Mohon tunggu...
Rappi Darmawan
Rappi Darmawan Mohon Tunggu... Wiraswasta - saya pekerja baik-baik

punya seabrek cita-cita, belum taat beribadah, ingin memperbaiki diri

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Hidup dengan Kewaspadaan

3 Agustus 2020   14:24 Diperbarui: 3 Agustus 2020   14:13 135 5 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Hidup dengan Kewaspadaan
Dok. KOMPAL

Pandemi covid-19 belum diketahui sampai kapan akan berakhir. Sementara itu, hingga saat ini jumlah orang yang dinyatakan positif corona terus bertambah. Sedikit menggembirakan, mereka yang sembuh juga menunjukan tren meningkat.

Penambahan kasus positif covid-19 membuat pemerintah membatasi aktivitas masyarakat. Sejumlah usaha masih belum diizinkan buka, khususnya usaha yang mengakibatkan terjadinya kumpulan orang.

Perkantoran yang sudah diizinkan beroprasional juga harus menjalankan protokol kesehatan yang ketat. Sebelum masuk ke kantor seorang karyawan harus mencuci tangan diperiksa suhu tubuh, mengenakan masker dan menjaga jarak.

Sesuai tahapan dalam pencegahan penularan covid-19, setelah Pembatasan Sosial Besar-Besaran (PSBB), selanjutnya ada new normal atau PSBB transisi. Dimana kegiatan masyarakat mulai diperlonggar. Tempat-tempat usaha seperti mall, rumah makan yang sebelumnya ditutup diperbolehkan untuk beroperasi kembali. Namun, masih dengan sejumlah syarat dan kententuan.

Pembatasan tersebut tentunya tidak bermaksud menyulitkan masyarakat melainkan supaya masyarakat tetap waspada akan bahaya tertular virus covid 19. Masyarakat dituntut untuk selalu waspada dari ancaman tertular virus corona.

Merujuk pada masa-masa sebelumnya, hidup dalam kewaspadaan bukan sesuatu yang baru. Sejumlah penyakit menular dan berbahaya yang mengancam nyawa manusia ada sejak dulu. Sebut saja HIV AIDS, Tuberkulosis (TBC), Demam Berdarah Dengue (DBD), Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), Diare, Malaria dan penyakit lainnya.

HIV AIDS hingga kini jumlah penderitanya terus bertambah. Berdasarkan data yang dirilis Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) hingga dengan Juni 2019 berjumlah 349.882 orang. Terbanyak terjadi pada kelompok umur 25-49 tahun (71,1%), diikuti kelompok umur 20-24 tahun (14,4%) dan kelompok umur diatas 50 tahun (9%).

Penularan penyakit ini melalui beberapa cara, diantaranya melalui pemakaian jarum suntik yang tidak steril, ibu ke bayi dalam proses kehamilan dan menyusui serta hubungan seks tanpa pengaman.

TBC disebabkan oleh bakteri yang menyebar ketika orang yang terinfeksi batuk atau bersin. Pada 2018 diperkirakan ada sekitar 845 ribu penduduk menderita penyakit ini.  

Sementara itu, DBD bersadarkan laporan Kemenkes RI dalam rentang waktu Januari -- April 2020 tercatat ada 49.563 kasus DBD. Terbanyak di Jawa Barat, Bali, Nusa Tenggara Timur, Lampung dan Jawa Timur.  

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x