Mohon tunggu...
Andri Mastiyanto
Andri Mastiyanto Mohon Tunggu... Abdi Negara

Penyuluh KesMas,admin Coin Pendidikan (Coin A Chance) RSKO Jakarta, Nominator tunggal Best Member Backpacker Jakarta 2014, Nominator Inspiratif Member 2016, kaskuser, content creator

Selanjutnya

Tutup

Keamanan Pilihan

'Sukhoi SU-35' Mesin Perang Baru TNI AU Yang Terlambat Datang

15 Juni 2019   07:19 Diperbarui: 15 Juni 2019   19:59 0 5 3 Mohon Tunggu...
'Sukhoi SU-35' Mesin Perang Baru TNI AU Yang Terlambat Datang
Deskripsi : Sukhoi SU-35,jet tempur yang memiliki daya getar tinggi I Sumber Foto : Pixabay

Netizen pecinta dirgantara pasti sudah mendengar bahwa Indonesia akan memiliki mesin perang baru yakni Sukhoi SU-35 super flanker. Burung besi ini merupakan pesawat tempur generasi 4++ dimana saat ini baru digunakan oleh Rusia dan RRC. Indonesia akan menjadi negara ke 3 (tiga) di dunia  yang akan menggunakan pesawat tempur canggih multiperan ini.

Indonesia telah memutuskan untuk membeli 11 unit Sukhoi Su-35 dari Rusia dengan skema pembelian dimana 50 % dengan uang dan 50 % lagi imbal dagang yang dikoordinasikan oleh Kementerian Pertahanan dan Kementerian Perdagangan. 

Menindaklanjuti keputusan pemerintah itu PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero) telah melaksanakan dan meneken nota kesepahaman (MoU) dengan perusahaan Rusia, Rostec. 

Dalam proses  imbal beli Sukhoi SU 35, Indonesia dan Rusia akan membuat kelompok kerja yang mengatur soal mekanisme dan komoditas apa saja yang termasuk dalam kesepakatan. Indonesia membeli 11 Sukhoi Su-35 dari Rusia dengan nilai kontrak seharga 1,14 milar dollar atau Rp 15,3 triliun (kurs 1 dollar AS sama dengan Rp 13.500).

Karena dalam kontrak imbal beli ini Indonesia dan Rusia terdapat 50% imbal dagang, Indonesia menawarkan sejumlah komoditas kepada Rusia senilai 570 juta dollar AS. Saat ini, kedua negara ini masih menyusun aturan main kelompok kerja itu.

Kementerian Pertahanan sejatinya menargetkan Sukhoi SU-35 sudah bisa datang bertahap akhir tahun 2019 ini. Diharapkan kehadiran burung besi Rusia ini bertepatan dengan HUT  TNI 5 Oktober 2019. Namun rencana itu sepertinya tidak sesuai rencana karena masih menemui sejumlah ganjalan, diantaranya jenis komoditi yang dibutuhkan Rusia dalam imbal dagang. . 

Dilansir dari portal berita merdeka.com (12/6/2019) (DISINI), Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Ryamizard Ryacudu menyebut masih ada kendala imbal dagang dengan Rusia di Kementerian Perdagangan. 

Antara Kemenhan dengan pabrikan Sukhoi SU-35 sudah selesai dengan adanya penandatangan kontrak imbal beli. Yang belum selesai dari Kementerian Perdagangan. Dalam pembelian mesin perang ini menggunakan uang dan juga imbal dagang atau 50 pakai uang 50 persen pakai imbal dagang. 

Artinya komoditi yang menjadi bagian dari imbal dagang seperti karet, kelapa sawit, itu masih dalam proses. Ini yang belum selesai menurut keterangan Menhan RI, di Kemhan, Rabu (12/6) kepada Merdeka.com.

Pihak Kemenhan merasa sudah selesai dan menunggu kedatangan pesawat tempur Sukhoi SU-35 saja.

_

Proses Working Group Komoditi Imbal Dagang Sukhoi SU 35 Dalam Proses Berjalan

Sebetulnya keterlambatan hadirnya pesawat tempur Sukhoi SU 35 karena Indonesia tidak membeli 100 persen cash (uang). Kita para netizen tidak pernah tau pertimbangan apa yang membuat Indonesia menggunakan skema ini. Apa yang dilakukan Indonesia juga pernah dilakukan negara tetangga Malaysia di era 90-an dalam pembelian MIG-29 Fulcrum.

Deskripsi : Pembelian Sukhoi SU-35 dengan imbal beli dan imbal dagang I Sumber Foto : theaviationist.com
Deskripsi : Pembelian Sukhoi SU-35 dengan imbal beli dan imbal dagang I Sumber Foto : theaviationist.com
Bagi saya sendiri negosiasi Indonesia dalam pembelian burung besi Sukhoi SU-35 dengan skema pembelian 50% dengan uang dan sisanya 50% imbal dagang merupakan berita baik bagi petani kita. Komoditi pertanian kita dapat diperkenalkan ke pasar Eropa Timur dimana pastinya mereka akan kesulitan memproduksi tanaman tropis seperti sawit, kopi dan rempah-rempah.

Menurut Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Oke Nurwan melalui Merdeka.com (12/6/2019) mengatakan proses negosiasi imbal dagang alias barter dengan Rusia masih berjalan. 

Dia mengatakan proses negosiasi masih terus berlangsung antara Indonesia dan negeri Beruang Merah tersebut. Terakhir kedua belah pihak telah membuat grup diskusi untuk membahas kelanjutan rencana tersebut.

"Rusia belum mau berunding untuk komoditi apa saja. Bukan belum mau tapi mau, jadi dibuat working grup," ujarnya.

Dalam kelompok tersebut akan disusun komoditas apa saja yang diinginkan Rusia. Juga disusun mekanisme imbal dagang Indonesia dan Rusia. "Dibuat komoditi apa saja yang dibutuhkan Rusia. Jadi akan dibentuk grup pihak Rusia dengan kita buat grup karena kan mekanisme imbal beli harus disusun," tandasnya.

_

Mengenal Sukhoi SU-35 Super Flanker

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3