Raja Ibadiyasysyakur
Raja Ibadiyasysyakur mahasiswa

Pencarian akan makna kehidupan yang akan terus berjalan sampai pada saatnya menemukan sebuah pencapaian.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Kepercayaan Menyelesaikan Masalah Melalui Kearifan Lokal Budaya

12 Januari 2018   18:39 Diperbarui: 12 Januari 2018   18:49 178 0 0
Kepercayaan Menyelesaikan Masalah Melalui Kearifan Lokal Budaya
Dokumentasi Pribadi

 Peneitian ini bertujuan untuk menguak tentang keunikan sebuah budaya yang masih ada sampai sekarang di Prov. Aceh, dan di percaya bisa menyelesaikan konflik. Budaya ini sudah ada sejak dahulu dan dilakukan sampai sekarang oleh masyarakat Aceh karena isi dari budaya ini berdampak positif dan sesuai dengan ajaran islam yang mayoritas di anut oleh masyarakat Aceh. 

Pesijuksendiri bisa di artikan dengan 'pendingin', dingin disini dimaksudkan adalah meredamkan masalah yang sedang ada agar tari silaturahmi antar individu atau kelompot tidak terputus. Keunikan ini bisa di teliti karena memang Pesijukbisa menjadi sebuah mediasi untuk menyelesaikan masalah tanpa harus melibatkan jalur hukum. 

Bukan mengabaikan ketentuan melalui jalur hukum, namun kepercayaan yang telah ada bisa mengikat masyarakat Aceh untuk menyelesaikan masalah melaului jalur ini. Prosesi adat ini hanya menggunakan bahan yang di dapatkan dari alam seperti beras, padi, dedaunan, serta air. 

Dalam budaya Pesijukdibutuhkan pihak ketiga sebagai penengah dari masalah, yang bisanya di percaya adalah ustad atau kiayi yang ada pada sebuah desa atau kecamatan.  

Hal yang di sayangkan adalah budaya ini mulai luntur pada masyarakat kota dikarenakan perkembangan zaman, kepercayaan terhadap budaya pesijuk juga semakin menurun karena mengingat dari beberapa prosesinya tidak masuk akal jika di katakan bisa menyelesaikan masalah. Namun tidak sepenuhnya hilang karena masih ada kepercayaan dari masyarakat yang menganggap menyelesaikan masalah melalui budaya Pesijuklebih efektif dibandingkan jalur hukum.

Kata kunci : Pesijuk, budaya, kepercayaan, masalah.

Indonesia adalah bangsa besar yang memiliki keragaman budaya. Setiap budaya memiliki kearifan-kearifan tersendiri dalam menyikapi permasalahan hidup yang dihadapi, termasuk di dalamnya kearifan dalam menyelesaikan konflik. 

Kearifan lokal dapat diartikan sebagai segenap pandangan atau ajaran hidup, petuah-petuah, pepatah-pepatah, dan nilai-nilai tradisi yang hidup dan dihormati, diamalkan oleh masyarakat baik yang memiliki sanksi adat maupun yang tidak memiliki sanksi. 

Hampir setiap komunitas masyarakat memiliki kearifan lokal tersendiri dalam menyelesaikan konflik. Menurut Azyumardi Azra bahwa kearifan lokal tersebut dapat dijadikan sebagai mekanisme sosio-kultural yang terdapat dalam tradisi masyarakat Indonesia.

 Tradisi tersebut diyakini dan telah terbukti sebagai sarana yang ampuh menggalang persaudaraan dan solidaritas antar warga yang telah melembaga dan mengkristal  dalam tatanan sosial dan budaya (Azyumardi 2002)

Namun, pada masyarakat kota khususnya, nama kearifan lokal sudah memudar seiring berkembangnya zaman. Padahal, kearifan lokal patutlah dijaga meskipun era telah beralih ke zaman yang lebih moderen. 

Salah satunya tradisi dalam menyelesaikan konflik adalah Peusijuk. Peusijukmerupakan bentuk aktifitas adat dan budaya yang dimulai dari menepungtawari pihak-pihak yang terlibat dalam konflik dan sengketa(dispute).

Setelah dilakukan Peusijukdiakhiri sesi Peumat jaroeyang bermakna saling berjabat tangan. Di kalangan masyarakat Aceh, tradisi ini masih eksis dikalangan masyarakat Aceh. Namun dalam penyelesaian konflik, masyarakat banyak yang tidak mengetahui bahwa ternyata Peusijuk dapat dijadikan jalan utama dan perantara dalam menyelesaikan konflik yang ada dan bahkan lebih efektif dibandingkan dengan jalur hokum.

METODE

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Pendekatan kualitatif adalah suatu proses penelitian dan pemahaman yang berdasarkan pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah manusia. 

Pada pendekatan ini, peneliti membuat suatu gambaran kompleks, meneliti kata-kata, laporan terinci dari pandangan responden dan melakukan studi pada situasi yang alami. Penelitian kualitatif dilakukan pada kondisi ilmiah. 

Dalam penelitian kualitatif, peneliti adalah instrument kunci. Oleh karena itu, peneliti harus memiliki bekal teori dan wawasan yang luas, berani bertanya, menganalisis dan merekonstruksi obyek yang diteliti menjadi lebih jelas.

Penelitian ini lebih menekankan pada makna dan nilai. Menurut Bogdan dan Taylor (1992: 21-22) penelitian kualitaif digunakan jika masalah belum jelas, untuk mengetahui makna yang tersembunyi, untuk memahami interaksi sosial, untuk mengembangkan teori, unuk memastikan kebenaran data, dan meneliti sejarah perkembangan.

PEMBAHASAN

Beberapa pakar sejarah Aceh menyebutkan bahwa Peusijuk merupakan salah satu peninggalan kebudayaan Hindu. Sejak masuknya Islam ke daratan Aceh, sebagian kebiasaan atau adat masyarakat Aceh yang dianggap tidak bertentangan dengan Islam masih dilestarikan dan diperbolehkan oleh para ulama pada zaman awal Islam di Aceh. 

Sebagian praktik-praktik animisme dan ajaran Hindu juga masih diizinkan untuk dipraktikkan dengan mengubah ritual-ritual tersebut sesuai dengan ajaran Islam, misalnya jika dulu Peusijuk menggunakan jampi-jampi atau mantra.  

Maka sekarang berbeda, jampi atau mantra tersebut  digantikan dengan membacakan doa keselamatan dan keberkahan dan ditujukan untuk orang yang akan dipeusijuk.

Secara makna yang lebih luas, Peusijuk adalah sebuah prosesi yang dilakukkan pada kegiatan-kegiatan tertentu dalam kehidupan masyarakat Aceh, seperti Peusijuk pada kenduri perkawinan, kenduri sunatan, saat ada seseorang yang hendak berangkat haji, Peusijuk kurban (yang dipeusijukadalah hewan kurban), dan berbagai upacara lainnya yang sering terjadi dalam masyarakat Aceh. 

Peusijuk bukan hanya dilakukan pada saat-saat upacara tertentu saja. Ada juga Peusijukyang dilakukan setelah terjadinya perdamaian antara dua atau beberapa orang yang sebelumnya bertikai, Peusijuk pada perempuan yang baru saja bercerai, Peusijukpada orang yang baru saja beroleh keberuntungan seperti lulus kuliah, diterima kerja di suatu tempat, memperoleh kedudukan tinggi dalam pemerintahan dan masyarakat.

Peusijuk Meulangga

Apabila terjadi perselisihan di antara penduduk, misalnya antara A dan B ataupun antara penduduk gampongA dengan penduduk gampongB serta perselisihan ini mengakibatkan keluar darah, maka setelah diadakan perdamaian dilakukan peusijuk. 

Peusijuk ini sering disebut dengan peusijuk meulangga. Pada upacara itu juga sering diberikan uang, yang disebut sayam yang jumlahnya menurut kesepakatan. Apabila perselisihan terjadi seperti tersebut di atas, tetapi tidak mengeluarkan darah, misalnya perkelahian, perdamaian dan upacara peusijuk dilakukan juga tetapi tidak diberikan uang.

Bahan-bahan yang digunakan dalam peusijukberbeda-beda menurut kegiatan peusijuk yang dilakukan. Bahan yang sering digunakan antara lain: (1) Dedaunan dan rerumputan, melambangkan keharmonisan, keindahan, dan kerukunan dan diikat menjadi satu sebagai lambang dari kekuatan, (2) Beras dan padi, melambangkan kesuburan kemakmuran, dan semangat, (3) Air dan tepung melambangkan kesabaran dan ketenangan, (4) Nasi ketan, sebagai pelekat, lambang persaudaraan.

Menurut ahli sejarawan untuk peusijuk yang fungsinya menyelesaikan konflik biasanya bahan yang digunakan untuk Peusijuk diantaranya: (1) Rumput aceh, memiliki makna kerena akarnya yang kuat dilambangkan sebagai persaudaraan yang erat, (2) Pinang muda, memiliki makna pendirian yang kokoh, (3) On sinejuek, memiliki arti daun pendingin maksudnya digunakan dalam perseteruan antara dua belah pihak yang bertikai dan daun ini memiliki makna pendingin hati, (4) Daun pandan, karena memiliki bau yang wangi biasanya dimaknai sebagai pengharum nama kedua belah pihak yang bertikai agar tidak mengulangi konflik yang telah diperbuat, (5) Bunga mawar, biasanya harus ganji penggunaannya misalkan 5 tangkai atau 7 tangkai, sebab adat, memiliki makna keharmonisan dalam kehidupan, (6) Daun talas, memiliki makna perdamaian dan ketentraman, (7) On manek-manomengandung makna bahwa sesuai dengan deretan bunga diharapkan digalang persatuan dan kesatuan serta keteraturan,(8) Daun pacar, memiliki makna bentuk kasih sayang terhadap satu sama lain, (9) Padi dan beras, melambangkan persaudaraan dan perdamaian.

Peusijukmerupakan bentuk aktivitas adat dan budaya yang melekat pada masyarakatAceh.. Peusijukberartimenepungtawari pihak-pihak yang terlibat dalam konflik dan sengketa dalam upacara adat. Setelah dilakukan peusijuk, diakhir akan dilakukan sesi peumat jaroeyang bermakna saling berjabat tangan. 

Kedua institusi ini memegang peranan penting dalam menjalin rasa persaudaraan antara para pihak yang  bersengketa. Masyarakat Aceh menganggap belum sempurna penyelesaian konflik tanpa ada prosesi peusijukdan kemudian diakhiri peumat jaroe

Oleh karenanya dalam proses peumat jaroe, ada pihak yang menfasilitasi mengucapkan kata-kata khusus seperti "Masalah ini cukup disini dan jangan diperpanjang lagi, bersalaman ini diharapkan menjadi awal dari jalinan silaturrahmi antara anda berdua".

Hal yang   sangat  tepat  jika  menyelesaikan konflik dengan  menggunakan  adat atau kearifan lokal  karena selama ini sudah membudaya dalam masyarakat. Selain itu kearifan lokal adalah suatu yang sudah mengakar dan biasanya tidak hanya berorientasibentuk  semata, tetapi juga berorientasi sakral sehingga pelaksanaannya dapat lebih cepat dan mudah diterima oleh masyarakat. 

Dengan kearifan lokal iniresolusi konflik dapat cepat terwujud dan diterima semua kelompok sehingga tidak ada lagi konflik laten yang tersembunyi dalam masyarakat.

Peusijuk memiliki segudang makna yang sangat menjunjung tinggi makna kerukunan dan kehidupan. Peusijuk juga menjadi perantara dalam mempererat persaudaraan. 

Tiap langkah dan gerakan dalam Peusijukmemilki tarikat yang memiliki rahasia tersendiri diantaranya, gerakan melempar beras sebagai tanda kedamaian, lalu menyijuksebagai isyarat bahwa segala masalah segera dilupakan, memakan Pulotatau beras ketan yang dicampur kelapa yang sudah diberi gula merah bisa juga disebut bu leukat sebagai persaudaraan adalah yang paling utama. Jadi tak heran apabila segala konflik mampu diselesaikan oleh adat yang sederhana ini.

Hasil data penelitian

Dari pertanyaan pertama, 8 responden memilih Ya, 8 responden memilih Jarangdan 4 lainnya memilih Tidak. Dari pertanyaan kedua, hampir seluruh responden memilih Ya dengan total 15 responden, lalu 3 orang memilihJarang, 1 memilih Ragu-ragudan sisanya memilih Tidak. Dari pertanyaan ketiga, 6 responden memilih Ya, 8 responden memilih Jarang, 3 responden memilih Ragu-ragu dan 3 lainnya memilih Tidak. Dari pertanyaan keempat, 19 responden menanggapi Ya, dan 1 lannya memilih Jarang. Dari pertanyaan kelima, 3 responden memilih Ya, 5 responden memilih Jarang, dan 8 responden memilih Ragu-ragu 8 lainnya memilih Tidak. Dari pertanyaan keenam, sebanyak 14 responden memilih Ya, 4 menjawab Jarang, 1 menjawab Ragu-ragu dan sisanya memilih Tidak. Dari pertanyaan terakhir, sebanyak 2 responden memilih Ya, 5 responden memilih Jarang, 4 responden menjawab Ragu-ragu dan 9 responden memilih Tidak.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Berdasarkan hasil uraian diatas, penulis dapat menarik kesimpulan bahwa tradisi Peusijuk  merupakan salah satu kearifan lokal di Aceh yang masih ada hingga saat ini. Tradisi ini bergerak dalam menyelesaikan konflik ringan bahkan konflik berkelanjutan. Tradisi Peusijuktelah ada sejak zaman kesultanan Aceh dan hingga sekarang tradisi Peusijuk masih terasa kental dikalangan masyarakat.

Didalam tradisi Peusijukini, kedua belah pihak yang sedang berseteru akan dirundingkan dengan cara musyawarah, lalu kedua belah pihak akan membicarakan bagaimana masalah tersebut dapat diselesaikan. 

Maka dengan tradisi inilah masyarakat Aceh menyelesaikan konflik. Selain itu kedua belah pihak akan disungguhkan dengan sebuah Pulot kunengatau Pulut kuning, tujuannya agar persaudaraan kembali seperti semula sebelum pertikaian terjadi. 

Tidak sembarang orang dapat mempeusijukorang yang sedang dilanda konflik, salah satu orang yang dapat mempeusijukadalah petua adat, sebab didalam adat ini terdapat bacaan-bacaan doa yang nantinya ditujukan kepada orang yang bertikai. Dan diakhiri dengan sesi Peumat jaroeatau berjabat tangan.

Saran

Kesadaran merupakan faktor utama dalam menjaga kearifan lokal. Apabila dari kalangan masyarakat tidak memiliki rasa kesadaran, maka tidak hanya kearifan lokal yang dengan sendirinya akan menghilang secara perlahan, program pemerintah juga tidak berjalan dengan baik apabila masyarakat tidak memiliki kesadaran dari diri masing-masing. Maka kita sebagai warga Negara Indonesia harus dengan senantiasa menjaga dengan baik budaya dan kearifan lokal demi kesatuan

DAFTAR PUSTAKA

Azra,Azyumardi.Reposisi Hubungan Agama dan Negara: Merajut Kerukunan Antarumat. Jakarta: Kompas, 2002.

Bogdan, Robert C. Dan Steven J. Taylor, 1992, Introduction to Qualitative Research Methotds : A Phenomenological Approach in the Social Sciences, alih bahasa Arief Furchan, John Wiley dan Sons, Surabaya, Usaha Nasional.

Raja ibadiyasysyakur

Prodi S1 Psikologi

 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Email: rajaibadiyasysyakur@gmail.com, 082219775615