Rappi Darmawan
Rappi Darmawan karyawan swasta

punya seabrek cita-cita, belum taat beribadah, ingin memperbaiki diri

Selanjutnya

Tutup

Kandidat

Prabowo-Sandi Lebih Segar

11 Maret 2019   14:09 Diperbarui: 12 Maret 2019   11:40 66 3 3

Inilah demokrasi, semua orang yang sudah memenuhi syarat dapat menyalurkan hak suaranya. Suatu keberuntungan bagi warga negara Indonesia yang menganut sistem Demokrasi, menurut saya. Setidaknya bisa terlibat dalam moment pemilihan umum (pemilu) seperti sekarang ini. 

Sejarah hidup saya mencatat bahwa saya sudah terlihat dalam Pemilu pertama kali pada 1999. Waktu itu agak sedikit deg-degan. Baru pertama dan juga  sekaligus terlibat sebagai pemantau pemilu. Satu diantara sekian banyak pengalaman yang sangat berkesan dalam hidup saya. 

Lantas apa yang jadi landasan dalam menentukan pilihan dalam Pemilu? 

Saya tidak terlalu memperhatikan program kerja calon. Baik itu, calon presiden, calon gubernur, calon bupati atau walikota. Begitu juga ketika memilih calon anggota legislatif. Khususnya calon legislatif, jumlahnya sangat banyak. Tentu akan sangat merepotkan kalau kita harus menseleksi, mengamati program kerja masing-masing calon. 

Saya berkenyakinan semua calon presiden, gubernur, bupati, walikota dan anggota legislatif mempunyai program yang baik. Terkhusus secara teoritis, semua program akan memberikan dampak positif kepada kemajuan bangsa dan kesejahteraan masyarakat. Namun, apakah aplikasinya berjalan sesuai ? Hal ini sangat tergantung dengan hati nurani dan lingkungan. 

Pun begitu dengan calon presiden. Kenapa begitu, sepertinya agak pesimis? Tidak dong. Visi misi calon presiden dan calon-calon kepada daerah, pastinya sudah diajukan ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) selalu penyelenggara Pemilu. Secara otomatis program kerja calon tersebut sudah disaring oleh KPU. 

Nah, secara kelembagaan KPU akan lebih cermat. Kalau ada calon yang mengajukan program yang tidak layak pastinya sudah dibuang jauh-jauh. Hemat saya, urusan program kerja biarkan saja lembaga tersebut dan urus. Percaya saja semua akan diseleksi sesuai dengan aturan dan tidak melanggar nilai-nilai kemanusiaan dan agama. 

Untuk pemilihan presiden, saya mendukung pasangan Prabowo-Sandi. Sejak beberapa waktu lalu, dalam waktu-waktu tertentu saya lebih banyak mencari literatur tentang pasangan ini. Saya bertanya-tanya, siapa mereka, apa latarbelakangnya. Mulai dari pendidikan, keluarga, karier, dan ekonomi. 

Secara global saya menyimpulkan pasangan ini tidak mempunyai nilai jelek. Kalaupun ada koreng mungkin bukan secara sengaja dilakukan, namun karena situasional. Hal seperti ini menurut saya sangat lazim, toh terkadang kita tidak bisa berlepas diri begitu saja dari sistem dimana kita berada.

Selanjutnya, kesimpulan untuk mendukung pasangan Prabowo-Sandi, karena ingin suasana baru. Pasangan ini juga menurut saya lebih segar. Keduanya mempunyai latar belakang yang berbeda. Prabowo lebih kepada pemerintahan karena latar belakang sebagai prajurit TNI. Sementara Sandi, mengusai bidang ekonomi.  

Segar maksud saya dalam berbagai aspek. Baik secara personal maupun secara program. Pemimpin yang seperti inilah yang dibutuhkan dizaman sekarang. Lebih mampu menyesuaikan dengan kondisi. Dimana, generasi milenial lebih mendominasi ketimbang generasi tua. Tak bisa dipungkiri, hal ini yang sedang berlangsung. 

Generasi tua hanya bisa menjadi pengayom dan yang bergerak adalah generasi milenial. Hal ini sesuai dengan karakteristik generasi milenial yang yang bergerak secara dinamis sesuai dengan ide dan kreatifitasnya. Dalam kondisional seperti ini tidak diperlukan orang tua yang otoriter, namun harus lebih bijaksana. Mengamati tapi tidak diam. Memandu tapi tidak nyinyir. Mendorong tapi tidak menjatuhkan. (*)