Mohon tunggu...
Rahmat Thayib
Rahmat Thayib Mohon Tunggu... Sekadar bersikap, berharap tuna silap.

Sekadar bersikap, berharap tuna silap. Kumpulan tulisan saya: http://rahmathayib.blogspot.co.id/

Selanjutnya

Tutup

Politik

AHY Lulus Ujian Patriotisme, Bagaimana dengan Para Seniornya?

21 Mei 2019   02:27 Diperbarui: 21 Mei 2019   02:35 0 2 0 Mohon Tunggu...
AHY Lulus Ujian Patriotisme, Bagaimana dengan Para Seniornya?
AHY menyampaikan pidato kekalahan di Pilgub DKI Jakarta 2017 (beritatagar)

Saya masih amat ingat sore itu; sore usai pemungutan suara Pilkada DKI Jakarta. Meskipun belum ada pengumuman resmi KPU, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) secara ksatria mengakui kekalahannya dalam kompetisi politik di ibu kota Indonesia. Atas nama pribadi, dan pasangan cawagubnya Sylviana Murni, AHY mengucapkan terima kasih dan mohon maaf karena belum sukses memenuhi harapan pendukungnya.

Hasil Pilkada itu sebenarnya tidak terlalu mengecewakan. Meskipu dibully sebagai "anak ingusan", AHY-Sylvi sempat jadi pemuncak survei-survei politik. Kampanye ala AHY-Sylvi menjadi tren yang diadopsi oleh banyak paslon pilkada di daerah-daerah lain. AHY effect menular ke seantero nusantara.

Ketika itu, sebagai pendatang baru dalam jagad politik nusantara, perolehan 17 % suara AHY-Sylvi pun tidak terlalu mengecewakan. Tanpa bermaksud mengecilkan para politisi senior, pencapaian itu jauh lebih besar ketimbang Alex Noedin-Nono Sampono (4,67%) atau Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini (11,72%) di Pilkada Jakarta 2012.

Tapi terus terang, saya termasuk yang berduka sore itu. Kenapa kok AHY langsung nyerah? Padahal, saya yakin ada tangan-tangan jahat yang meninju AHY dari segala penjuru. Aktor-aktor lama silih-berganti nongol, bahkan residivis kasus pembunuhan, untuk menjegal perjuangan kami. Lagipula, masih ada ruang di Bawaslu dan MK untuk melanjutkan perjuangan.

Alih-alih, pidato kekalahan AHY malah disampaikan secara tenang, terang, tulus dan bernas. Tak ada provokasi menolak hasil Pilkada. Tidak ada rencana geruduk sana-sini, apalagi menyalahkan pihak-pihak lain. AHY mengajak kami menerima kekalahan ini secara terbuka dan lapangan dada. Kami kalah, tapi kalah dengan terhormat. Sometime we win sometime we learn, demikian pesan AHY yang saya ingat.

Belakangan saya paham kalau keputusan AHY itu bukan serampangan. Malahan, itu keputusan yang amat bijak. Situasi DKI Jakarta, bahkan menyebar ke seantero Nusantara, sedang panas-panasnya. Ada aksi jutaan massa berjilid-jilid dari kedua poros. Bibit perpecahan bangsa akibat fanatisme politik, politik identitas sampai hoaks sedang gila-gilaan kala itu. Terlalu naif bila AHY menyiram bensin dalam kebakaran itu.

Sejak hari itu saya paham kalau "anak ingusan" ini sudah lulus ujian kebangsaan. Sisi patriotime seorang AHY sukses menyintas godaan berkuasa dengan menghalalkan segala cara. Pilkada DKI Jakarta adalah kawah candradimuka yang menempa AHY menjadi calon pemimpin masa depan bangsa ini.

Dan sebulan terakhir ini, AHY sudah membuktikannya. AHY menyerukan rekonsiliasi di tengah dua poros yang saling hajar-menghajar. Dengan sadar AHY melawan arus utama. AHY muncul berulang-ulang, dan berulang-ulang pula karakternya ditikam. Meskipun berdarah-darah, AHY tetap teguh menempuh jalan patriotisme. AHY mengorbankan diri untuk kepentingan yang lebih besar, yakni mengendurkan ketegangan politik yang merusak jalinan persatuan bangsa.

Dua kali sudah "anak ingusan" ini menjawab panggilan ibu pertiwi. Bagaimana dengan seniornya: Jokowi-Ma'ruf Amin serta Prabowo-Sandiaga? Apakah mereka akan lulus ujian sejarah Pilpres 2019?

Ya, rekapitulasi suara tingkat nasional untuk Pilpres 2019 sudah rampung. Dari 34 provinsi di Indonesia, nyata sudah kalau perolehan suara paslon 01 lebih unggul dari 02. Tapi keunggulan ini masih bersifat sementara. Mahkamah Konstitusi punya wewenang untuk mengubah hasil rekapitulasi suara tersebut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x