Mohon tunggu...
Raka Putranto
Raka Putranto Mohon Tunggu...

Simple dreamer...

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Pengemis Itu...

2 Juli 2013   13:55 Diperbarui: 24 Juni 2015   11:07 0 3 4 Mohon Tunggu...
Pengemis Itu...
1372747794709231099

[caption id="attachment_264203" align="aligncenter" width="540" caption="www.merdeka.com"][/caption] Sewaktu aku masih kecil dulu, aku sering melihat seorang laki-laki setengah baya dengan pakaian lusuh berkeliling kampungku untuk meminta-minta. Iya, dia seorang pengemis. Saat dia sampai dirumahku, aku memberinya uang koin. Hal ini berlangsung sekitar 2 kali dalam satu minggu itu. Rupanya apa yang aku lakukan itu dilihat oleh Bapak. Selama dua kali itu Bapak memperhatikan aku memberikan sisa uang jajanku kepada pengemis. Malam harinya setelah aku memberikan uang jajanku yang kedua, aku dipanggil Bapak. Bapak bilang bahwa Bapak tidak mau melihat aku memberikan sisa uang jajanku kepada pengemis itu. Bapak juga berpesan jika nanti pengemis itu datang lagi, Bapak mau bicara dengannya. Aku hanya mengiyakan meskipun dengan berat hati dan segudang pertanyaan di kepalaku. --- Selang beberapa hari kemudian, seperti biasa, laki-laki pengemis setengah baya itu datang lagi ke kampungku. Masih dengan baju lusuhnya yang membuat orang jatuh iba dan kasihan kepadanya meskipun sebenarnya badannya terlihat masih kuat seandainya dia mau bekerja. Entah jadi kuli bangunan atau menjajakan koran. Sesuai apa yang disampaikan oleh Bapak, saat pengemis itu datang aku tidak memberinya uang tapi justru mempersilahkan dia untuk duduk di kursi teras karena Bapak mau bicara dengannya. Setelah pengemis itu duduk, aku segera masuk untuk memanggil Bapak. Tak lama Bapak keluar dari kamar dan menemui pengemis itu. Tapi Bapak melarang aku untuk ikut dan tahu pembicaraan mereka. "Pembicaraan orang dewasa," kata Bapak. Aku hanya bisa menyaksikan dari ruang tamu. Cukup lama perbincangan mereka sampai aku terkantuk-kantuk di kursi tamu. Bapak terlihat antusias sekali menjelaskan sesuatu kepada pengemis itu. Hingga kemudian Bapak mengeluarkan sepucuk surat yang diterima oleh pengemis itu dengan kepala tertunduk. Lelaki pengemis setengah baya itupun kemudian berpamitan kepada Bapak dan berlalu... --- Hari berganti hari, minggu berganti minggu, pengemis itu tidak pernah datang lagi ke kampungku. "Ini pasti gara-gara Bapak kemarin sehingga dia tidak datang lagi. Bapak pasti sudah marah-marahin pengemis itu supaya tidak datang lagi! Huh! Kan kasihan dia jadi tidak punya nafkah. Masih mending kalau dia masih hidup sendiri, kalau sudah berkeluarga gimana?! Ah, Bapak!" batinku marah. Aku sampaikan kemarahanku itu kepada Bapak malam harinya. Bapak yang mendengarkan marahku hanya terdiam sejenak dan menjawab, "Bapak tidak memarahi pengemis itu Kak, Bapak bicara baik-baik kok. Nanti lihat saja, kalau memang dia orang yang peduli dengan keluarganya, dia akan kembali ke sini..." --- Genap sebulan pengemis itu tidak datang lagi ke kampungku. Aku masih marah ke Bapak. Ucapannya tidak terbukti. Mungkin dia masih tersinggung dengan apa yang disampaikan Bapak kepadanya. Hingga di Minggu pagi... Datanglah seorang laki-laki berpenampilan rapi dengan baju batik dan peci dikepalanya. Ditangannya terlihat sebuah rantang susun empat yang sepertinya terisi penuh dengan sesuatu. Ibu menyambut tamu itu dengan ramah dan menanyakan maksud kedatangannya. Tamu itu bilang mau ketemu Bapak, penting katanya. Sepintas, aku seperti mengenal sosok laki-laki itu. Tapi aku lupa dan tidak yakin apakah itu benar dia atau bukan. Beberapa menit kemudian Bapak keluar dan menghampiri lelaki itu. Bapak mengajaknya masuk ke ruang tamu. Seperti biasa, aku tidak boleh terlibat pembicaraan orang dewasa. Akupun hanya mengikuti dari ruang keluarga sambil menonton TV. Merekapun terlibat pembicaraan yang sepertinya asyik sekali karena seringkali diiringi gelak tawa. Sesekali aku mencuri pandang ke arah lelaki setengah baya itu. "Kayak kenal," batinku. "Tapi siapa ya..?" Entahlah... Setengah jam berlalu. Lelaki itu berpamitan dan pulang sambil meninggalkan rantang yang terlihat berat itu. Bapak dan Ibupun masuk ke ruang makan lalu memanggil aku dan adik-adikku. "Nih, dapet rejeki bubur ayam dari Pak Sabar," kata Bapak "Pak Sabar? Siapa tuh Pak?" tanya adikku mendahuluiku. "Tamu Bapak tadi..." "Oh, baik ya Pak. Pagi-pagi gini udah kasih kita bubur ayam. Emang Bapak kenal dimana? Kayaknya gak pernah kesini sebelumnya," cerocosku sambil memindahkan bubur ayam itu ke mangkok yang sudah ada ditanganku. "Loh, kamu gak kenal? Pak Sabar itu pengemis yang dulu suka kamu kasih uang itu..." "Hah, beneran Pak? Masak sih? Ooooohhh pantes, kok tadi itu kayak kenal ama wajahnya... Ternyata..." --- Hari itu, saat Bapak bicara dengan pengemis itu, Bapak memberikan masukan agar dia tidak mengemis dan memintanya untuk berwirausaha. Tidak hanya wejangan kata-kata, tetapi Bapak juga akan memberikan modal untuk usaha. Pak Sabar, pengemis itu bilang mau. Dia bisa bikin bubur ayam dan akan memulai usaha sebagai tukang bubur ayam. "Nah, kamu lihat sendiri. Bapak gak marah kan? Lihatlah Kak Pak Subur dulu dan sekarang. Dulu dia berkeliling kampung dengan tangan tengadah keatas meminta belas kasihan orang. Sekarang dia berkeliling kampung menawarkan bubur ayam buatannya dan nyatanya, mampu memberi kita bubur ayam yang enak ini ke kita... Lebih mulia mana pekerjaannya? Yang dulu atau sekarang?" tanya Bapak padaku. Aku tak bisa berkata-kata. Hanya memberikan sinyal persetujuan bahwa aku salah menduga tentang apa yang Bapak lakukan ke Pak Sabar. Aku berjalan kearah Bapak dan memeluknya... "Kakak minta maaf Pak... Bapak yang lebih mulia.. Aku bangga punya ayah seperti Bapak..." kataku dalam hati... o0O0o sumber: sebuah majalah (lupa namanya) saat aku kecil yang ceritanya masih nempel dikepala

KONTEN MENARIK LAINNYA
x