Mohon tunggu...
Humaniora Pilihan featured

Tentang Seorang Kawan

31 Oktober 2016   14:38 Diperbarui: 20 November 2017   23:10 0 6 2 Mohon Tunggu...
Tentang Seorang Kawan
Hilman Matauch (Foto: Tribunnews.com)

Tidak terasa, masa 2 (dua) tahun kepengurusan Koordinatoriat Parlemen hampir berlalu. Masih terbayang dengan jelas semangat perubahan yang menggelora dan mengantarkan Sosok Hilman Matauch ke Pucuk Pimpinan Kepengurusan Press Room Periode 2014 – 2016. Ya, perubahan yang salah satunya lazim memomulerkan Wajah Baru. Wajah yang menyandingkan Kalangan Tua dan Muda dalam posisi yang saling berhadapan.

Dinginnya malam dan teriknya matahari Kopo, Cisarua Puncak menjadi saksi perhelatan kontestasi tersebut. Hilman merepresentasikan perubahan. Figur yang “Tidak Terprediksi” meraup suara mayoritas. Figur yang “di luar dugaan” berhasil “memikat” sekumpulan awak jurnalis yang selama ini mengasah eksistensi di lingkungan yang dihuni segerombolan Wakil  Rakyat.

Siapakah “Dia”?

Tidak banyak yang mengenal sosok insan pers kelahiran dusun Kayu Agung Palembang Sumatera Selatan ini. Karir jurnalisme yang ditapakinya cenderung biasa-biasa saja. Tidak nampak keistimewaan yang membedakannya dengan kelaziman para pewarta pada umumnya.

Mungkin karena jabatannya yang memang tidak strategis dan mentereng di mata para insan pers itu sendiri. Sebagai seorang yang hanya berstatus sebagai “kontributor” di salah satu TV Swasta terkenal, ia bahkan acapkali dipandang sebelah mata, bahkan, oleh kalangan wartawan sendiri.

Saat insan media berlomba menjadi figur-figur yang eksis bak selebriti, para “kontributor” justru berkubang di dasar kehidupan keseharian masyarakat. Bercengkerama dengan berbagai persitiwa sosial-kemasyarakat, “mengais” berita hingga ke sudut-sudut ibukota, bermandikan peluh di kala terik dan berguyuran air di kala hujan, pagi-siang-sore dan malam. wajar jika sang kontributor sangat “taft”, karena mata, hati, telinga, pikiran, akal, insting hingga fisik dan mental terlatih setiap harinya.  

Mungkin karena inilah, TV Swasta tempatnya bekerja, menugaskan "Dia"  dilingkungan  gedung wakil rakyat sejak 2009 lalu. Saya masih teringat pertama kali melihat "Sang Kontributor" yang saat itu menggunakan potongan rambut 'ala ali oncom', tengah mengejar dan mencecar seorang pimpinan wakil rakyat, dengan pertanyaan “politik” namun masih menggunakan bahasa “megapolitan”.

Tidak ada yang patut “disoal” dari kenyataan tersebut, selain untuk menunjukkan bahwa mereka, “Sang Kontributor”, adalah juga “Insan Pers”. Tidak ada yang perlu “di-ibakan” dari realitas tersebut, selain untuk membuktikan bahwa mereka benar-benar menjalankan fungsi dan tugas sebagai “pembawa kabar dan penyampai berita”.

Lalu, siapakah “Dia”, Sang Pengumpul Suara Mayoritas di Momentum Pemilihan Press Room 2 tahun yang lalu itu. Ya, Jawaban Sederhananya: “Dia adalah Seorang Wartawan”. Terlepas dari “Kasta” yang ter-stigma tentang jabatan, posisi dan peran masing-masing Insan Pers di kalangan internal mereka, Hilman adalah seorang wartawan.

Lalu, daya pikat apa yang membius khalayak pemilih kala itu, sehingga mayoritas pemilih yang seluruhnya merupakan Jurnalis di sejumlah media massa online, cetak, maupun televisi membubuhkan “persetujuan” yang membawanya menjadi pemimpin di Press Room Parlemen.

Pertanyaan yang cenderung sensitif, namun penting untuk dijawab secara lisan ataupun sekedar dengan suara hati. Yang jelas, Hilman tidak lahir dari ruang kosong. Humble, tidak pilah pilih berteman, selalu menjadi pendengar yang baik, serta memiliki rasa simpati, empati dan solidaritas yang sangat tinggi, merupakan modal alamiah yang dimilikinya. Saya nilai sangat wajar jika pria tambun ini, sangat dikenal oleh “warga” Press Room, para Wakil Rakyat di DPR, MPR dan DPD RI, hingga pegawai kesekjenan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x