpulang kepada masing-masing pelaku. Semua pilihan ada kosekuensinya dan tiap orang atau pelaku bisnis mungkin punya kemampuan yang berbeda menanggung setiap konsekuensi itu.  (Pernah dimuat di Harian Bernas tanggal: 27 Mei 2016)

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x