Mohon tunggu...
Ramadianto Machmud
Ramadianto Machmud Mohon Tunggu... Wiraswasta

Pikiran adalah gudang kebaikan, sekaligus sarang kejahatan

Selanjutnya

Tutup

Politik

Apakah Fenomena KLB-PD, Karma Buruk Politik SBY?

7 Maret 2021   00:52 Diperbarui: 9 Maret 2021   19:45 214 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Apakah Fenomena KLB-PD, Karma Buruk Politik SBY?
Foto: Fajar.co.id


Susilo Bambang Yudhoyono, siapa yang tak kenal beliau. Namanya sangat familiar ditelinga rakyat Indonesia dengan sebutan Presiden SBY. Selama 1 dekade periodisasi beliau bersama Partai Demokrat memerintah.
Partai yang kala itu memegang teguh prinsip 'Katakan tidak pada korupsi' dianggap layak oleh hampir sebagian besar rakyat mampu membawa citra baik bagi bangsa ini.

Perjalanan partai berlambang bintang mercy itu terbilang cukup gemilang. Lolos verifikasi tahun 2004, sekaligus berhasil mencapai puncak di tahun yang sama. Mengantarkan SBY dan JK sebagai pasangan nomor 1 di Indonesia, mengalahkan pasangan lainnya melalui pemilihan langsung.

Atas pencapaian yang luar biasa itu, SBY dan PD menjadi paket komplit. Bicara PD artinya bicara SBY. Rakyat Indonesia tak mengenal siapa pun selain figur SBY. Ibarat lukisan kekuasaan, SBY gambarnya sedangkan PD sebagai frame-nya.

Namun, ketika masa kekuasaan SBY usai, berakhir pula masa kejayaan PD dengan rentetan panjang kasus korupsi dan banyak lagi kasus-kasus lainnya. Seperti titik noda terlampau menempel. Meski dicuci bekas noda itu pasti tetap ada di pikiran rakyat Indonesia.

Berbagai upaya penyelamatan yang dilakukan oleh SBY demi menjaga marwah dan memperbaiki nama baik partai. Bahkan anaknya (AHY) pun dipaksa mengorbankan karir militernya demi tujuan utama SBY. Namun sejak KLB-PD tahun 2013 di Bali, dengan terpilih SBY sebagai Ketum dan EBY (Si anak bungsu) sebagai Sekjen. Pas-lah, aroma oligarki di tubuh PD mencuat ke permukaan. 

Partai Demokrat perlu pijakan kuat. Pintu satu-satunya dengan merebut kursi nomor 1 DKI. Tapi strategi itu patah, akibat perencanaan yang tidak matang ditambah calon yang kurang berpengalaman. Bahkan bisa dibilang 'salah penempatan bidak'.

Akibat kekalahan di putaran pertama pemilihan gubernur jakarta. Lagi-lagi PD mencari peruntungan dengan mendukung Anis dibalik layar yang kala itu diusung oleh Partai Gerindra. Walaupun secara resmi, PD menyatakan netral, tetapi para elit PD lebih condong dukung Anis. Kali ini strategi politik PD berhasil. Anis terpilih menjadi gubernur. Anis menang diputaran kedua mengalahkan Ahok.

PD setelah Anis ditinggal Sandi sebagai cawapres Prabowo kala Pilpres, kurang mendapatkan posisi tawar. Sempat ada isu beredar bahwa AHY bakal calon wakil gubernur yang dipilih Anis guna mengisi kekosongan jabatan wagub. Lobi-lobi itu tercium pada bulan Maret 2020, Sekjen PD saat itu, Hinca Panjaitan bersama fraksi PD DPRD DKI bertemu Anis di balai kota, kira-kira seminggu sebelum terpilihnya AHY sebagai Ketum secara aklamasi di Kongres V PD di Jakarta. 

Sayang, kans PD mengusung AHY ke DKI 2 pupus setelah Riza Patria dinyatakan secara resmi sebagai wagub mendampingi Anis, sebulan setelah penetapan AHY.

Apakah bisa dikatakan fenomena di tubuh PD merupakan karma politik SBY? Sebab banyak warga rumah kopi, berpendapat partai yang cepat melejit, cepat pula jatuh, ketika auranya tak sesuai namanya.

Situasi PD saat ini, persis sama dengan apa yang terjadi pada PKB beberapa tahun silam. Kala itu, pemerintahan SBY cenderung memilih kubu Cak Imin dari pada kubunya Gus Dur. Langkah tersebut diambil karena kubu Cak Imin lebih memilih mendukung pemerintah. Bahkan, manuver tersebut dianggap sebagai strategi menggagalkan kans Gus Dur mencalonkan diri sebagai Presiden di tahun 2009.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN