Rappi Darmawan
Rappi Darmawan Wiraswasta

punya seabrek cita-cita, belum taat beribadah, ingin memperbaiki diri

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Pilihan

Tepat Pilih BBM, Mesin Lebih Awet

28 Desember 2018   11:14 Diperbarui: 29 Desember 2018   07:13 228 0 0
Tepat Pilih BBM, Mesin Lebih Awet
Arus kendaraan di Jl GHA Bastari, Jakabaring, Palembang. Foto : Rappihere

"Hidup hemat bukan suatu pilihan tapi mesti dijalani". Itu menurut saya. Pasalnya, sekarang ini pendapatan lagi stagnan, sementara pengeluaran terus meningkat. Harga-harga naik dengan bebas mengikuti prilaku masyarakat yang semakin konsumtif.
 
Lantas bagaimana caranya berhemat? Ada banyak hal yang bisa dilakukan, salah satunya dengan meminimalisir pengeluaran tak terduga seperti biaya service kendaraan akibat kerusakan. Untuk ini, sedini mungkin menjaga agar kendaraan bermotor kita tidak mengalami kerusakan.

Ada beberapa langkah yang saya lakukan untuk menjaga kerusakan kendaraan bermotor. Yakni, rutin melakukan service di bengkel resmi dan memakai bahan bakar minyak (BBM) yang tepat. Dalam memilih bahan bakar perhatikan RON  (Research Octane Number) atau bahasa kita nilai oktan. Yaitu sebuah pengukuran standar dari performa suatu bahan bakar.

Untuk diketahui, Premium memiliki RON 88, Pertalite RON 90, Pertamax RON 92, Pertamax Plus RON 95, dan Pertamax Racing RON 100. Dengan penggunaan bahan bakar yang tepat, akan membuat mesin kendaraan stabil. Semakin tinggi nilai RON akan berdampak baik terhadap kinerja mesin. Bahan bakar yang memiliki RON tinggi lebih lambat terbakar dan tidak meninggalkan residu pada mesin yang bisa mengganggu kinerja mesin.

Dalam rangka menjaga kondisi mesin kendaraan, saya menggunakan pertalite yang memiliki RON 90. Kendaraan bermotor milih masih level menengah. Katanya, bahan bakar minyak jenis ini cocok untuk mesin kendaraan keluaran terbaru. Manfaatnya sudah saya rasakan sendiri, sejauh ini mesin kendaraan bermotor saya belum bermasalah. Masih mantul (mantap betul) he he he he.

Beberapa kali saya mendapat pujian dari orang-orang. Begitu mendengar suara mesin mobil yang biasa saya bawa kerja mereka spontan bilang "masih bagus betul mesinnya, kalau mau dijual saya mau pak,". Begitu komentar mereka. Bisa dipercaya kan dari mendengar suara mesinnya saja mereka sudah tahu mobilnya terawat.

Harga pertalite memang lebih tinggi dibanding premium. Untuk Kota Palembang selisihnya dalam kisaran Rp 1.500/ liter. Namun menurut saya lebih baik mencegah dari pada mengobati. Mungkin dengan menggunakan premium, biaya bahan bakar minyak yang dikeluarkan setiap bulannya lebih kecil, tetapi dampaknya bisa menyebabkan kerusakan mesin kendaraan dikemudian hari.

Sementara itu, biaya perbaikan mesin kendaraan lebih besar. Alih-alih mau berhemat yang ada justru kedodoran dibelakang. Enak kalau lagi ada uang, seketika lagi pas-pasan yang ada biaya transportasi membengkak karena harus mengeluarkan ongkos untuk naik angkutan umum.

Ini pernah saya alami sendiri sebelum berganti kendaraan enam tahun lalu. Saya lebih memilih bahan bakar yang harganya lebih miring. Untuk mendapatkannya harus antre panjang di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), kadang harus keluar malam-malam supaya tidak terlalu lama antre.

Dampaknya terasa setelah empat tahun kemudian. Kendaraan saya tiba-tiba mati mendadak di jalan. Sempat beberapa kali kejadian sebelum dibawa ke bengkel. Begitu dicek mekanik, mati mendadak disebabkan pompa bahan bakarnya tidak berfungsi optimal lagi dan harus diganti dengan yang  baru. Tidak bisa diperbaiki atau mengganti bagian-bagian tertentu saja.

Saya awalnya masih pede. Ketika tanya harga ke bagian sparepart, harga pompa bahan bakar yang harus diganti sebesar Rp 5,5 juta. Kaget kan, tiba-tiba harus mengeluarkan uang sejumlah itu. Belum lagi, sparepartnya tidak tersedia harus pesan dari daerah lain dan menunggu beberapa hari.

Pilih mana? Saran saya mending mengeluarkan uang lebih diawal ketimbang kedodoran dibelakang. Kembali ke pribadi masing-masing, keluar uang sedikit lebih banyak diawal namun lebih aman kemudian hari atau hemat diawal kedepan dipastikan membengkak. Pastinya dalam menggunakan bahan bakar kita harus lebih bijak. (*)