Mohon tunggu...
Setiawan Priatmoko
Setiawan Priatmoko Mohon Tunggu...

Tourism activist, citizen reporter, futurist. Peneliti di Inspect.id email:eraynesance@yahoo.co.id

Selanjutnya

Tutup

Wisata Pilihan

Pariwisata Jogja dan Kondotel

7 Desember 2015   09:45 Diperbarui: 8 Desember 2015   04:02 203 0 0 Mohon Tunggu...

Suatu hari saya ‘dicurhat-i’ teman yang menjadi pemasar properti di Yogyakarta. Setelah malang melintang sukses membantu menjualkan berbagai tipe unit rumah, kantor, atau ruko kini dia juga merambah sebagai agen penjualan kondotel. Secara harfiah kondotel adalah unit-unit kamar pada bangunan tinggi/hi rise building yang dijual kepada pihak lain untuk kemudian dikelola dan disewakan sebagai kamar hotel oleh pihak manajemen hotel.

Nah ketika dia mulai mencoba menawarkan unit-unit kondotel kepada klien-klien nya warga Yogyakarta yang biasa membeli properti ternyata tidak semudah menjual rumah, ruko, atau bahkan gudang. Bahkan kadang muncul ketakutan dan kecurigaan dari calon pembeli tersebut tentang masa depan kondotel dibandingkan mereka membeli rumah atau ruko.

Pada akhirya saya memang harus memaklumi kondisi tersebut. Yogyakarta dalam 4 tahun belakangan ini memang seperti mengalami keterkejutan budaya (dan investasi). Belum pernah dalam sejarahnya tiba-tiba investor hotel, apartemen, perumahan elit, dan sekarang kondotel nyaris serentak membangun di kota wisata kedua setelah Bali ini.

Bagi sebagian orang yang melihat dari dalam alias dari kaca mata warga yogyakarta mungkin agak mengagetkan. Namun apabila kita melihat dari spektrum yang lebih besar, baik secara nasional ataupun regional di ASEAN saja, maka menjadi masuk akalah mengapa pembangunan tersebut begitu masif terjadi.

Secara nasional, Yogyakarta menjadi kota yang dianggap stabil secara ekonomi maupun keamanan. Sebagai kota wisata dan pendidikan juga sudah cukup kondang. Mungkin masih sulit mengalahkan Pulau Bali dalam kunjungan wisatawan, namun secara potensi dan kelapangan untuk berinvestasi lebih menjanjikan.

Bahkan bagi investor yang hanya sekedar ingin mendapatkan capital gain (peningkatan nilai aset untuk diambil selisihnya) peluang di Jogja masih cukup terbuka. Belum lagi apabila bandara baru di Kulon Progo selesai dibangun, maka penerbangan langsung dari berbagai negara akan menjadi semakin murah bagi wisatawan. Sangat masuk akal dan menjanjikan.

Kembali ke soal kondotel yang dijual teman saya tadi,muncul pertanyaan dari kliennya: kalau memang menguntungkan kenapa kamar-kamarnya (unit-unit) harus dijual ke orang-orang? Jangan-jangan mau bangkrut! Mendapat tanggapan demikian sejenak teman saya terdiam, terkesima karena tidak menyangka muncul pertanyaan demikian.

Jawabannya sebenarnya mudah namun tidak mudah merangkai kata agar tidak menyinggung kliennya bahwa developer kondotel pada hakikatnya sama saja dengan penjual gudeg. Jika itu bisa saling menguntungkan dan memberi manfaat pastilah akan dilakukan semua pebisnis. Tak mungkin bakul gudeg mau menghabiskan gudeg buatannya sendiri kalau yakin bisa untung dijual dan menyenangkan pembeli gudegnya.

Faktanya masih banyak warga Jogja yang tidak menyadari bahwa perlahan-lahan bisnis pariwisata dan turunannya akan semakin besar di sini. Data dari BPS Yogyakarta menunjukkan kenaikan pertumbuhan kunjungan wisatawan, waktu inap, dan juga banyaknya jumlah rapat, wisata insentif,konvensi, dan pameran terus berlangsung. Banyaknya keunikan wisata dan budaya serta harga yang murah untuk berbagai makanan, suvenir, dan jasa menjadi pilihan banyak kalangan (pribadi dan perusahaan) untuk menyelenggarakan kegiatan wisata maupun rapat di sini.

Dari situ akan bisa dipahami mengapa para investor memilih kondotel menjadi alternatif untuk dapat merengkuh keuntungan ekonomi besar di Yogyakarta secara cepat dan dalam jangka panjang dengan membagi modal awal bersama para pembeli kondotel tersebut. Pengamatan yang saya lakukan di salah satu developer kondotel di Sleman didapati bahwa banyak pembeli unit-unit kondotel tersebut berasal dari luar Yogyakarta.

Hal ini bukan karena orang Yogyakarta tidak mampu membeli, namun potensi keuntungan jangka panjang kondotel memang belum pernah muncul di ‘kebudayaan’ Yogyakarta sehingga sebagian besar warga Jogja belum mendapat acuan/referensi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x