Mohon tunggu...
Ratih Purnamasari
Ratih Purnamasari Mohon Tunggu... Konsultan - Tata Kota

Engineer | r.purnamasari16@gmail.com | Ratih antusias pada isu perkotaan, lingkungan, kebencanaan, smart city, blockchain dan big data. Sebagiaan ide dirangkum di mimpikota.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Trip Artikel Utama

"Travel to Remote", Mama Penjual Ikan dan Koki Kapal Penjual Es Krim

8 Maret 2019   00:31 Diperbarui: 8 Maret 2019   22:58 607
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Suasana kegiatan jual beli tangkapan laut di dermaga Distrik Roswar (Foto:Dokumentasi Ratih)

Kesenjangan itu Mutlak Ada
Mengapa kesenjangan ekonomi ini saya katakan terasa agak memilukan? coba kamu bayangkan, penduduk di Distrik Roswar ini hanya mengandalkan datangnya kapal yang terjadwal cuma  satu kali seminggu, dimana kesempatan itu menjadi harapan satu-satunya menjual hasil tangkapan laut. 

Pada hari itu juga, mama-mama ini bergembira karena sedikit dari hasil penjualan tangkapan lautnya bisa diberi ke anaknya untuk membeli es krim. Bukankah ini semacam ironi? Pulau yang kaya dengan kekayaan bahari dan hasil tangkapan laut yang berkualitas tinggi namun hanya mampu bertahan dari harapan tipis-tipis pada kapal yang bersandar?

Apa yang saya saksikan hari itu mengingatkan saya pada satu teori klasik tentang kemiskinan yang dihadapi para nelayan, tidak hanya di Indonesia melainkan di seluruh dunia. Teori itu mencoba menganalogikan pada dua paradigma yakni: apakah mereka (nelayan) menjadi miskin karena menjadi nelayan atau mereka menjadi nelayan karena miskin.

Penasaran dengan kondisi yang saya saksikan hari itu, saya tidak bisa menahan diri untuk menanyakannya pada forum pembahasan Kajian Lingkungan Hidup Strategis Rencana Tata Ruang Wilayah di salah satu instansi. 

Penekanan saya pada saat forum itu lebih ke menjawab rasa ingin tahu kemana saja nelayan ini menjual ikannya? apakah hanya mengandalkan kapal angkutan barang penumpang yang sejatinya bukan kapal perdagangan perikanan, dan mengapa tangkapan laut Kabupaten Sorong jauh lebih unggul dan bisa diambil dalam kuota besar?

Dari forum itu saya mendapat sedikit gambaran bahwa secara kualitas perikanan baik Distrik Roswar dan Kabupaten Sorong sebenarnya memiliki potensi yang sama bagusnya. Bedanya nelayan di Sorong memiliki wilayah zona tangkapan laut yang lebih luas sedangkan nelayan di Distrik Roswar belum memiliki peralatan atau perahu berkapasitas khusus untuk penangkapan ikan.

Masyarakat di sini hanya menangkap ikan untuk konsumsi sehari-hari saja, sisanya mereka jual. Adapun pada distrik-distrik lain yang memang menjadi lumbung perikanan ternyata hasil tangkapan perikananya tidak terdata cukup baik di dinas terkait. 

Bahkan hasil tangkapan laut itu langsung diangkut oleh kapal pengangkut hasil perikanan yang berlayar dari Kabupaten Nabire, Sorong dan ke Distrik Windesi di Teluk Wondama. Kapal ini datang setiap satu kali dalam tiga minggu. 

Faktor geografis menyebabkan daerah sulit mendata atau sekadar mengetahui adanya tangkapan laut yang dibawa keluar melalui kapal seperti itu. Tapi sungguh tidak bijak bila hanya mengutuki keadaan geografis atas kondisi serba terbata-batannya pemerintah daerah memetakan potensi perikanannya sendiri. 

Mengapa tol laut yang ada di Kabupaten Teluk Wondama belum menjadi sebuah primadona pemerintah daerah dan masyarakat dalam melaksanakan lompatan/percepatan pembangunan ekonomi? Kenapa ya?

Apakah Sebenarnya Pemerintah Daerah Sudah Tahu Fungsi dan Manfaat Dari Tol Laut?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Trip Selengkapnya
Lihat Trip Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun