Mohon tunggu...
Ramadianto Machmud
Ramadianto Machmud Mohon Tunggu... Wiraswasta

Pikiran adalah gudang kebaikan, sekaligus sarang kejahatan

Selanjutnya

Tutup

Diary

Amelia Nama Istriku (Based on True Story)

6 Maret 2021   15:06 Diperbarui: 18 Maret 2021   14:58 114 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Amelia Nama Istriku (Based on True Story)
Foto Istimewa / Koleksi Pribadi

Langit terlihat sendu di malam itu. Saat bulan ditutupi hamparan awan tipis, tak satu pun gemerlapan cahaya bintang. Namun terangnya bulan, mampu menerangi setiap sudut rumah sakit yang gelap. Ku tersadar dari lamunan dengan teriakan burung malam yang jelas terdengar tepat diatas ruang operasi. Dimana istriku sedang berjuang melawan maut. Apakah itu pertanda buruk?

Teriakan burung itu membuat jantungku berdetak kencang. Pikiran dan perasaanku campur aduk. Entah apa yang sebenarnya ku rasakan. Mencoba tenangkan diriku, tapi tak bisa. Ketakutan yang tidak biasanya. Ketakutan yang teramat sangat, sedang menyelimutiku. Meski ku tahu, peristiwa itu bukanlah hal yang pertama bagiku.

Ku sandarkan badanku di dinding lorong rumah sakit dan memejamkan mata. Sesekali hembusan nafas berat ku keluarkan, begitu sesak dadaku. Berusaha berbicara dengan diriku agar bisa lebih tenang. Entah kenapa kegelisahan ini tak kunjung hilang. Apakah ini pertanda buruk?

Ku tegakkan badanku dan berjalan perlahan menuju ruang tunggu. Ibu dan kedua putriku menatap sayu. Terbias raut wajah khawatir dengan keadaanku. Mereka terus menatapku, seolah-olah memaksaku bicara. Namun yang keluar dari mulutku hanyalah, 'berdoalah, semua akan baik-baik saja,' kataku dengan senyuman. Lalu ku baringkan tubuhku di atas kursi panjang. Hanya itu yang bisa ku lakukan agar bisa lebih tenang. Agar mereka pun jauh lebih tenang.

Namun ketenangan itu tak berlangsung lama. Tiba-tiba terdengar suara lantang dan keras dari balik pintu ruangan operasi, 'Keluarga Ibu Amelia, Keluarga Ibu Amelia,' teriak seorang dokter perempuan. Itulah suara yang ku harapkan sekaligus ku takutkan. Dokter muda itu tampaknya tergesa-gesa, ingin memberitahukan sesuatu, tapi memilih memanggil diriku untuk ikut bersamanya masuk ke dalam ruangan itu.

Aku terperanjat dan bangkit seketika menghampiri pintu. Ku coba rapikan pakaianku sebaik mungkin. Setidaknya menghormati mereka yang berprofesi sebagai dokter. Profesi yang mulia.

Dug.. Dug.. Dug.. Detakan jantung kembali terpacu dengan cepat. Ribuan pertanyaan seketika hadir di pikiranku, 'ada apa bu?, ada apa?' sahutku kepada dokter muda itu. 'Bapak, ikutlah segera denganku, cepat, cepatlah pak!' jawabnya sambil menepuk pundak sebelah kiriku. Tak terbayangkan apa yang aku rasakan waktu itu.

Aku pun langsung bergegas. Mempercepat langkahku dengan setengah berlari. Jarak antara aku dan dokter itu tujuh langkah di depanku. Sesekali mengayunkan tangan kanannya menyuruhku berlari, 'ayo pak, ayo pak.' Sebelum sampai di pintu kamar operasi yang ku tuju dengan nafas yang tersengal-sengal, ku perlambat langkah kakiku. Perlahan-lahan ku hampiri pintu kamar  operasi yang saat itu terbuka lebar.

Sewaktu ku palingkan wajahku, mataku melirik tajam. Kedua alisku mengkerut memastikan. Bibirku kaku tuk berkata saat melihat wajah istriku yang diam membisu diatas meja operasi. Itu akibat pengaruh bius yang diberikan dokter. Sebab, kondisinya tak begitu baik bila persalinannya dilakukan secara biasa. Begitulah kata dokter padaku. Dokter pun menunjukkan seorang bayi mungil kepadaku.

Ternyata itu adalah bayi kami. Panjangnya 59 cm, beratnya 4.3 kg, bayi dari Ibu Amelia. Itulah yang tercatat di kertas yang menempel di kaca. Rambutnya lebat, hitam lurus. Bulu matanya panjang dan lentik. Mukanya bulat, dan sekujur tubuhnya berwarna kemerahan. Bayi itu berada dalam inkubator dengan selang bantu pernafasan yang melekat di hidungnya.

Bersambung...

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x