Ratna Satyawati
Ratna Satyawati

Seseorang wanita biasa dengan kesabaran yang sedang diuji

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Prosa Lirik untuk Ayu

16 September 2016   09:08 Diperbarui: 16 September 2016   09:18 117 1 0
Prosa Lirik untuk Ayu
💛

Pagi ini langit tampak mendung. Rintiknya mulai terasa membasahi tanah di halaman depan. Kota kecil yang sepi ini jadi terasa agak sejuk dari biasanya. Hampir 3 jam Ayu terduduk dan tertegun menatap lembaran kertas usang yang tak sengaja ia temukan. Agak sedikit berdebu namun Masih tampak terpelihara .... Ayu bahkan merasa hampir sempat terlupakan .

Entah  mengapa bayangan itu tiba-tiba saja hadir......, seperti mengingatkan Ayu  pada beberapa tahun yang lalu. Pada sosok Dio yang Ayu kagumi...... ya.... ,nama itu sempat singgah lama terbenam dalam kalbu Ayu. Saat itu bagi Ayu, Dio adalah sosok pribadi yang santun, dewasa, sedikit pendiam, tenang dan tak banyak bicara. Perkenalannya semasa SMA dirasakan Ayu hanya  sebatas teman biasa dan tak lebih dari itu. Rutinitas pertemuannya hanya karena suatu kegiatan bersama dalam kelompok vocal grup dan kegiatan belajar seputar sekolah. 

Jujur, saat itu Ayu merasakan Ada semburat relung harap yang terpendam yang tak sengaja Ayu sembunyikan. Perasaan itu begitu kuatnya namun seperti sengaja tertahan. Bayangan akan sebuah kerinduan yang tak terucap sesungguhnya sangat lah begitu menyiksa hati Ayu. Namun Ayu sadar akan kesederhanaan cara berpikirnya,  untuk tak bisa atau lebih pada tak ada keberanian untuk mengungkapkan hal-hal yang menyangkut isi hatinya. 

Ada ungkapan rasa yang sangat tak nyaman dalam hati yang makin terasa sakit. Benar kata seorang penyair : jika ada yang pernah mengatakan seperti ini : " .... tolong beritahu aku jika ada rasa yang lebih dalam dari sebuah Rindu.....". Sekuat apa pun rindu yang Ayu rasakan saat itu seakan tak sempat Ayu utarakan.  Ayu hanya mampu menatap Dio dari kejauhan. Meski doa-doa yang ia lantunkan di setiap selesai sholatnya hanya bisa terkabul melalui mimpi-mimpinya.  Ayu makin tertegun dalam lamunan nostalgia.

Hingga suatu saat, Ayu  berkesempatan untuk hadir di undangan reuni SMA nya. Harapan itu tak pernah pupus. Yang Ayu yakini hanya lah, bahwa suatu saat Ayu akan bertemu Dio.  Namun untuk kesekian kalinya Ayu kecewa. Jangankan sosok kehadiran Dio, sementara wangi parfumnya saja tak pernah Ayu rasakan. Ada penyesalan yang seakan terasa semakin menekan.

Penantian itu memang seperti tak pernah ada ujungnya. Harapan itu seakan semakin sia-sia. Rindu ini terasa sangat menyiksa batinnya. Tak terasa mata Ayu mulai berkaca kaca, serasa berkata "Ya Allah,.... andai aku punya sedikit saja keberanian untuk sekedar menyapanya, mungkin aku tak akan sesedih dan sekecewa ini..." Hati ini begitu terasa sesak. Mengapa harus ada rasa kangen yang seperti ini. 

Ayu coba hibur dirinya untuk tumpahkan semua rasa rindu itu pada sehelai kertas. ...... "Diooo.... aku kangen......" Tapi yang ada hanya lah isak tangis yang semakin terdengar parau. Entah seakan tak sanggup lagi memendam rasa,  Ayu pun tanpa sadar  meremas kertas yang telah basah oleh tetesan air matanya. Seperti makin larut dalam suasana. Hingga seseorang menyadarkannya untuk segera meniup lilin lilin di atas tart yang ada di hadapannya. Seseorang merengkuh bahunya dan mencium kening Ayu dengan penuh kasih. Dihapusnya air mata yang membasahi pipinya. Apa yang kamu pikirkan Ayu ..... ? Ini hari bahagia kita.

Tidakkah kau lihat dua anak kita tumbuh makin dewasa dan sehat. Ayuuuu...... apa yang membuatmu makin terisak..... ? Dipeluknya Ayu dan Ayu pun seakan tak ingin melepaskan dekapan itu....... Tangisnya mulai mereda meski sambil masih terisak, ...... Ayu pun berucap.... " Aku Tak ingin kehilanganmu lagi dan JANGAN PERNAH TINGGALKAN AKU LAGI DIO,...... " Dio pun tersenyum sambil menjawab ".... Ayu.... Ayu ....mana mungkin aku bisa berpikir meninggalkanmu. ......? Aku begitu mengasihimu Ayu,.....bahkan sejak pertama kali aku mengenalmu. Dan aku bahkan makin bahagia bisa memilikimu Ayu dan dengan apa apa yang telah Ayu berikan padaku. Pandanglah Reza dan Tanti yang makin beranjak besar. Dio pun membisikkan kata kata yang membuat Ayu makin tersenyum bahagia. 

Aku ingin mengajakmu Ayu. Kita bulan madu ke tanah suci,..... maksud Dio apa......? (Tanya Ayu),  lusa kita berangkat. Secepat itukah.....? Aku sudah persiapkan semua ini jauh jauh hari Ayu. Ini hadiah Anniversary yang paling indah dari Tuhan.  Kita patut mensyukurinya. ...."lalu anak anak gimana......? (Tanya Ayu lagi) Biarkan anak-anak sementara kita titipkan pada Ibu dan beliau setuju.

Kebetulan Aku dapat sedikit rizki dari hasil tabungan selama ini. Ayu pun semakin terharu. Ayu kembali memeluk  Dio. Dio pun mempereratnya Sambil mencium tengkuk Ayu dan berbisik " aku tak sabar Ayu,  aku ingin punya satu (1)   buah hati lagi. Ayu tak sanggup lagi berkata kata , Ayu hanya bisa mengucap syukur yang tak henti hentinya. Bayangan di masa lalu itu hanyalah buah dari kesabarannya  menanti. 

Dio memang selalu pintar bikin Ayu merasa tersanjung. Selalu saja ada surprise yang membuat Ayu semakin mencintainya. Ayu selalu bersyukur memiliki imam yang begitu sabar menuntunnya dalam kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawadah dan warohmah. Terimakasih Tuhan telah KAU ciptakan Dio untuk menemaniku. Dan Semoga sampai kami kembali dalam pelukanMu. (ya Allah)........itu doa Ayu saat meniup lilin lilin Anniversarinya yang ke 5. Dari kejauhan terdengar suara suara manja memanggilnya ...... MAMA-PAPA........ (Dan mereka Ayu, Dio dan kedua (2) buah hatinya saling berpelukan dengan penuh kebahagiaan seakan tak terpisahkan) 

untuk Dio:
Menggala, jum'at , 02.59/ 17 September 2016......

💚
💚
💗
💗
💗
💗
💖
💖
💘
💘
💝
💝

-R-