Mohon tunggu...
RAJA YOSUAPANGESTU
RAJA YOSUAPANGESTU Mohon Tunggu... Masih belajar menulis

Menulis untuk kemajuan bangsa

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan

Berkebun di Lahan Sempit untuk Menciptakan Ketahanan Pangan di Era Pandemi Covid-19

9 Agustus 2020   10:46 Diperbarui: 9 Agustus 2020   10:34 23 0 0 Mohon Tunggu...

Kabupaten Jember adalah kabupaten di Provinsi Jawa Timur, Indonesia yang beribu kota di Jember. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Probolinggo dan Kabupaten Bondowoso di utara, Kabupaten Banyuwangi di timur, Samudera Hindia di selatan, dan Kabupaten Lumajang di barat. 

Kabupaten Jember terdiri dari 31 kecamatan. Kabupaten Jember terletak di wilayah Tapal Kuda, Jawa Timur.Sumbersari adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kecamatan Sumbersari adalah pusat pendidikan kabupaten Jember. SMAN 1 Jember, SMAN 2 Jember, dan Universitas Jember contoh segelintir dari beberapa lembaga pendidikan di kecamatan Sumbersari.

Berdasarkan data BPS ( Badan Pusat Statsistika ) yang dapat dilihat di laman web jemberkab.bps.go.id menunjukkan bahwa terjadi inflasi per Juni 2020 sebesar 0,30persen. Komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi adalah daging ayam ras, nasi dengan lauk, telur ayam ras, ongkos laundry, dan bawang merah. Naiknya harga beberapa barang membuat masyarakat kesulitan di era pandemi ini sehingga harus memutar otak untuk mengatasi perekonomian.

Salah satu Kepala Pengawasan yang bekerja di Kelurahan Sumbersari mengatakan bahwasanya masyarakat Sumbersari kebanyakan bekerja di bidang jasa yang memakan banyak waktu di kantor, bukan berarti upah mereka cukup untuk membiayai kehidupan sehari-hari terutama di era pandemi ini beberapa karyawan gajinya terpaksa dipotong bahkan terkena PHK. 

Salah satu cara yang dilakukan oleh Bapak Isla adalah dengan berkebun di lahan yang sempit di pekarangan rumahnya, memanfaatkan areal kosong di pekarangan mungkin cara yang tepat seiring mendapatkan uang tambahan untuk memenuhi kebutuhan sehari - hari. 

Saat menemui Bapak Isla yang merupakan pemilik lahan untuk melakukan pendalaman terkait budiaya sawi ternyata mitra masih menggunakan bahan-bahan kimia yang akan berdampak terhadap keberlanjutan ekologi di lahan tersebut selain dapat merusak tanah juga hasil yang didapat tidak memilki nutrisi yang kompleks dibandingkan menggunakan bahan organik.

Berdasarkan dari hal tersebut, adanya KKN Back To Village ini menjadi salah satu kesempatan bagi penulis untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat untuk menciptakan suatu produk pertanian yang bermutu dan memiliki kualitas terbaik. Rancangan program yang akan saya tulis sendiri terdiri dari lima minggu. 

Pada minggu pertama penulis akan melakukan observasi permasalahan dari hulu hingga hilir budidaya sawi tujuannya adalah untuk mengetahui bagian-bagian mana saja yang sekiranya dapat diperbaiki dan diberikan inovasi untuk mengembangkan produk, minggu kedua yaitu pengenalan terkait teknik dan budidaya sawi organik ,mulai dari pengolahan lahan hingga masa panen hal-hal terkait teknik dalam budiaya sawi. 

Pada minggu ketiga adalah pelatihan dalam pembuatan pupuk dan pestisida organik mulai dari bahan apa saja yang diperlukan dalam pembuatan. Minggu keempat adalah minggu dimana pengenalan terkait hama yang dapat menyerang tanamn sawi serta teknik pengendaliannya. 

Minggu kelima pengenalan terkait penyakit yang menyerang tanaman sawi dam teknik pengendaliannya. kita sudah dapat melihat hasil tanaman sawi organik dan siap untuk dipasarkan dengan harga yang lebih mahal dibandingkan sawi biasa. Setelah melakukan berbagai kegiatan tersebut tidak lupa untuk melakukan evaluasi agar inovasi ini berkesinambungan. Harapannya dengan adanya KKN Back To Village ini dapat memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat untuk selalu membuka pikiran bahwasanya berkebun itu mudah dan mengasyikkan serta memiliki keuntungan tersendiri bagi yang melakukan. (Raja Yosua Pangestu/KKN43/DPL: drg. Rendra Chriestedy Prasetya, M.DSc)

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x