Mohon tunggu...
Abd Rahmat Dharma
Abd Rahmat Dharma Mohon Tunggu... Mahasiswa Ekonomi

Merawat nalar dengan membaca, mengembangkannya dengan menulis.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Saya Bukan Menantu Idaman Karena Bukan PNS

23 Desember 2019   23:05 Diperbarui: 23 Desember 2019   23:27 170 3 2 Mohon Tunggu...

Di penghujung tahun 2019 ini pemerintah resmi membuka pendaftaran Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Sejumlah formasi di berbagai lembaga dan kementrian telah diumumkan. Dan tentu saja PNS masih profesi yang diburu oleh masyarakat dari berbagai latar belakang mulai dari lulusan perguruan tinggi hingga lulusan SMA/SMK sederajat, dengan usia 18 tahun hingga 35 tahun. 

Ini terbukti dengan jumlah pendaftar yang telah mencapai 2,3 juta orang setelah seminggu pendaftaran dibuka oleh Kemenpan RB. Lantas kenapa PNS masih saja menjadi sebuah profesi yang di idam-idamkan hingga saat ini ? Saya sebagai penulis mendapati berbagai pertanyaan tentang alasan kenapa tidak ikut serta dalam pendaftaran CPNS. 

Pertanyaan ini tentu saja datang dari keluarga dan juga teman-teman lainnya. Hingga para masyarakat telah meracuni pikiran orangtua saya dengan ucapan, "anaknya si A udah sukses sekarang udah jadi PNS" lantas saya berpikir apakah tolok ukur sukses harus menjadi PNS. 

Dan orang tua saya dan mungkin orangtua yang lain pun hingga termakan pernyataan dogmatis seperti itu. Pernyataan tersebut terlontar tentu saja karena anggapan PNS masih menjadi sebuah profesi yang di dewa kan oleh sebagian masyarakat sehingga pendaftaran CPNS sangat sayang untuk dilewatkan, karena menjadi PNS merupakan pekerjaan tetap dengan bayaran perbulan yang  menjamin masa depan ditambah lagi seragam yang anda gunakan akan mengangkat status sosial di masyarakat. 

Stigma seperti ini sudah terbentuk jauh dari puluhan tahun yang lalu, bahkan pernah ada ucapan "mental Londo" jika anda berpikiran menjadi PNS. Memang pada era kolonial menjadi pejabat negara tidak  dapat emban oleh sembarangan orang, jabatan itu hanya bisa di emban oleh mereka yang berkulit putih (londo) atau pribumi keturunan bangsawan. 

Itu penyebab kenapa pejabat negara menjadi profesi yang sangat di dewa kan pada saat itu dan hingga kini masih saja stigma seperti itu mewaris dan melekat dengan kita. Karena hingga kini anggapan bahwa menjadi seorang pejabat negara atau PNS akan mengangkat derajat serta status sosial anda dan akan menjadi idaman para wanita terlebih lagi mertua. 

Padahal saat ini bukan lagi era kolonial, melainkan era modern atau yang sering disebut dengan era revolusi industri 4.0 dimana banyaknya kesempatan dan peluang baru untuk berkarier mulai dari perusahaan multinasional, menjadi pengusaha industri kreatif, content creator, menjadi youtuber dll tergantung dengan minat bakat dan potensi yang anda dimiliki, yang kemungkinan pendapatannya akan jauh lebih besar ketimbang menjadi PNS. 

Tetapi tetap saja memiliki pekerjaan pada bidang swasta seperti itu jarang sekali atau bahkan tidak akan mengangkat status sosial anda karena stigma masyarakat yang masih melekat. Hingga saat ini saya menolak untuk mengikuti seleksi CPNS yang telah dibuka. Banyak teman-teman seperjuangan saya yang biasanya sangat senang sekali mengkritik pemerintah tetapi juga menjadi orang yang paling semangat saat mendaftar CPNS. 

Memang benar anggapan bahwa generasi sekarang ini generasi yang hanya senang mengkritik dibanding mencari solusi. Dan mereka berdalih solusi atas permasalahan sosial yang ada hanya bisa diselesaikan jika mereka sudah berada didalam sistem birokrasi tersebut. Tetapi ada sebuah "Laten Birokrasi" yang menjadi sebuah penyakit, seperti kebanyakan dari mereka yang sudah duduk atau menjabat sebagai seorang birokrat akan merasa nyaman dengan jabatan yang di emban. 

Karena tanpa perlu memikirkan solusi pada permasalahan sosial masyarakat mereka pun akan tetap mendapat bayaran disetiap bulannya inilah Laten Birokrasi. Hingga kini menjadi PNS bukanlah passion bagi jiwa saya yang menyukai kebebasan karena banyaknya aturan yang mengikat saat menjadi ASN. 

Terlebih lagi menjadi PNS adalah kerja tanpa tantangan besar, misalnya saya tidak perlu bekerja lebih giat karena dengan bekerja secara santai dan biasa-biasa saja saya juga akan tetap dibayar. Berbeda dengan pekerjaan swasta, dimana penuh tantangan saat saya tidak bekerja lebih baik dan giat jangankan bayaran yang jadi ancamannya, pekerjaan pun akan jadi ancaman dan digantikan oleh siapa saja yang dianggap lebih baik. Itulah kenapa saya mengatakan PNS bukanlah pekerjaan penuh tantangan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x