Ray Indra Taufik Wijaya
Ray Indra Taufik Wijaya Freelancer

Lulusan Business Intelligence. Pecinta humanisme dan teknologi.

Selanjutnya

Tutup

Jakarta

Mimpi di Siang Bolong, Taman Sekelas Central Park di Jakarta?

13 Januari 2018   12:17 Diperbarui: 16 Januari 2018   07:58 310 1 0
Mimpi di Siang Bolong, Taman Sekelas Central Park di Jakarta?
Central Park di New York via www.planetware.com

Apakah kamu sudah mengetahui bahwa pagar yang dulu mencegah orang-orang untuk memasuki kawasan berumput di Monumen Nasioan a.k.a Monas akhirnya dibuka? Alhasil, secara perlahan namun pasti tanda-tanda larangan yang dulu berseliweran akhirnya dicabut juga. Dampaknya siapa pun diperbolehkan untuk masuk ke kawasan berumput tersebut secara bebas. Ya, tidak masalah. Namun menjadi masalah ketika orang-orang mulai bertindak anarkis dengan merusak tanaman di sekitarnya, membuang sampah sembarangan, dan hal negatif lainnya.

Kebijakan ini dibuat oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta, yaitu Sandiaga Uno yang terinspirasi dengan kemegahan Central Park, New York, Amerika Serikat. Apa kamu merasa bahwa kebijakan ini seakan dibuat secara terburu-buru? Seperti mimpi di siang bolong bahwa bakal ada taman sekelas Central Park di jantung ibukota. Saya bukan ingin meremehkan mimpi besar dari Sandiaga Uno, tapi semua butuh proses yang panjang untuk bisa menyamai Central Park. Saya pribadi, akan memberikan 6 saran untuk Sandiaga Uno agar kebijakan ini berhasil.

  1. Lakukan Research yang Mendalam
    Hal pertama dan terpenting yang harus dilakukan oleh Sandiaga Uno, staf dan lembaga terkait (semisal Dinas Pertamanan & Pemakaman, PAM, dll) adalah melakukan research yang mendalam. Tidak perlu jauh-jauh untuk menyamai Central Park, minimal Monas bisa sekelas Taman Bungkul di Surabaya yang mendapatkan banyak penghargaan atau Hongkong Park yang begitu megahnya. Setelah mendapatkan komparasi dengan taman-taman lainnya, silakan pilih dan pilah mana yang ingin ditiru atau tidak perlu. Kalaupun ingin membuat inovasi sendiri dan ingin tampil beda, pastikan orang-orang profesional yang melakukannya. Tidak hanya itu, diperlukan research yang mendalam perihal tata ruang, arsitektur, tanaman yang akan ditanam dengan menyesuaikan cuaca di Jakarta, pembuatan danau buatan, survei tentang kebiasaan dan minat warga, dll. Semua itu butuh research yang mendalam, tidak bisa terburu-buru.
  2. Perencanaan yang Matang
    Setelah research, hal lainnya yang diperlukan adalah perencanaan yang matang. Kira-kira butuh biaya berapa untuk membangun semua itu? Berapa staf atau pekerja yang dibutuhkan? Berapa perkiraan biaya untuk perawatan selama setahun? Semua itu harus direncanakan dan transparan tentunya agar tidak terjadi tindakan korupsi. Biaya dibuat serinci mungkin dalam pembukuan, dari pembelian tanaman, perbaikan fasilitas Monas yang sudah ada, pembangunan air pancur, penghijauan, dll. Kalau bisa sih,semua rincian biaya yang sudah direncanakan itu ditampilkan dalam web resmi DKI Jakarta untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.
  3. Eksekusi
    Setelah research dan perencanaan yang matang sudah dilakukan selama beberapa waktu. Eksekusi di sini bukan berarti semuanya sudah jadi yaa. Di sini adalah tahapan yang paling krusial, yaitu proses pembangunan. Tahanapan ini yang prosesnya akan berlangsung paling lama, bisa sampai bertahun-tahun.
  4. Lakukan Testing di Beberapa Kawasan
    Setelah semua proses pembangunan selesai, inilah saatnya untuk melakukan testing di beberapa kawasan Monas (Jangan semuanya dibuka pagarnya seperti saat ini). Bagaimana tanggapan warga, apakah mereka senang dengan taman baru di Jakarta? Berapa kunjungan warga setiap bulannya? Dari mana saja mereka datang? Dll. Jika hasil testing-nya berjalan memuaskan, mari kita masuk ke tahapan selanjutnya.
  5. Sosialisai yang Masif
    Lakukan sosialiasi yang masif untuk memperkenalkan ikon baru dari Jakarta ini, bisa melalui online (websiteremsi DKI Jakarta, televisi, review web traveling, social media, youtube, dll) atau offline (brosur, gambar di bus transjakarta, majalah/koran, dll).
  6. Implementasi
    Pembukaan! Saatnya taman yang diimpikan oleh Sandiaga Uno ini dibuka dan dinikmati tidak hanya oleh warga Jakarta, tapi juga kota-kota lainnya di Indonesia atau warga negara asing. Taman ini pun bisa digunakan untuk acara-acara seperti seminar, konser, perayaan tahun baru, kegiatan komunitas, sekedar olahraga, piknik, dll.

Kok ribet sih? Tidak seperti legenda Roro Jonggrang yang menginginkan candi bim salabim jadi dalam semalam. Yups, semua itu butuh proses yang panjang jika Sandiaga Uno ingin benar-benar membuat taman yang menyamai Centar Park, New York, Amerika Serikat. Bermimpilah setinggi mungkin, tapi musti realistis juga yaa. Okay, cukup sekian untuk opini saya tentang kebijakan Sandiaga Uno ini. Terima kasih.