Mohon tunggu...
Rani Dian Iswari
Rani Dian Iswari Mohon Tunggu... IR Students

IR Enthusiast

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Benteng Ekonomi Politik Xi Jinping di Asia Tenggara

7 Mei 2021   10:05 Diperbarui: 7 Mei 2021   10:14 362 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Benteng Ekonomi Politik Xi Jinping di Asia Tenggara
Sumber: Kompas.com

Sejarah Transformasi Ekonomi Politik Cina

Cina merupakan negara yang beberapa kali mengalami transformasi sistem ekonomi. Sejak berdirinya Republik Rakyat Cina pada Oktober 1949, Cina di bawah kepemimpinan Mao Zedong mengubah sistem ekonomi politiknya yang sebelumnya liberal menjadi sosialis. Mao Zedong berencana untuk menciptakan kesetaraan masyarakat dengan cara menghilangkan hubungan produksi yang eksploitatif yang sudah diterapkan oleh sistem kapitalisme.

 Akan tetapi, karena sistem yang diterapkan Mao Zedong gagal mengentaskan kemiskinan, Cina dibawah kepemimpinan Deng Xiaoping kemudian menerapkan kebijakan reformasi dan pintu terbuka sehingga sistem ekonominya menjadi liberal kembali. Tidak disangka, ajaran pragmatis Deng Xiaoping yang mengatakan bahwa warna kucing itu tidak penting selama ia pandai menangkap tikus, mampu membawa Cina menjadi negara ekonomi raksasa dunia saat ini.

Seiring dengan bangkitnya ekonomi politik Cina, keinginannya untuk menghegemoni dunia juga meningkat. Di masa Deng Xiaoping, kebijakan Cina difokuskan untuk pembangunan ekonomi dalam negeri dan seminimal mungkin melibatkan diri dalam urusan internasional. Hal yang sama juga diterapkan Presiden Hu Jintao yang memfokuskan pembangunan negara melalui jalan damai. Kemudian, titik balik terjadi sejak Xi Jinping terpilih menjadi presiden tahun 2013, Cina mulai berambisi menjadi negara super power.

Ambisi Xi Jinping dapat terlihat salah satunya dari dibentuknya rencana pembangunan jangka panjang bernama Grand Strategy. Grand Strategy ini adalah rencana ambisius yang diharapkan akan membawa Cina menjadi negara sosialis yang modern, kuat, dan makmur di tahun 2050. Grand Strategy ini tidak hanya menjadi rencana angan-angan saja, tetapi sudah menjadi rencana yang dimasukkan dalam konstitusi Partai Komunis Cina agar para pemimpin mempunyai acuan dalam membuat kebijakan. Grand Strategy Cina ini terdiri dari berbagai macam jenis dan ditujukan untuk memberikan pengaruh di seluruh negara, salah satunya di Asia Tenggara. Bagaimana strategi pembangunan ekonomi politik Cina ini di masa Xi Jinping? Apa dampak perluasan pengaruh ekonomi politik Cina di Asia tenggara?

Strategi Pembangunan Ekonomi Politik Cina dan Dampaknya di Asia Tenggara

Strategi kebijakan luar negeri yang Cina terapkan untuk Asia Tenggara contohnya adalah China-ASEAN Free Trade Area (CAFTA) dan Belt and Road Initiative (BRI).

China-ASEAN Free Trade Area (CAFTA) merupakan perjanjian multilateral yang ditujukan untuk menciptakan kawasan perdagangan bebas antara Cina dengan negara-negara ASEAN. Proses pembentukan CAFTA berlangsung sangat lama, yaitu dari tahun 2001 hingga 2007. Setelah melalui perundingan panjang, CAFTA resmi terbentuk pada 2007 pada pertemuan KTT ASEAN di Filipina dengan ditandatanganinya perjanjian China-ASEAN Free Trade Agreement. Meskipun demikian, implementasi perjanjian ini baru efektif dilaksanakan mulai awal tahun 2010.

Dalam kerangka kerja CAFTA ini, negara-negara anggota saling memberikan preferential treatments, yaitu sebuah perlakuan istimewa yang bersifat menguntungkan yang hanya didapatkan negara mitra dagang dalam bingkai kerja sama, dan perlakukan tersebut tidak didapatkan oleh negara non-mitra. Dalam CAFTA ini, preferential treatments diberikan dalam tiga sektor, yaitu barang, jasa, dan investasi. Tujuan preferential treatments ini adalah mempercepat alian barang, jasa, dan investasi sehingga akan memicu terbentuknya kawasan perdagangan bebas diantara negara anggota.

Meskipun demikian, CAFTA ini juga membawa dampak buruk bagi negara-negara ASEAN. Sebagai contoh adalah di Indoneia. Sejak CAFTA mulai diterapkan, Indonesia menjadi kebanjiran produk-produk Cina. Menurut data yang dirilis Kemendag, impor Indonesia atas barang Cina mengalami kenaikan drastis dari tahun 2010 hingga 2014 dengan peningkaan sebesar 10,77%. Di tahun 2010, impor Indonesia atas produk Cina hanya senilai 19,69 miliar USD, kemudian naik hingga 30,46 miliar USD di tahun 2014.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN