Mohon tunggu...
Setiawan Priatmoko
Setiawan Priatmoko Mohon Tunggu...

Tourism activist, citizen reporter, futurist. Peneliti di Inspect.id email:eraynesance@yahoo.co.id

Selanjutnya

Tutup

Wisata

Bisnis Pariwisata Jogja dan ‘Anak Training-an’

12 Agustus 2015   05:16 Diperbarui: 12 Agustus 2015   05:16 125 1 0 Mohon Tunggu...

Belum lama saya diajak menemani rekan saya menemui relasi bisnisnya di sebuah kafe. Kafe tersebut berada di sebuah hotel berbintang di pusat kota Jogjakarta. Secara penampakan fasilitas, furniture, menu, dan berbagai ornamen yang mempercantik ruangan kafe sudah sesuailah dengan status bintang hotel tersebut. Tiba giliran minuman dihantarkan ke meja, terhenyaklah saya. Dua orang remaja dengan baju putih dan celana berwarna hitam yang menghantarkan minuman tersebut menyentuh perasaan saya. Mereka adalah siswa sebuah sekolah perhotelan yang sedang menjalankan Praktek kerja Lapangan/ on the job training (PKL/OJT) sebagai salah satu syarat pemenuhan kurikulum.
foto: danderma.co

Bagaimana saya tidak tersentuh sekaligus trenyuh, baju putih yang mereka kenakan sudah tidak bisa dikatakan lagi berwarna putih cemerlang khas pelayanan hotel berbintang. Antara putih, kuning, dan agak sedikit kelabu karena termakan usia dan debu. Celana panjang hitam yang dipakai mungkin karena sudah terlalu sering dicuci, tidak bisa lagi disebut hitam, licin, dan necis. Wajahnya nampak kering, sisiran rambut, dan senyum yang ditampilkan tidak bisa menutupi bahwa persiapan mental maupun teknis belum paripurna dibekali sebelum mereka terjun OJT.

Gambaran anak-anak muda di Jogjakarta yang sekolah atau kuliah di bidang kepariwisataan dan melakukan praktek kerja lapangan  di berbagai institusi bisnis pariwisata rata-rata mirip di atas. Walaupun tidak semua, hal-hal yang nampak remeh di atas sering juga luput dari pantauan sekolah/kampus dan bahkan manajer Sumber Daya Manusia/SDM di hotel, biro perjalanan wisata, objek-objek wisata, maupun instansi pemerintah yang ketempatan anak-anak PKL. Lebih parah lagi jika ada kampus yang kelebihan kapasitas mahasiswa kemudian harus segera mengirim anak didiknya untuk segera PKL karena ruangan kelas akan dipakai adik-adik kelasnya.  Fenomena keterkaitan sekolah atau akademi pariwisata yang terkait dengan institusi bisnis pariwisata ini pada akhirnya akan mempengaruhi persepsi di mata wisatawan (konsumen) yang berkunjung. Winardi(1992) mengemukakan bahwa persepsi merupakan proses kognitif, di mana seseorang individu memberikan arti pada lingkungan. Lingkungan di sini adalah lingkungan bisnis pariwisata yang diinterpretasikan oleh tamu/wisatawan.  Survey kecil yang saya lakukan terhadap beberapa teman, mereka menyatakan kurang puas jika telah membayar penuh harga sebuah jasa/produk tetapi dilayani oleh orang yang “nampak nyata” sebagai orang yang sedang menjalani PKL/OJT. Istilahnya, ‘anak training-an’.

Namun dalam usaha sinkronisasi antara service excelence, persepsi, ketenagakerjaan, dan dunia pendidikan ada hal positif yang pernah saya temui dilakukan oleh beberapa hotel bintang. Hotel tersebut selain memberikan pelatihan singkat dan pemaparan visi misi perusahaan serta standar pelayanan dan penampilan kepada mahasiswa PKL, juga memberikan seragam sama persis dengan karyawannya. Termasuk layanan laundry gratis untuk seragam tersebut karena tak jarang seragam yang dipinjamkan dibuat dengan kain khusus rancangan desainer ternama. Menu makan pun tidak dibedakan dengan karyawan tetapnya. Beberapa membebaskan uang tip yang diberikan dari tamu untuk dimiliki sepenuhnya oleh peserta PKL sebagai bentuk penghargaan bahwa mereka telah bekerja memuaskan. Hotel tersebut tidak ingin tamunya terlalu tahu bahwa yang melayani mereka adalah “anak training-an” alias mahasiswa yang sedang PKL. Akhirnya salah satu efek dari strategi tersebut, penetapan harga-harga berbagai pelayanan dan produk hotel tidak banyak terkoreksi. Hotel tersebut mampu menjaga citra sebuah kesempurnaan pelayanan total, bukan pelayanan “anak training-an” sekaligus memberikan sumbangsih bagi kemajuan pendidikan kepariwisataan.

Bermunculannya hotel-hotel, restoran, kedai kopi, dan objek-objek wisata di Jogjakarta belakangan ini seharusnya lebih membuat waspada para pelaku bisnis pariwisata dan institusi pendidikan kepariwisataan. Permintaan jumlah tenaga kerja dan profesional agar bisnis milik investor berjalan baik membutuhkan tanggapan yang harus melebihi ekspektasi agar tidak muncul kekurangpuasan. Keadaan kurang memuaskan yaitu dimana  lulusan dari Jogjakarta harus memenuhi terlebih dulu strata terbawah dari kebutuhan pekerja. Sementara itu posisi mulai asisten manajer ke atas dan staf intelektual taktis sudah di-droping dari kantor pusat mereka.

Tindakan para investor tersebut tidak sepenuhnya bisa disalahkan.Hal ini berkaitan dengan kesan pertama mereka atas kemampuan tenaga lokal mungkin masih dianggap sebagai staf yang kemampuan dan penampilannya masih sederhana dan apa adanya. Bagi perusahaan yang sudah eksis terlebih dahulu di Jogjakarta, bayang-bayang pembajakan tenaga ahli mereka oleh investor baru sudah menjadi rahasia umum. Apabila institusi bisnis dan institusi pendidikan di Jogjakarta membiarkan kondisi “apa adanya dan sederhana” seperti siswa PKL yang melayani saya di sebuah hotel berbintang itu masih berlanjut, bersiap-siaplah hanya menjadi pemeran pembantu dalam dahsyatnya kompetisi bisnis pariwisata di esok hari.


(tulisan pernah dimuat di Harian Bernas Jogja, Sabtu 8 Agustus 2015)

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x