Mohon tunggu...
abdul rakan
abdul rakan Mohon Tunggu... Apoteker • Hipnoterapis

Menyenangi dunia pengembangan diri, penyembuhan energi, dan literasi.

Selanjutnya

Tutup

Karir

Kejanggalan Mekanisme Penerimaan Tenaga Non PNS di RSUD Cilincing

8 Juli 2019   06:41 Diperbarui: 8 Juli 2019   06:51 2660 3 1 Mohon Tunggu...

Setelah pengumuman lolos berkas dan TPA dari Dinkes Jakarta, saya mendapat pesan bahwa saya berhak mengikuti tes lanjutan di RSUD Cilincing. Pesan tersebut terkirim melalui whatsapp pada pukul 23.59, tanggal 25 Juni 2019. Isi pesannya adalah bahwa dari tanggal 26-28 Juni 2019 saya berhak mengikuti test lanjutan, di mana tanggal 26-27 Juni 2019 merupakan skill tes, tanggal 28 Juni 2019 adalah sesi wawancara.

Tanggal 26 Juni 2019, saya tiba sekitar pukul 07.30 di RSUD Cilincing untuk mengikuti tes. Sebagai informasi, saya memasukkan berkas lamaran untuk formasi Apoteker. Setelah melalui tahapan absen dan cek keaslian berkas, baru diketahui bahwa calon tenaga apoteker yang hadir hari itu ada empat orang. Tiga orang perempuan, sebut saja namanya A, B, C. Satu lagi saya sendiri.

Setelah sesi tes kepribadian dengan soal 50 butir, selama kurang lebih satu jam, kemudian masing-masing formasi diarahkan ke unit terkait. Saya dan ketiga perempuan tadi diarahkan ke bagian instalasi farmasi yang ada di lantai satu dengan diantar salah satu karyawan RSUD tersebut.

Sesampainya di instalasi farmasi, kami dipersilakan masuk. Di dalam sudah ada beberapa orang: Ada apoteker dan beberapa orang tenaga teknis kefarmasian. Selang beberapa menit masuk seorang ibu-ibu, belakangan diketahui ia adalah penanggungjawab farmasi. 

Oleh beliau kami diberi tugas. Saya diutus ke bagian gudang. Saya mengikuti arahan ibu tersebut dengan diantar apoteker bagian gudang. Ketiga perempuan tadi, ada yang ditempatkan di unit paru, rawat inap, dan rawat jalan.

Di gudang, saya merasa tidak dites, tapi malah diminta membantu stock opname. Segala hal yang berkaitan dengan tes, pertanyaan tugas dan fungsi apoteker di RS, terlebih di bagian gudang, tidak ditanyakan. Saya hanya diminta menginput stock obat ke sistem, kemudian ditinggalkan seorang diri di gudang obat.

Sekira jam 12.00 kami selesai, kami pun berkumpul kembali di unit farmasi rawat jalan. Besoknya, ibu penanggung jawab menginstruksikan agar besok datang seperti biasa untuk tes lanjutan. Saya siap hadir. Ternyata ketiga perempuam tadi, A, B, C, tidak bisa hadir di hari kedua dengan berbagai alasan. 

Pihak RS mengizinkan dan boleh ganti hari. Tadinya mau ke hari senin, tapi karena salah satu dan lain hal, pihak RS mengizinkan ganti di hari jum'at dengan cara menambah jam tes sampai sore, sekitar pukul 17.00.

Hari kedua tes, yakni tanggal 27 Juni 2019. Seperti biasa saya datang pagi, sebelum pukul 08.00. Tiga perempuam yang hari pertama hadir, yakni A, B, C, ternyata tidak hadir. Saya berpikir bahwa saya seorang diri. Ternyata tidak, ada tiga perempuan lagi, sebut saja D, E, F, yang baru datang di hari kedua. 

Katanya, mereka baru dikabari semalam. Karena ketiga orang yang baru datang ini belum test kepribadian, hari kedua tes dianggap hari pertama. Mereka melakukan tes kepribadian dan dicek keaslian berkas.

Ketiga perempuan yang baru datang ini tampak kikuk, akhirnya saya berinisiatif untuk mengajak mereka ke unit farmasi. Sesampainya di unit, beberapa petugas kebingungan, mengingat tiga orang perempuan yang masuk beda dengan ketiga perempuan yang kemarin. Tapi akhirnya kami tetap dibagi tugas, skill tes katanya. 

Kami pun ditempatkan di bagian terpisah. Karena saya sudah di bagian gudang, maka hari kedua saya ditempatkan di bagian rawat inap. Dan lagi-lagi saya merasa dites terkait tugas apoteker dalam hal pelayanan klinis, tapi semacam bimbingan biasa.

Hari kedua ini kami dijadwalkan sampai jam 14.00. Berhubung hari sebelumnya saya sudah "dilempar" ke gudang, maka hari kedua saya diarahkan ke rawat inap. Saya diantar ke bagian rawat inap oleh salah satu petugas farmasi. Sesampainya di unit rawat inap, saya tidak dites secara menyeluruh mengenai tugas dan fungsi apoteker di rawat inap, tapi hanya diminta mengisi beberapa form SOAP dan Rekonsiliasi Obat. 

Selebihnya saya ditinggal. Yang sedikit mengesalkan ketika hendak mengisi form SOAP, beberapa perawat terus menagih berkas rekam medis yang saya gunakan sebagai rujukan. Akibatnya, ada data hasil lab yang belum lengkap saya tulis.

Selesai mengerjakan tugas di rawat inap, sekitar pukul 11.50 saya turun kembali ke bagian rawat jalan. Saya serahkan form yang sudah terisi. Pukul 12.00 saya diizinkan istirahat, untuk kemudian masuk lagi di pukul 13.00. Tiga orang rekan saya, D, E dan F, sudah kembali ke unit rawat jalan, mereka pun diizinkan beristirahat.

Pukul 13.00 kami masuk kembali. Ada pembagian tugas lagi. Kali ini saya ditempatkan di pelayanan rawat jalan. Saya melayani pasien seperti biasa. Dispensing obat, membaca resep, dan pemberian informasi obat. Tidak ada masalah. Ini memang sudah rutinitas saya. Lagi asyik pelayanan, lantas saya diminta stok obat injeksi oleh penanggu jawab farmasi rawat jalan. Saya ikuti arahannya. Ketika sedang asyik menyetok, iseng saya tanya penanggung jawab, "Bu, kalau yang kemarin  tiga orang datang dan sekarang tidak hadir itu bakal mempengaruhi penilaiankah?". 

Ia menjawab, "Oh ya pasti. Itu juga sebagai penilaian seberapa jauh komitmen mereka untuk bekerja di sini. Kita hanya mencari yang siap kerja di sini." Mendengar jawaban itu hati saya sedikit berbunga. Sampai akhirnya pukul 14.00, kami diizinkan pulang.

Hari ketiga, hari terakhir, tanggal 28 Juni 2019: Jadwal wawancara; Hari penentuan. Selepas briefing kita dilepas ke unit masing-masing untuk menunggu sesi wawancara. A, B, C, D, E, F datang semua. Yang mengagetkan ternyata masih ada tambahan dua peserta yang baru datang di hari ketiga, G dan H, keduanya perempuan lagi. Artinya, total peserta calon tenaga apoteker menjadi sembilan orang. 

Saya, laki-laki sendiri, dan delapan orang perempuan. Dari semua peserta, yang mengikuti serangkaian proses full tiga hari hanya saya. A, B, C, hanya hadir hari pertama dan ketiga. D, E, F, hanya hadir hari kedua dan ketiga. 

G dan H, baru hadir di hari ketiga. Untuk G dan H, sebetulnya mereka tidak ada yang mengabari bahwa mereka lanjut tes di RSUD Cilincing. Mereka proaktif mencari info setelah tahu mereka lulus TPA di web dinas kesehatan Jakarta.

Secara prosedur, harusnya yang berhak mengikuti sesi wawancara di hari ketiga hanya saya, karena saya sudah melengkapi hari dan serangkaian proses. Artinya, yang belum genap mengikuti tes harus melengkapi hari dahulu. Tetapi di luar dugaan, delapan orang yang belum lengkap mengikuti rangkaian tes pun langsung diikutsertakan dalam sesi wawancara. 

Termasuk yang baru datang di hari ketiga tadi. Wawancara sendiri nyatanya baru dilaksanakan pukul 14.00. Selama menunggu, kita bersembilan dioper sana-sini seperti bola pingpong. Saya dioper ke gudang; ke bagian paru, rawat jalan. Yang bikin ngenes, saya diminta ngangkat-ngangkat kardus. Tes apa ini? Kebugaran?

Jam 14.00 kami ber-sembilan diminta ke ruang sekretariat di lantai 8 untuk wawancara. Yang mewawancarai ternyata kasatpel seorang, tidak ditemani yang lain. Penunjang medis sendiri pulang di saat sesi wawancara sedang berlangsung. Saya adalah yang pertama dipanggil wawancara. Pertanyaannya seputar pengalaman kerja dan motivasi. 

Ternyata tidak sampai 15 menit. Saya pun diminta untuk memanggilkan peserta kedua. Dan yang dipanggil adalah si A, ia adalah peserta yang hari kedua tidak datang.

Sementara si A diwawancara, saya tidak langsung pulang, melainkan bergabung dulu dengan ketujuh orang yang masih menunggu.  Ternyata si A pun tidak lama diwawancara, ia langsung pulang tanpa bergabung dulu dengan teman yang lain. Peserta ketiga yang dipanggil wawancara adalah D, ia adalah peserta yang hari pertama tidak datang. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN