Mohon tunggu...
Rasssian
Rasssian Mohon Tunggu... Free like a bird -

Personal Blog saya bisa cek di http://rasssian.com | Untuk Galeri Photography bisa cek di ig : Fauziardipitra

Selanjutnya

Tutup

Inovasi

Kegetiran Rakyat Indonesia di Buku "Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma"

20 Februari 2018   17:16 Diperbarui: 20 Februari 2018   17:32 1481
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke roma - Buku ini berisi sekumpulan cerita yang tidak saling berhubungan tetapi memiliki setting yang sama, yaitu masa perjuangan Indonesia yang berkisar sekitar pendudukan Jepang sampai kedatangan Sekutu.

Cerita-cerita pendek Idrus memotret situasi zaman jepang dikala itu sangatlah tersasa hidup. Kita bisa merasakan horor dan tragisnya.

Juga "Dasar yang lebih teguh" di jiwa tokoh-tokohnya, dengan itulah Seno Gumira Alisyahbana, H.B Jassin memberi pengakuan sebagai pembaharu kepada Idrus dan cerpen-cerpennya sama dengan pengakuan kepada Chairil Anwar dengan Puisi-puisinya.

Sedikit latar belakang penulis, Idrus(1921-1979), Lahir di kota Padang, pada tanggal 21 september 1921, dari pasangan Siti Alimah dan Sutan Abdullah. Ketertarikan Idrus dengan dunia sastra telah dimulai semenjak ia duduk dibangku sekolah, terutama di sekolah menengah.

Ia banyak menulis cerpen selain itu juga rajin membaca Novel dari eropa yang dipinjamnya dari perpustakaan sekolah. Minatnya itulah yang mendorongnya bekerja di Balai Pustaka.

Duabelas cerita dalam buku ini merekam sebuah periode singkat dalam sejarah indonesia, tetapi sangat membekas,yakni seperti pembabakan dalam buku ini, dari "jaman jepang" sampai "sesudah 17 agustus 1945", sedang diantara keduanya terdapat "Corat-Coret dibawah tanah".

Jika ilmu sejarah kini menuntut perubahan sudut pandang dalam penulisan sejarah, yakni bukan sekedar memeriksa kejadian-kejadian penting tentang para pemimpin, melainkan tentang segala sesuatu, betapapun tidak pentingnya, yang mampu mengungkap kan kembali gambaran aktual pada masa lalu, seperti kehidupan sehari-hari rakyat, maka buku ini adalah jawabannya.

Penulisan cerita pendek bagi Idrus bagaikan sketsa tentang masyarakat itu sendiri, dalam suatu alur yang mengungkapkan kelugasan dan ironi yang mampu menilai keadaan dengan tepat, yakni perubahan cepat yang menimbulkan orang indonesia merasa asing terhadap dirinya sendiri.

Suatu keadaan yang tidak dilihat dengan getir dan sendu, melainkan dengan kacamata humor. Bahwa cerita-cerita ini ternyata semakin bermakna ketika Indonesia sudah memasuki abad XXI, jelas membuktikan kelasnya sebagai teks yang dihasilkan salah satu penulis Indonesia terpenting.
 -Seno Gumira Ajidarma, sastrawanperaih SEA Write Award-

"Sepuluh menit ... dua puluh menit, nyonya sastra masih berbicara. Mulutnya yang seperti muncung tupai itu kembang kuncup seperti lubang puputan. Lubang hidungnya terbuka sebesar-besarnya, seperti jala dalam air. Tampak bulu-bulu hitam-hitam seperti ikan cumi-cumi. Sedang bicara keluar air ludahnya antara giginya, meleleh di alas dagunya, seperti ingus anak kecil".

Diatas merupakan potongan paragraf pada cerita yang berjudul Fujinkai. Menarik memang, mengulik penggambaran Idrus terhadap gaya tulisannya. Kebengisan sebuah suasana dengan diberikan sedikit tindihan humor yang membuat setiap kalaimat menjadi unik dan mudah dimengerti.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Inovasi Selengkapnya
Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun