Andri Mastiyanto
Andri Mastiyanto Pegawai Negeri Sipil , Seller Online

Penyuluh KesMas,admin Coin Pendidikan (Coin A Chance) RSKO Jakarta, Nominator tunggal Best Member Backpacker Jakarta 2014, Nominator Inspiratif Member 2016, kaskuser.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Menteri Rudiantara yang Tidak Alergi Bahasa Gaul

3 Februari 2018   21:24 Diperbarui: 4 Februari 2018   09:13 667 3 2
Menteri Rudiantara yang Tidak Alergi Bahasa Gaul
Deskripsi : Groufie bareng Pak Rudiantara dengan Kompasianers pemenang live tweet & pertanyaan on the spot I Sumber Foto : Kompasiana

Saat ini gaya komunikasi antar personal dan massa sudah sangat terlihat mengalami perubahan dibandingkan dengan sepuluh tahun lalu. Bahkan di social media milik badan/lembaga/institusi pemerintah pun sudah mengalami perubahan ke gaya komunikasi netizen. Gaya priyayi di institusi pemerintah sudah mulai lambat laun terkikis. Bagi institusi pemerintah yang mempertahankan gaya komunikasi priyayi ini akan dipertanyakan apakah masih mau bertahan???

Deskripsi : gaya bahasa di Twitter TNI AU I Sumber Foto : Screenshoot akun resmi twitter TNI AU
Deskripsi : gaya bahasa di Twitter TNI AU I Sumber Foto : Screenshoot akun resmi twitter TNI AU

Deskripsi : Cara berkomunikasi dua arah Twitter TNI AU yang sudah tidak bergaya Priyayi lagi I Sumber Foto : Screenshoot Akun Resmi Twitter TNI AU
Deskripsi : Cara berkomunikasi dua arah Twitter TNI AU yang sudah tidak bergaya Priyayi lagi I Sumber Foto : Screenshoot Akun Resmi Twitter TNI AU

Deskripsi : Ditjen Pajak kemkeu juga sudah mulai bergaya komunikasi netizen I Sumber Foto : Screenshoot AKun Resmi Twitter Dirjen Pajak
Deskripsi : Ditjen Pajak kemkeu juga sudah mulai bergaya komunikasi netizen I Sumber Foto : Screenshoot AKun Resmi Twitter Dirjen Pajak

Dibeberapa institusi pemerintah contohnya TNI AU yang memiliki follower di twitter lebih dari 250 ribu sudah menggunakan gaya komunikasi kekinian yang tidak alergi dengan kata 'ngedate', ra iso, dan yang lagi ngehits saat ini istilah 'Dilan'. Ditjen Pajak Kementerian Keuangan tidak kalah dengan TNI AU, akun twitter yang memiliki followers lebih dari 76 ribu tidak segan menggunakan kata 'leyeh leyeh'. 

Itu merupakan 2 (dua) contoh institusi pemerintah yang menggunakan gaya komunikasi kekinian dan menyadari cara berkomunikasi sudah berubah, gaya bahasa priyayi tidak harus selalu digunakan menghadapi generasi digital. Institusi yang lain yang belum menggunakan gaya komunikasi populer sebaiknya sudah saatnya buka mata dan telinga.

Begitupun dengan gaya komunikasi para Menteri di era kepemimpinan Presiden RI Joko Widodo sangat terlihat jelas sudah sangat berubah. Pada saat perkenalan pertama para Menteri ke publik, pakaian yang digunakan pun sudah tidak begitu formal. Para Menteri diperkenalkan dengan kemeja putih dengan bawahan gelap tanpa jas bagi pria dan tidak menggunakan kebaya bagi perempuan.

Gaya komunikasi non priyayi ini pun daku lihat dan rasakan langsung di kegiatan Tokoh Bicara Kompasiana pada hari selasa, 30 januari 2018 di ruang Ruby, Gedung Kompas, Jakarta. Yang menjadi tokoh bicara didepan kami para Kompasianers yaitu Menteri Informasi dan Komunikasi, Rudiantara. Awalnya ketika nama pak Menteri disebut oleh MC bahwa telah tiba, sebagian besar yang hadir berdiri termasuk diri daku. Mungkin karena diri daku abdi negara jadi secara otomatis bersikap demikian.

Deskripsi : Pak Rudiantara menggunakan kursi yang sama dengan kami (kompasianers) I Sumber Foto : Andri M
Deskripsi : Pak Rudiantara menggunakan kursi yang sama dengan kami (kompasianers) I Sumber Foto : Andri M

Yang terjadi kemudian dirinya menghampiri tempat duduk kompasianers dibaris pertama sampai dengan ketiga dan menyalami kami satu-satu. Nah ada hal yang lain yang cukup mengagetkan, beliau menolak duduk di sofa yang telah disediakan. Bahkan dirinya sendiri menarik bangku dideretan para kompasianers yang kemudian diletakkan berhadapan dengan kami. Dirinya tidak memerintahkan anak buahnya untuk menarik bangku yang biasa digunakan di acara kondangan itu.

Bagi daku apa yang dilakukan Pak Rudiantara membuat suasana lebih cair di kegiatan tokoh bicara Kompasiana kali ini. Karena sikapnya ini, kami pun dengan bebasnya dapat menceletuk dan sedikit bercanda ditengah Pak Rudiantara sedang menyampaikan gagasan dan idenya bagi perkembangan dunia informasi dan telekomunikasi.

Bisa dibilang dirinya merupakan wujud dari "Menteri Zaman Now" yang ingin tidak ada jarak dengan masyarakat. Pada saat menyampaikan pandangan, ide, gagasan dan program dari Kementerian Komunikasi dan Informatika didepan kami (kompasianers) menggunakan gaya bahasa populer dan netizen.

Dirinya merupakan profesional di industri telekomunikasi, perjalanan karier nya bermula pada saat usia 25 tahun saat bergabung ke Indosat. Catatan kariernya terbilang cepat di Indosat, dalam hitungan beberapa tahun dia menjadi General Manager Business Development di Indosat. Setelah 10 tahun di Indosat, ia pindah ke Telkomsel. Di Telkomsel juga ia pun sukses dengan menempati posisi direktur. 

Selain Telkomsel, dia juga sempat mengelola provider lain yakni XL bahkan perusahaan BUMN seperti Telkom mendapatkan tuah dari kemampuannya. Karir cemerlang dia dapatkan di BUMN dan industri telekomunikasi swasta karena sistem karir "Zaman Now". Sistem karir ini ternyata dapat menunjang young on top.

Mungkin karir tersebut akan sulit didapatkan bila dirinya berkarir di institusi pemerintah yang menggunakan sistem karir berjenjang, persyaratan profesi tertentu untuk jabatan di Unit Pelayan Teknis tertentu dan wajib memiliki syarat golongan utnuk menduduki jabatan. Memang orang-orang yang cara berfikirnya out off the box sebaiknya berkarir di BUMN atau swasta lalu kemudian menjadi Menteri yang merupakan jabatan politik.

Karir Rudiantara tidak hanya di dunia telekomuniasi, dia sempat berkiprah sebagai CEO Bukitasam Transpacific Railways, CEO Transpacific Railways Infrastructure, Wakil Direktur Semen Gresik, dan Wakil Direktur Utama PT PLN (Persero). Kemampuan manajerial dan wawasannya tidak hanya mampu membenahi perusahaan telekomunikasi saja, yang berujung pria kelahiran Bogor ini dipercaya Presiden Joko Widodo menjadi Menteri Komunikasi dan Informatika RI. 

Deskripsi : Pak Rudiantara berusaha membuat suasana cair dengan bahasa gaulnya I Sumber Foto : Andri M
Deskripsi : Pak Rudiantara berusaha membuat suasana cair dengan bahasa gaulnya I Sumber Foto : Andri M

Pada saat berbicara didepan kami (kompasianers) beberapa kali daku dengar becandaan dan bahasa anak gaul baik itu gaya anak gaul 90'an, 2000-an, dan kids zaman now terucap dari bibirnya ketika membahas tentang konten, produk komunikasi dan jaringan internet. Diawal dia bercanda dengan menyebut mas Isjet ketika bertanya kepada kompasianers yang belum memiliki smartphone 4G "Kalau minta doorprize sama Isjet buat yang phonecell nya belum 4G. Tapi ini orang kayaknya putra ke 26, yang pertama Is A, lalu Is B dan Is Z ke 26," disauti dengan gelak tawa kompasianers yang hadir.

Lelucon lain ketika Pak Rudiantara mencontohkan ketika manajemen salah satu brand besar yakni Apple menjawab tantangan pemerintah Indonesia menyangkut 30 % Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) "Rud, Lu gile pasar gue secuil, terus lu suruh 30 % TKDN.  Gue harus pabrikasi di Indonesia mendingan kagak masuk," candanya. Ia pun tidak sekedar canda dari kata tersebut, Pak Rudiantara melanjutkan dengan penjelasan bahwa dengan peraturan 30 % TKDN  jangan sampai menghalangi masyarakat kita menyentuh, dan mendapatkan manfaat teknologi terbaru.

Menurut Pak Rudiantara, aturan 30 % TKDN bisa dalam bentuk hardweare, softweare, aplikasi yang cocok bagi Indonesia, atau komitmen investasi. Aturan yang dibuat fleksibel ini akhirnya membuat pemerintah bisa bernegosiasi dengan Apple untuk bisa masuk ke Indonesia. Tujuan pemerintah ialah manfaat bagi masyarakat Indonesia.  

Hal ini berujung Apple pada tahun ini akan membangun R&D dikawasan Green Office Park, Bumi Serpong Damai (BSD) sebagai pusat penelitian dan pengembangan. Apple berkomitmen akan merekrut orang-orang Indonesia untuk mebuat aplikasi berbasis ios untuk Indonesia. Indonesia menjadi negara ke tiga di luar Amerika selain Brazil dan India. Keberadaan R&D Apple akan memberi nilai tambah bagi masyarakat Indonesia karena yang mengembangkan ada putera Indonesia nantinya.

Coletahan ala anak gaul lain ketika Pak Rudiantara membahas kebijakan Palapa Ring "Punya ponsel keren tapi lu nggak punya jaringan, akhirnya dipake buat potret doang. itu yang dihadapi masyarakat di perbatasan-perbatasan kita," sambil senyum kecil dan para kompasianers menyusul ikut tertawa.

Pemerintah memiliki target pada tahun 2019 untuk kota/kabupaten di seluruh Indonesia sudah tercover jaringan 4G. Kenapa saat ini belum ter-cover semua karena membangun infrastrukturnya mahal, saat ini kecepatan internet di Jakarta 7 mbps sedangkan didaerah hanya 300 kbps ini menunjukkan secara nasional kecepatan internet belum merata. 

Kenapa ini bisa terjadi karena provider fokusnya ke kota besar, pemerintah membuat kebijakan keberpihakan yaitu Palapa Ring yang menyambungkan rangkaian jalur internet yang tidak diambil oleh provider. Candaan lain menggunakan gaya bahasa warung kopi ketika Pak Rudiantara bercerita dimana ia bertanya kepada provider kenapa tidak mau membangun di titik-titik death zone jaringan internet dan kemudian dijawab oleh provider "kagak ada bisnisnya bagaimane balik modal"

Bahkan kata Pak Rudiantara bertanya kepada provider "bro, eeehh kapan bangun ke natuna ? ... "

Ceritanya dijawab provider " disono kagak ada orang. bagaimana gue balik modal...".

Pak Rudiantara mendesak berdasarkan ceritanya "eehh lu gile yaks,  itu Presiden Jokowi udah kesono 3 (tiga) kali"

Gaya bahasa yang digunakan kepada kami, daku yakin agar pendengar tetap fokus kepada dirinya yang menyampaikan pesan. Tetapi gaya komunikasi yang dilakukan membuat para kompasianers "ON" sampai akhir acara.

Deskripsi : Permintaan Pak Rudiantara untuk groufie dengan daku naik diatas bangku I Sumber Foto : Andri M
Deskripsi : Permintaan Pak Rudiantara untuk groufie dengan daku naik diatas bangku I Sumber Foto : Andri M

Sesuatu hal yang tidak biasa atau anti mainstream, karena masih banyak pejabat yang bergaya priyayi dengan jaga image. Pak Rudiantara terlihat menghindari gaya priyayi. Menteri nyentrik ini malah meminta daku melakukan groufie dimana dirinya sendiri yang menarik bangku dan meminta daku naik ke bangku dan melakukan shoot foto. Sebuah momen yang jarang sekali daku rasakan ketika bertemu pejabat. Bisa dibilang 'TIDAK GILA HORMAT'

-----ooo000ooo-----

Cara berkomunikasi masyarakat berubah sesuai perjalanan waktu. Di era kerajaan dan kolonial, ketika kita bertemu pejabat kita harus duduk di tanah dengan kepala menunduk sambil menyembah. Saat ini merupakan era generasi digital dimana komunikasi dua arah dan berdiskusi dengan pejabat merupakan kewajaran.

salam hangat Blogger Udik dari Cikeas - Andri Mastiyanto

Web  I  Blog  I  Twitter  I  Instagram