Mohon tunggu...
Rara Safembrik
Rara Safembrik Mohon Tunggu... Lainnya - Marketing Support di PT Samudera Luas Paramacitra

Pembuat Brosur, Katalog, Website, Social Media, E-procurement dan Pendokumentasi kegiatan di PT Samudera Luas Paramacitra

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Jangan Lupakan Sejarah, Perusahaan Cirebon Punya Cerita

4 Agustus 2022   15:32 Diperbarui: 4 Agustus 2022   15:42 125 5 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Situasi Tahun 2005 PT Niri (Sumber Photo : Dokumentasi PT SLP)

Pernikahan Liem Kim Pa dan Sih Hian Nio -- 1957
Pada 29 Juni 1957, Liem Kim Pa menikahi seorang perempuan bernama Sih Hian Nio. Sih Hian Nio adalah putri pertama dari Sih Kik Boen dan Liem Biet Nio, cucu dari pengusaha kain Sih Tiauw Hin yang berdomisili di Semarang.
Pasangan Liem Kim Pa dan Sih Hian Nio dikaruniai 5 orang anak, 4 laki-laki dan 1 perempuan.

1.  Liem Hok Gim -- Martinus Gimin Widjojo Limansubroto (Martin)  
2.  Liem Siok Hwie -- Catherine Dewi Murni Limansubroto (Catherine)
3.  Liem Hok Swan - Irwan Hardjono Limansubroto (Irwan)
4.  Adi Suharto Limansubroto (Adi)
5.  Budi Hartono Limansubroto (Budi)

1967 -- Kebakaran pabrik
Pada era Go Gwat Beng sebagai kepala pabrik, karyawan masih diizinkan untuk mengenakan pakaian kerja apa saja, bahkan mereka seringkali tidak mengenakan sepatu tertutup atau bertelanjang dada. Tidak jarang juga operator di dalam pabrik merokok. Saat sedang bekerja pada tahun 1967, ada operator di bagian belakang pabrik yang merokok dan membuang puntung rokoknya ke lantai. Puntung rokok ini mengenai tumpukan karet sehingga timbullah percikan api.

Karena kurangnya ketersediaan alat pemadam api di dalam pabrik, api yang awalnya kecil dengan cepat merambat dan melalap mesin-mesin yang berada di bagian belakang pabrik. Untungnya tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Sejak saat itu, diberlakukan aturan dilarang merokok di dalam pabrik. Secara bertahap diberlakukan juga aturan untuk mengenakan seragam, alat pelindung diri (helm, masker, safety shoes dst.) dan alat pemadam api dipasang di berbagai lokasi. Para karyawan juga mendapat pelatihan keselamatan berkala.
 
1972 -- Rice Hulling Rolls
Karena Indonesia adalah negara agraris dan sebagian besar penduduknya pemakan nasi, PT NIRI menilai sektor pertanian sebagai sektor yang menjanjikan. Muncullah ide dari Liem Kim Pa untuk membuat rice hulling rolls atau rol pemecah gabah yang saat itu masih banyak diimpor dari Jepang. Dengan keterbatasan mesin, tenaga kerja dan pengalaman, Liem Kim Pa melakukan riset formula rol ini dengan menggunakan bahan dasar karet alam. Rol ini dicoba di beberapa penggilingan gabah hingga akhirnya di tahun 1973 PT NIRI mulai memasarkan rol pemecah gabah pertamanya dengan merek Maskot. Tahun 1974, rol bermerek Hercules diluncurkan untuk memperluas pasar di daerah Jawa. Liem Kim Pa, yang kala itu bertindak selaku owner sekaligus marketing, memasarkan produk ini sendiri secara keliling dengan mobil Austin.
Pada tahun 1975, keluarlah merek-merek rol lainnya seperti Golden Dragon, Double Eagle, Panther dan Flying Horse. Keempat merek ini masih digunakan hingga saat ini.
 
Budi Santoso
Dalam suksesnya sebuah perusahaan, pasti ada orang-orang yang berjasa untuk mengembangkan perusahaan tersebut. Beliau adalah Budi Santoso. Semula beliau adalah orang kepercayaan di sebuah pabrik penggilingan beras di Ciledug. Karena kepandaian dan ide-ide briliannya, beliau berhasil mengupas gabah menggunakan rol Iseki merek Mawar. Tahun 1973, beliau menjadi anak buah kapal di sebuah kapal ikan. Namun karena pengalaman beliau, beliau direkrut untuk menjalanan sebuah penggilingan beras di daerah Sukra, Jawa Barat. Saat itu, NIRI yang sedang melakukan riset untuk produksi RH Roll bertemu dengan beliau. Kepala Pabrik NIRI saat itu, Go Gwat Beng, mengajak Budi Santoso untuk bergabung ke PT NIRI untuk mengembangkan berbagai produk karet. Akhirnya Budi Santoso memulai kariernya di PT NIRI pada 19 Juli 1974 hingga akhirnya beliau diangkat menjadi direktur teknik.  


1976 -- Dimulainya produksi artikel karet
Pada tahun 1976, Go Gwat Beng yang juga salah satu tangan kanan Liem Kim Pa, memiliki sebuah mobil Fiat yang sedang rusak. Karena kesulitan mencari suku cadang, Go Gwat Beng meminta Budi Santoso, yang juga membantu mengembangkan produk rice hulling roll, untuk membuatkan engine mounting untuk mobilnya. Ternyata engine mounting tersebut terbukti berkualitas dan tahan lama. Sejak saat itulah PT NIRI mulai menerima pembuatan artikel teknik yang jenisnya semakin beragam.

Pada tahun-tahun berikutnya, NIRI mulai merambah ke produksi spare part karet untuk pompa air, sol sepatu dan packing tutup botol. Industri pengguna produk artikel ini pun bertambah meliputi industri otomotif, rotan dan lain sebagainya.


1985 -- Generasi ke-3
Pada tahun 1985, Liem Hok Giem (Martin), yang adalah anak pertama dari pasangan Liem Kim Pa dan Sih Hian Nio, mulai bergabung di PT NIRI setelah menyelesaikan Pendidikan S1 di Universitas Parahyangan, Bandung. Di tahun yang sama, Liem Kim Pa mengajak Budi Santoso dan Martin untuk menambah jenis artikel teknik untuk diproduksi. Karena banyaknya pabrik rotan yang berada di wilayah 3 Cirebon, mereka berkunjung ke pabrik-pabrik rotan untuk melakukan riset tentang rol rotan. Rol rotan ini dibuat dengan menggunakan bahan dasar karet sintetis yang tahan terhadap gesekan. Karena mendapat banyak apresiasi atas ketahanan produk rol rotan ini, PT NIRI semakin percaya diri untuk memproduksi dan menawarkan artikel karet lainnya.  


1989 -- Pemindahan fasilitas produksi
Karena lokasinya yang berada di tengah kota Cirebon, PT NIRI sering mendapatkan teguran atas polusi udara dan suara yang disebabkan oleh beroperasinya mesin-mesin besar di dalam pabrik. Akhirnya, dengan tujuan membangun fasilitas produksi yang lebih efisien, Liem Kim Pa dibantu oleh Martin dan Ketty (istrinya) mulai membangun pabrik kedua di Jalan Raya Cirebon-Tegal km 10.1, Kanci. Fasilitas ini berdiri di atas tanah seluas kurang lebih 4.000 m2 dan kemudian dibagi menjadi beberapa gedung yang memiliki fasilitas produksi, fasilitas penunjang, kantor dan fasilitas penyimpanan. Mesin-mesin besar yang digunakan untuk membuat compound dipindahkan seluruhnya ke Kanci. Karena menjalankan aktivitas di dua lokasi dinilai tidak efisien, secara bertahap seluruh aktivitas di lokasi Jl. Talang no. 4 pun berkurang dan akhirnya dialihkan seluruhnya ke Kanci pada tahun 2005.


1990  -- PT Samudraluas Paramacitra
Pabrik ke-2 yang terletak di Kanci disahkan pendiriannya dengan nama CV Samudra Luas. Nama Samudra Luas ini adalah cerminan visi besar sang pendiri, Liem Kim Pa, yang bermimpi untuk membuat produk yang diekspor ke luar negeri. Selain itu, Liem Kim Pa juga mempunyai visi untuk membuat produk-produk untuk industri maritim, seperti fender dan floating hose yang kala itu masih diimpor dari luar negeri. Pada tahun 1992, CV Samudra Luas berubah menjadi PT Samudraluas Paramacitra (SLP).
Di tahun 1992 juga Liem Kim Pa meminta bantuan dari kamar dagang Belanda untuk bisa diadakan alih teknologi tentang produk-produk karet. Permintaan ini disetujui dan PT SLP diberi kesempatan untuk belajar langsung dari tenaga ahli Belanda bernama Mr. Joop Melman. Beliau sempat tinggal di Cirebon selama kurang lebih 3 bulan.


1993 - Suksesi
Tahun 1993, kesehatan Liem Kim Pa menurun karena kanker hati. Akhirnya Liem Kim Pa tutup usia pada tanggal 9 September 1993 di Singapura.
Di tahun yang sama, anak ke-4 dari Liem Kim Pa, Adi Suharto Limansubroto (Adi) mulai bergabung di PT SLP setelah menyelesaikan pendidikan S1 Ekonomi Manajemen di Universitas Atmajaya Jakarta. Dengan Martin sebagai direktur utama sekaligus R&D, Adi membawahi divisi marketing dan Ketty sebagai direktur keuangan, PT SLP berevolusi menjadi perusahaan kelas nasional yang sekarang ini kita kenal.
Produk-produknya pun berkembang dari yang semula rice hulling rolls dan artikel teknik menjadi fender (karet bantalan dermaga), oil & gas rubber parts, elastomeric bearing pads, marine airbags dan banyak lagi. Sebagian dari produk-produk ini dapat Anda lihat pada display kami di NIRI Museum.


2002 -- Produksi marine fender
Indonesia adalah negara maritim dan oleh karenanya merupakan pasar yang luas untuk produk marine fender atau bantalan dermaga. Peluang ini akhirnya diambil oleh SLP yang kala itu mendapat kepercayaan dari salah satu BUMN untuk memproduksi fender. Dengan pengetahuan yang sangat terbatas untuk membuat cetakan, SLP sempat mengalami beberapa kali kegagalan mulai dari cetakan yang jebol, compound yang tidak matang, tidak tahu cara melepaskan fender dari cetakan dan lain sebagainya. Kegagalan-kegagalan tadi mendorong SLP untuk melakukan banyak modifikasi cetakan dan compound sampai akhirnya SLP bisa membuat fender dengan kualitas yang baik. Fender dengan merek SLP Fender ini sudah terpasang dari Sabang sampai Merauke.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan