Mohon tunggu...
R Hady Syahputra Tambunan
R Hady Syahputra Tambunan Mohon Tunggu... Karyawan Swasta

Pemerhati Politik Sosial Budaya. Pengikut Gerakan Akal Sehat. GOPAY/WA: 081271510000 Ex.relawan BaraJP / KAWAL PEMILU / JASMEV

Selanjutnya

Tutup

Kotak Suara

Kenapa Calon DPD saja unggul dari Jokowi-Maruf di Sumatra Barat?

13 Mei 2019   01:39 Diperbarui: 13 Mei 2019   05:53 0 7 2 Mohon Tunggu...
Kenapa Calon DPD saja unggul dari Jokowi-Maruf di Sumatra Barat?
Wikipedia: Calon DPD RI dapil Sumatra Barat Emma Yohanna peraih suara terbanyak dari calon lainnya

Calon DPD, Emma Yohanna ternyata lebih mampu dan perkasa mengumpulkan suara daripada Jokowi-Maruf di Sumatra Barat (Sumbar). Berdasarkan hasil rekap resmi KPU, Calon anggota DPD Emma Yohanna memperoleh 531.234 suara.

Bagaimana dengan Jokowi-Maruf? Dengan 407.761 suara maka dipastikan pasangan Capres-Cawapres ini kalah populer daripada calon DPD tadi. Atau bisa jadi lebih popular namun kurang disukai bagi pemilih di Sumbar.

Menanggapi hasil rekapitulasi suara Calon DPD saat penetapan KPUD Sumbar, Emma menuturkan pada media detik: "Alhamdulillah, terima kasih atas semua dukungan dari masyarakat Sumatera Barat. Mudah-mudahan kami terus diberi kekuatan untuk menjalankan amanah ini,". Ini kepercayaan masyarakat pada saya yang ke-3 kalinya.

Hasil ini memastikan Emma memperoleh kursi DPD di peringkat pertama dari kuota 4 orang anggota DPD yang akan melenggang ke gedung DPR/MPR di Senayan Jakarta. Selain Emma, Calon DPD lain yang lolos adalah: Muslim M.Yatim (279.739 suara) Alirman Sori (205.859 suara) dan Leonardi Harmaini (199.024 suara).

Mengapa masyarakat Sumbar enggan memilih Jokowi? Disaat daerah lain seperti NTB dan Jawa Barat Jokowi dapat memangkas persentase ketertinggalan suara dari Prabowo (dibanding 2014), mengapa di Sumbar presentase Prabowo naik menjadi 85,95% vs Jokowi 14,05%? (pada 2014 Prabowo-Hatta 79,-% vs Jokowi-JK 20,-%).

Ada pendapat karena Sumbar adalah daerah basis pemilih muslim, bahkan dikatakan Prof Mahfud MD sebagai provinsi garis keras. Mahfud menanggapi kekalahan Jokowi didaerah "garis keras" seperti Jawa Barat, Sumbar, Aceh.

Sumbar yang 1 basis dengan Aceh dan Madura juga beberapa "kabupaten" di Jabar dimana Prabowo-Sandi unggul lebih 70% dapat dikatakan sebagai pemilih yang konservatif. Konservatif disini adalah agama jadi pegangan kuat dalam kehidupan juga cenderung menjadikan agama dan ulama sebagai referensi.

Disini penulis memahami bahwa daerah2 ini lebih tepat disebut daerah yang "cenderung lebih islami" bukan "garis keras" seperti kata Mahfud MD.

Terkhusus lagi Sumbar, Islam adalah identitas mutlak dengan semboyan ABS-SBK: Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah (Adat Berasas pada Syariat, Syariat Bersandar pada Kitabullah). Maka dapat disimpulkan hanya calon yang dinilai 'aman dari segi keagamaan' dan 'didukung Ulama'-lah yang akan dipilih oleh masyarakat Sumbar.

Penulis bahkan pernah bertaruh akan blokir akun FB dan WA sendiri bila Prabowo-Sandiaga kalah di Sumatra Barat. Taruhan ini menyikapi ucapan Jokower militan yang yakin Jokowi-Maruf menang, minimal imbang di Sumbar pada saat ada berita Cawapres Maruf Amin diterima dengan antusias oleh masyarakat sumbar.

Saat menanggapi klaim tersebut penulis malah menjawab, jangankan menang atau imbang, bisa kalah terhormat dengan memperkecil kekalahan dari Prabowo-Sandi dengan persentase dibawah 70% saja (misal Jokowi-Maruf 40% vs Prabowo-Sandi 60%) maka penulis akan penuhi janji blokir akun.

Mengapa penulis sampai berani mempertaruhkan akun? Penulis adalah menantu orang Minangkabau/Sumbar. Kami hampir tiap tahun pulang kampung dan sangat paham adat istiadat orang Sumatra Barat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN