Mohon tunggu...
Rahman Wahid
Rahman Wahid Mohon Tunggu... Menggapai cita dan melampauinya

Menggapai cita dan melampauinya

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Artikel Utama

Ngobrol Pakai Bahasa Daerah Itu Perlu, tapi Was-was

4 Januari 2020   18:11 Diperbarui: 5 Januari 2020   15:49 717 8 2 Mohon Tunggu...
Ngobrol Pakai Bahasa Daerah Itu Perlu, tapi Was-was
ilustrasi berbahasa dengan orang lain. (sumber: Palto via kompas.com)

Indonesia memang unik. Ia terdiri dari beragam budaya yang ada dan dari kekayaan itu pula membuat negara ini memiliki keragaman bahasa, adat, rumah, dan pakaian khas yang berbeda-beda.

Apalagi soal bahasa, setiap daerah hampir memiliki bahasa khasnya masing-masing, misalnya saja di Sumatera ada bahasa Minang, Melayu, dan Batak. 

Bahkan, dalam satu daerah yang sama saja bahasanya bisa sama namun berbeda ragam pengucapan, misalnya bahasa sunda Bogor, Cianjur, dan Bandung.

Memiliki keragaman bahasa seperti jelas merupakan sebuah keniscayaan. Namun sayangnya, belakangan ini tren penggunaan bahasa daerah mulai redup.

Bahasa daerah mulai dipandang katro dan tidak menarik. Apalagi kalangan muda saat ini begitu mendewakan bahasa luar atau setidaknya bahasa Indonesia. Memang prestise dari bahasa luar seperti Inggris menjadi kompetensi penting terutama dalam pekerjaan dan pendidikan.

Ketenaran bahasa Inggris membuat citra bahasa daerah menjadi buruk. Ia dianggap kurang bernilai guna dalam menjalani kehidupan di masa sekarang. 

Saking kurang populernya, bahasa daerah dalam pendidikan dasar sampai menengah atas hanya dijadikan muatan lokal saja. Pamornya jelas kalah jauh oleh bahasa Indonesia, apalagi Inggris.

Hal lain yang menjadi turunnya pamor bahasa daerah adalah soal ketakutan menggunakannya. Hal ini pernah dikatakan oleh Ajip Rosidi tentang masa depan budaya, khususnya budaya daerah.

Para generasi muda ketakutan menggunakan bahasa daerah, apalagi ketika berbicara dengan yang lebih tua, karena takut salah mengucapkan, takut tidak sopan, dan takut kata yang digunakan tidak sesuai.

Inilah yang dikenal dalam bahasa sunda sebagai "undak usuk basa" atau tingkatan bahasa, mulai dari bahasa untuk diri sendiri, umum, dan orang tua. Singkatnya bahasa sopan, normal, dan kasar.

ilustrasi pedesaan. (Sumber foto: Pixabay/jpeter2)
ilustrasi pedesaan. (Sumber foto: Pixabay/jpeter2)
Khususnya soal tingkatan bahasa, ini yang menurut Ajip membuat generasi muda mulai meninggalkan bahasa daerah, ia melihat banyak kasus anak muda yang sedang belajar bahasa daerah dimarahi oleh mereka yang tua atau masyarakat karena tidak menggunakan bahasa yang sepantasnya. 

Cara pembelajaran bahasa yang menyalahkan inilah penyebab bahasa daerah pantang untuk diucapkan di muka umum, apalagi dihadapan para orang tua.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN