Mohon tunggu...
Ranaya
Ranaya Mohon Tunggu...

membaca alam dan gejalanya, jiaahh. kadang nulis di kucingdankabut.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Asmarandhana

3 November 2017   20:58 Diperbarui: 3 November 2017   21:34 816 7 5 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Asmarandhana
ilustrasi: pxhere.com

Bentangan langit luas di suatu sasi entah ke berapa ini, menampakkan warna yang lain. Krem jorok, mirip kain tua yang robek-robek dan lusuh. Awan kelabu muda tersebar hampir merata di kolongnya. Jauh di bawah, asap-asap hitam membumbung dari berbagai sudut kota yang luasnya kebangetan. Ah, kurasa burung paling sentimental sekalipun pasti bilang tak ada yang cantik dengan pemandangan seperti ini. Sungguh jelek, cebleh kata orang-orang di suatu sudut kampung di bawah sana.

Datanglah perlahan sesuatu ke arahku, melayang-layang menghalangi pemandangan buruk tadi dengan kepekatan yang terasa khas.

"Apa kabar Bapak, kawanku, Angin yang baik..." sapanya ramah.

Oh, rupanya ia, kawanku. Setiap ia datang selalu ada perasaan murung membuat sesak ikut mampir seperti pengiring setia yang menempel ketat. Ada riang tak wajar yang langsung kutangkap dari gelagatnya, membuat derajat kesesakan jadi bertambah.

"Lama aku tak melihatmu, tersangkut di mana rupanya engkau?" balasku.

Aku sudah akrab dengan ia bagai bapak kepada anaknya. Namun kali ini mukanya terlihat samar, hampir tak kukenali lagi. Meski sesungguhnya selama ini juga aku tak pernah tahu raut aslinya seperti apa karena selalu berubah-ubah. Gumpalan yang kuakrabi ini bakal tetap mengandung misteri. Kadang ia semurni bayi, putih dan lembut. Kadang ia sepekat malam, gelap dan jahat. Tetapi yang tak pernah berubah darinya adalah, diam dan lembamnya. Tak banyak bicara.

Di depanku kini semakin jelas terasa kalau ia sedang gusar. Mondar-mandir sempoyongan layaknya sedang mabuk. Oh, ataukah memang ia sedang mabuk? Karena berikutnya aku hanya merasai keanehan yang cukup mengejutkan. Ia mengoceh. Ya, ia mengoceh dengan begitu lancarnya. Seolah bukan ia saja.

"Ah, Bumi sudah sangat tua ya. Tak terbayangkan berapa umurnya sementara engkau saja sudah begini renta. Semestinya ia juga lebih tua dari engkau. Bukankah begitu? Pantas saja ia sudah kusut begitu, tak cantik lagi."

Jelaslah, kurasa ia memang amat mabuk. Jelas sekali. Tubuhnya bergerak-gerak sambil sibuk mengomong-omongkan soal hari yang belakangan lebih panjang siang dari pada malamnya. Itu sebab ia kini lebih banyak sembunyi saja bersama malam yang menjemputnya. Lalu ia bicara berlompatan seakan kata-kata itu ke luar tanpa sengaja. Tentang daun-daun yang tak akur dengan embun. Tentang awan yang tak kunjung selesai merajut kerai hujan. Tentang bebatuan yang dengan congkaknya mengusir lumut-lumut pergi. Tentang tanah yang berteriak-teriak sampai retak. Lalu tentang kerinduan-kerinduan. Wah, semakin terkejutlah aku mendengar yang terakhir itu.

"Semua ini tak lain karena si Sinar Matahari, kawan..."

Dalam hitungan detik ia lekas menggumpalkan tubuhnya. Memadat, semakin tebal dan kelabu matang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x