Mohon tunggu...
Raiders Salomon Marpaung
Raiders Salomon Marpaung Mohon Tunggu... Guru

Nama :Drs. Raiders Salomon Marpaung, MM. Alamat :Jl. Toram I No. 5, Jakarta 11820 Tempat, tanggal lahir :Bandung, 18 April 1962 Status : Menikah Pekerjaan: Guru/Dosen

Selanjutnya

Tutup

Bulutangkis Pilihan

Indonesia Lolos ke Final Piala Sudirman 2019, Mungkinkah?

25 Mei 2019   13:40 Diperbarui: 25 Mei 2019   15:48 0 1 0 Mohon Tunggu...
Indonesia Lolos ke Final Piala Sudirman 2019, Mungkinkah?
bulutangkis-94-5ce8e0836b07c533b7699763.jpg

                                                                                                       (Dokumentasi:bwfsudirmancup.bwfbadminton.com)

Hari ini Sabtu (25/5/2019), Indonesia yang merupakan unggulan 3/4 harus menjalani pertarungan hidup mati melawan Jepang sebagai unggulan kedua di babak semi final kejuaraan dunia beregu campuran Piala Sudirman 2019. Berdasarkan unggulan, keberadaan kedua negara ini di babak semi final memang masih on the track, artinya masih sesuai dengan perhitungan.

Kedua tim tentunya sama-sama berharap untuk lolos ke babak final, begitu juga dengan tim Indonesia. Begitu banyak yang menaruh harapan yang disampaikan melalui Susy Susanti selaku Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres) PBSI yang juga menjabat sebagai Manajer Tim Indonesia di Piala Sudirman 2019. Bahkan Menpora Imam Nahrawi menyematkan harapan besar kepada tim bulutangkis Indonesia di kejuaraan beregu campuran Piala Sudirman 2019.

Faktanya saat ini Jepang lebih di jagokan pada pertarungan semi final ini mengingat secara skuat Jepang secara head to head di atas Tim Indonesia. Bahkan legenda bulutangkis nasional, Rudy Hartono tidak yakin dengan peluang Indonesia menjuarai Piala Sudirman 2019.

Fakta lain, untuk lolos ke semi final saja Indonesia berjuang dengan susah payah, setelah terseok-seok untuk lolos dari penyisihan group, di perempat final harus memainkan lima partai pula sebelum memastkan kemenangan 3-2 atas Chinese Taipei kemarin, Jumat (24/5/2019). Sementara itu Jepang tampil sangat meyakinkan, tak terkalahkan di penyisihan group, di perempat final Kento Momota dan kawan-kawan melaju mulus ke semi final setelah menaklukkan Malaysia dengan skor telak 3-0.

Usaha mengembalikan supremasi Indonesia di Piala Sudirman 2019 tidaklah mudah, selain persaingan yang semakin ketat, skuat Indonesia saat ini belum cukup superior dibandingkan Jepang dan China yang merupakan unggulan kedua dan pertama.

Namun kita jangan putus asa, mengingat kita 30 tahun yang lalu pernah menjadi juara pada saat pertama di gelar di Jakarta pada tahun 1989 yang lalu, setelah mengalahkan Korea Selatan dengan skor 3-2. Selain pernah menjadi juara, Indonesia juga meraih enam kali runner-up dan enam kali semifinalis. Sementara itu Jepang tidak pernah menjadi juara dan baru satu kali menjadi runner-up.

Pertemuan Indonesia melawan Jepang pada Piala Sudirman 2019 ini merupakan untuk yang ketiga kalinya. Sebelumnya, Indonesia melawan Jepang pernah bertemu dua kali pada penyelenggaraan Piala Sudirman 2009 dan 2011. Indonesia mampu memenangkan kedua pertarungan tersebbut. Pada tahun 2009 Jepang kalah telak 1-4 dari Indonesia pada pertemuan di penyisihan group. Dua tahun kemudian (2011), Indonesia dan Jepang kembali bertemu. Kali itu pada babak perempat final, saat itu Indonesia kembali menang, namun dengan skor tipis 3-2 untuk mengamankan tiket ke semifinal.

Delapan tahun kemudian (2019), Indonesia dan Jepang kembali bertemu. Kali ini pada babak semifinal. Uniknya, ada dua pemain Indonesia dari tim Piala Sudirman 2011 yang bertanding melawan Jepang saat itu dan kini masih ada di tim Piala Sudirman 2019. Mereka adalah Greysia Polii dan Mohammad Ahsan yang merupakan penyumbang poin kemenangan bagi Indonesia bersama pasangannya masing-masing saat itu.

Mungkinkah Indonesia kembali memenangi pertarungan mengulangi kesuksesan dua pertarungan sebelumnya untuk mengamankan tiket ke final? Jawabannya adalah mungkin, asalkan tim Indonesia yang terdiri dari manager tim, tim pelatih dan para pemain, mampu menemukan kelemahan lawan dan mengantisipasinya dengan kekuatan kta. Dan itu diawali dengan kemampuan strategi dalam pemilihan dan penyusunan pemain yang akan dimainkan.

Berikut ini adalah alternatif susunan pemain tim Indonesia menghadapi pertarungannya melawan Jepang. Di sektor ganda putra, Indonesia mampu leluasa memilih diantara dua pasangan tangguh yang punya kemampuan seimbang Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon dan Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan, saya meyakini Indonesia mampu meraih 1 poin dari ganda putra.

Berikutnya di sektor tunggal putri, Indonesia sulit untuk meraih point, namun demikian Gregoria Mariska Tunjung kembali harus diturunkan karena punya catatan yang sedikit lebih baik dari Fitriani di Piala Sudirman kali ini dengan prestasi satu kali menang dan satu kali kalah di bandingkan Fitriani yang punya catatan satu kali kalah.

Selanjutnya di sektor tunggal putra, Indonesia juga sulit untuk meraih point, namun demikian Anthony Sinisuka Ginting boleh diberi kesempatan kembali diturunkan. Anthony punya catatan yang sedikit lebih baik dari Jonatan Christie di Piala Sudirman kali ini dengan prestasi satu kali menang dan satu kali kalah. Sementara Jonatan Christie punya catatan satu kali kalah apalagi kekalahan tersebut secara di luar dugaan menyerah kepada Chou Tien Chen dua set langsung dengan skor telak.

Di sektor ganda putri peluang fifty-fifty, Indonesia tidak punya pilihan lain selain pasangan Greysia Polii/Apriyani Rahayu yang belum terkalahkan dari tiga penampilannya di Piala Sudirman tahun ini. Semoga tren positif ini mampu dilanjutkan pada saat menghadapi pasangan Jepang yang selalu menampilkan pasangan yang berbeda saat menghadapi Rusia, Thailand dan Malaysia.  

 Terakhir di sektor ganda campuran Indonesia berpeluang meraih point, pasangan Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti layak ditunkan karena punya catatan yang lebih baik dari pasangan Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja di Piala Sudirman kali ini dengan prestasi satu kali menang dan satu kali kalah di bandingkan pasangan Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja yang punya catatan satu kali kalah. Di samping itu, pasangan Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti punya catatan yang lebih baik dalam menghadapi pasangan ganda campuran Jepang.

Berdasarkan gambaran analisis di atas, peluang Indonesia dan Jepang untuk lolos ke final masih fifty-fifty. Untuk itu diperlukan saling mendukung satu sama lain, kerja keras dan usaha mati-matian untuk meraih tiket ke final.

Semoga pemain Indonesia mampu tampil lebih baik sehingga melaju sampai ke babak akhir menghadapi China yang di semifinal lainnya berhasil mengalahkan Thailand dengan skor 3-0. Selamat berjuang !!